Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Alasan Konsumen Rela Membayar Lebih Mahal untuk Merek yang Sama

4 min read
3 Alasan Konsumen Rela Membayar Lebih Mahal untuk Merek yang Sama
ilustrasi tas branded (Pexels.com/Denys Mikhalevych)
  • Konsumen bersedia membayar harga premium karena merek membangun persepsi kualitas dan mengurangi risiko, terutama melalui pengalaman positif serta kepercayaan pada produk.
  • Pengalaman konsisten, layanan, desain, dan komunikasi merek dapat menciptakan kedekatan emosional, kredibilitas, serta kenyamanan yang membuat konsumen enggan beralih ke pilihan lebih murah.
  • Merek juga memiliki nilai simbolis yang terkait gaya hidup, status, nilai, dan citra diri; harga premium mencerminkan nilai tambahan yang dirasakan, bukan otomatis kualitas teknis tertinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Apakah kamu pernah membandingkan dua produk yang fungsinya hampir sama, tetapi harganya bisa berbeda jauh? Misalnya, dua botol minum sama-sama bisa digunakan untuk membawa air. Atau dua pasang sepatu sama-sama bisa dipakai berjalan. Namun, salah satunya dijual dengan harga beberapa kali lipat hanya karena memiliki merek tertentu. Menariknya, tetap ada konsumen yang bersedia membayar lebih mahal.

Dalam ekonomi dan pemasaran, kondisi ini dikenal sebagai willingness to pay a price premium, yaitu kesediaan konsumen membayar harga lebih tinggi untuk suatu merek dibandingkan alternatif lainnya. Ada hubungan antara brand equity dan kesediaan konsumen membayar harga premium.

Lantas, kenapa konsumen mau mengeluarkan uang lebih banyak untuk produk yang secara fungsi terlihat mirip?

  1. 1. Merek membuat produk terasa lebih berkualitas

    ilustrasi jam tangan branded (Pexels.com/Thilina Alagiyawanna)
    ilustrasi jam tangan branded (Pexels.com/Thilina Alagiyawanna)

    Salah satu alasan konsumen bersedia membayar lebih adalah persepsi terhadap kualitas. Ketika seseorang sudah mengenal sebuah merek dan memiliki pengalaman positif terhadap produknya, mereka mungkin merasa lebih yakin bahwa produk tersebut akan bekerja sesuai harapan.

    Misalnya, seseorang membutuhkan sepatu untuk olahraga. Ada dua produk dengan spesifikasi yang terlihat serupa. Salah satunya berasal dari merek yang sudah dikenal dan pernah digunakan sebelumnya, sedangkan yang lain berasal dari merek yang belum pernah dicoba. Konsumen mungkin memilih produk yang lebih mahal karena merasa risikonya lebih kecil.

    Padahal, sebelum mencoba keduanya secara langsung, konsumen belum tentu bisa memastikan bahwa produk yang lebih mahal memang memiliki kualitas beberapa kali lipat lebih baik. Di sinilah brand equity berperan. Brand equity dapat memengaruhi kesediaan konsumen membayar harga premium. Dengan kata lain, konsumen tidak selalu hanya membeli produknya. Mereka juga membeli keyakinan terhadap produk tersebut.

  2. 2. Ada pengalaman dan emosi yang melekat pada merek

    ilustrasi belanja online (Pexels.com/Marcial Comeron)
    ilustrasi belanja online (Pexels.com/Marcial Comeron)

    Pernah merasa nyaman menggunakan merek tertentu sehingga malas mencoba merek lain? Itu bisa terjadi karena pengalaman konsumen terhadap sebuah merek tidak berhenti pada fungsi produk.

    Cara sebuah merek mendesain produk, memberikan layanan, berkomunikasi dengan pelanggan, hingga menciptakan pengalaman saat membeli dapat membentuk hubungan emosional dengan konsumen. Ketika pengalaman tersebut positif dan konsisten, konsumen bisa merasa lebih dekat dengan merek tersebut.

    Pengalaman terhadap merek dapat meningkatkan kesediaan konsumen membayar harga premium. Pengaruh tersebut antara lain berkaitan dengan kredibilitas merek dan persepsi bahwa merek tersebut memiliki keunikan tertentu.

    Misalnya, seseorang sudah bertahun-tahun menggunakan merek sepatu tertentu. Ia tahu ukurannya, menyukai desainnya, merasa nyaman dengan produknya, dan percaya terhadap kualitas layanan merek tersebut. Ketika ada produk serupa dari merek lain dengan harga lebih murah, belum tentu ia langsung berpindah. Bagi konsumen tersebut, selisih harga bukan hanya soal produk. Ada pengalaman yang sudah terbentuk.

  3. 3. Merek bisa menjadi bagian dari identitas konsumen

    ilustrasi belanja barang branded (Pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi belanja barang branded (Pexels.com/cottonbro studio)

    Ada kalanya seseorang membeli sebuah merek bukan hanya karena produknya bagus, tetapi karena merek tersebut sesuai dengan citra diri yang ingin ditampilkan. Misalnya, seseorang memilih merek tertentu karena dianggap merepresentasikan gaya hidup, selera, status, atau nilai yang ingin diasosiasikan dengannya. Dalam kondisi seperti ini, merek memiliki nilai simbolis.

    Kesesuaian antara citra merek dan konsep diri konsumen dapat berkaitan dengan brand pride, yang kemudian berhubungan dengan kesediaan membayar harga premium. Hal ini menjelaskan mengapa dua produk dengan fungsi serupa bisa memiliki harga yang sangat berbeda dan tetap memiliki pembeli masing-masing.

    Kesediaan konsumen membayar lebih mahal tidak otomatis membuktikan bahwa produk tersebut memiliki kualitas teknis yang lebih tinggi daripada semua pesaingnya. Harga premium lebih tepat dipahami sebagai kesediaan konsumen membayar nilai tambahan yang mereka rasakan dari sebuah merek.

    Jadi, ketika seseorang memilih produk yang lebih mahal meski ada alternatif yang lebih murah, keputusan tersebut tidak selalu berarti ia sekadar ingin membayar lebih. Bisa jadi, harga tambahan tersebut merupakan harga yang bersedia ia bayar untuk mendapatkan sesuatu yang menurutnya tidak diberikan oleh produk lain. Sebab, dalam bisnis, konsumen tidak selalu membeli barang berdasarkan fungsi. Mereka juga membeli kualitas yang dipercaya, pengalaman yang dirasakan, dan makna yang melekat pada sebuah merek.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More