Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Adopsi EV Bisa Jadi Solusi di Tengah Ancaman Lonjakan Harga Minyak

Adopsi EV Bisa Jadi Solusi di Tengah Ancaman Lonjakan Harga Minyak
Pemudik pengguna kendaraan listrik sedang melakukan pengisian daya di SPKLU Rest Area Tol km 87A. (Dok. PLN UID Lampung).
Intinya Sih
  • Adopsi kendaraan listrik dinilai strategis untuk menekan ketergantungan impor minyak dan mengurangi beban subsidi energi yang membengkak akibat lonjakan harga minyak dunia.
  • Kendaraan listrik menawarkan efisiensi tinggi dengan biaya operasional lebih hemat hingga 70 persen, berpotensi menghemat sekitar 3 juta kiloliter BBM per tahun dari kombinasi mobil dan motor listrik.
  • Elektrifikasi transportasi diproyeksikan memberi efek berganda bagi ekonomi nasional, termasuk penguatan industri baterai, peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta menjaga ketahanan fiskal dan energi Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) disebut bisa menjadi langkah strategis untuk meredam tekanan lonjakan harga minyak global terhadap APBN dengan menekan ketergantungan Indonesia pada impor minyak.

"Kendaraan listrik menjadi solusi jangka panjang karena mampu mengurangi konsumsi BBM secara signifikan. Selain menekan impor, peralihan ke listrik juga membantu mengurangi kebutuhan subsidi BBM yang selama ini sebagian besar dinikmati oleh sektor transportasi," ujar pengamat otomotif, Martinus Pasaribu dalam keterangan resminya, Minggu (29/3/2026).

Untuk diketahui, saat ini sekitar 60–70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari impor, sedangkan lifting minyak domestik terus menurun dan berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat APBN sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, terutama di tengah eskalasi konflik geopolitik seperti di Selat Hormuz.

Adapun dalam asumsi makro APBN, kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga sekitar Rp8–Rp10 triliun.

Dengan realisasi harga minyak dunia yang dapat menembus 90–100 dolar AS per barel, total belanja subsidi energi berpotensi kembali membengkak mendekati atau bahkan melampaui Rp300 triliun per tahun, seperti yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

1. Kendaraan listrik lebih efisien

Kendaraan listrik roda dua merek ALVA (IDN Times/Ayu Afria)
Kendaraan listrik roda dua merek ALVA (IDN Times/Ayu Afria)

Dari sisi efisiensi, Martunis menegaskan kendaraan listrik jauh lebih hemat. Biaya energi kendaraan listrik rata-rata hanya sekitar Rp300–500 per kilometer, dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang bisa mencapai Rp1.000–1.500 per kilometer, tergantung jenis kendaraan dan harga BBM.

Itu berarti, kata Martinus, terdapat potensi penghematan biaya operasional hingga 60–70 persen bagi pengguna.

“Diperkirakan, penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun, sementara 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter,” ujarnya.

Jika dikonversi, total penghematan sekitar 3 juta kiloliter BBM per tahun yang berasal dari kombinasi penggunaan 1 juta mobil listrik dan 5 juta motor listrik atau setara dengan pengurangan impor minyak dalam jumlah signifikan.

2. Elektrifikasi memberikan efek berganda

IMG-20251217-WA0012.jpg
Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum. (IDN Times/Daruwaskita)

Dengan asumsi harga minyak global berada di kisaran 90–100 dolar AS per barel dan kurs rupiah saat ini, pengurangan impor tersebut dapat menghemat devisa sekitar Rp30–Rp40 triliun per tahun.

Selain itu, berkurangnya konsumsi BBM domestik juga berpotensi menekan beban subsidi dan kompensasi energi yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam belanja negara, sehingga ruang fiskal pemerintah dapat lebih difokuskan pada sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

"Lebih jauh, elektrifikasi transportasi juga memberikan efek ganda (multiplier effect), mulai dari penguatan industri baterai dalam negeri, peningkatan investasi, hingga penciptaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan energi bersih," kata Martinus.

3. Percepatan adopsi kendaraan listrik

Mobil listrik sedang mengisi daya.
ilustrasi kendaraan listrik (pixabay.com/Pixaline)

Untuk itu, Martinus mendorong pemerintah mempercepat adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan yang terintegrasi. Hal itu mulai dari insentif fiskal, pembangunan infrastruktur pengisian daya (SPKLU), hingga penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional.

“Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global,” tutur Martinus.

Share
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More