Arab Saudi Ungkap Temuan 110 Juta Ton Bijih Uranium di Madinah

- Arab Saudi menemukan potensi 110 juta ton bijih uranium dan mineral tanah jarang di proyek Jabal Sayid, Madinah, yang diumumkan Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman di Wina.
- Kadar uranium murni, tingkat pemulihan, dan biaya pengembangan belum diungkap, sehingga kelayakan produksi komersial dari temuan tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut.
- Temuan ini muncul saat Arab Saudi memperkuat kerja sama energi dan pertambangan dengan AS, termasuk studi fasilitas pengayaan serta kolaborasi Ma’aden dan MP Materials.
Jakarta, IDN Times – Arab Saudi menemukan cadangan bijih uranium dan mineral tanah jarang dalam jumlah raksasa di wilayah Madinah, dengan potensi mencapai 110 juta ton bijih. Temuan penting di proyek Jabal Sayid ini disampaikan oleh Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, saat menghadiri Konferensi Umum ke-70 Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina.
Pemerintah Arab Saudi menilai potensi ini bisa menjadikan Jabal Sayid sebagai salah satu lokasi pengembangan mineral tanah jarang terpenting di dunia. Arab News mengutip pernyataan Pangeran Abdulaziz terkait langkah eksplorasi dan studi ekstraksi uranium dari produk sampingan pupuk. Namun, laporan Mining mencatat bahwa pihak kerajaan belum membeberkan kadar pasti maupun perkiraan jumlah uranium murni di lokasi tersebut.
Oleh karena itu, tingkat pemulihan material hingga kalkulasi biaya pengembangan masih harus dikaji untuk memastikan kelayakan produksi secara komersial.
1. Arab Saudi perkuat kerja sama nuklir dengan AS

ilustrasi area nuklir (pexels.com/Dan Meyers) Penemuan cadangan ini mengemuka di tengah makin eratnya kemitraan energi sipil antara Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS), setelah kedua negara menyepakati perjanjian bilateral bernilai miliaran dolar pada Juli lalu. Wall Street Journal melaporkan bahwa kesepakatan tersebut mencakup klausul studi kelayakan bagi perusahaan AS yang ingin membangun fasilitas pengayaan uranium di wilayah Arab Saudi.
Langkah kerja sama ini kian diperkuat lewat penyusunan kerangka keamanan rantai pasokan mineral saat Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, berkunjung ke AS pada November tahun lalu, dengan Pangeran Abdulaziz menegaskan bahwa kapasitas pertambangan nasional terus dipacu lewat penguatan sektor domestik dan kemitraan internasional. Mengutip Al Arabiya TV, salah satu bentuk kolaborasi konkret itu melibatkan perusahaan pertambangan Arab Saudi, Ma’aden, bersama perusahaan asal AS, MP Materials, untuk memproses serta memisahkan mineral tanah jarang dan uranium.
2. AS perluas kemitraan komersial dengan Arab Saudi

ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto) Menteri Energi AS, Chris Wright menyampaikan bahwa rangkaian kesepakatan tersebut dinilai menjadi pijakan penting dalam mempererat hubungan ekonomi kedua negara
"Kesepakatan-kesepakatan ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara kita untuk memperkuat hubungan komersial AS-Arab Saudi, menyampaikan kemakmuran di dalam negeri dan keamanan bagi sekutu kita di luar negeri," kata Wright, dikutip The National News.
Hubungan strategis yang menyokong sektor pertambangan Arab Saudi ini juga terus berkembang lewat keterlibatan negara-negara Barat lainnya.
Pada periode yang sama, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, melakukan kunjungan bersejarah ke Arab Saudi sebagai pemimpin Kanada pertama yang datang dalam 26 tahun terakhir. Kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan bisnis bernilai lebih dari 710 juta dolar AS (sekitar Rp12,47 triliun) guna memperluas jangkauan perdagangan dan investasi kedua negara di sektor pertambangan serta energi.
3. Arab Saudi kejar kemandirian siklus bahan bakar nuklir

ilustrasi bendera Arab Saudi (pexels.com/Engin Akyurt) Melalui inisiatif survei lapisan sedimen, Arab Saudi terus melanjutkan perburuannya untuk mengeksplorasi tambahan bijih uranium dari sumber-sumber konvensional. Langkah ini berpotensi memberi kerajaan pijakan baru dalam menguasai tahapan siklus uranium, meskipun nilai ekonomis dari temuan di Madinah tersebut masih belum bisa dipastikan.
Minimnya keterbukaan informasi mengenai kadar pasti uranium dalam bijih membuat kemampuan deposit itu untuk memenuhi kebutuhan energi domestik secara ekonomis masih menjadi pertanyaan. Faktor konsentrasi, karakteristik mineral, tingkat pemulihan, hingga estimasi biaya operasional tetap menjadi penentu utama apakah temuan raksasa ini nantinya benar-benar bisa masuk ke tahap produksi skala industri.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















