Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Setujui Penjualan Jet F-35 ke Saudi Senilai Rp431 Triliun

3 min read
Trump Setujui Penjualan Jet F-35 ke Saudi Senilai Rp431 Triliun
jet tempur F-35 (U.S. Air Force photo/Senior Airman Julius Delos Reyes, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Pemerintahan Donald Trump menyetujui usulan penjualan 48 jet F-35 senilai Rp431,32 triliun kepada Arab Saudi, yang kini menunggu persetujuan resmi Kongres AS.
  • Washington menyatakan transaksi ini memperkuat pertahanan Riyadh tanpa mengubah keseimbangan kawasan, di tengah eskalasi konflik Saudi-Houthi di Yaman dan klaim penembakan jet F-15.
  • Rencana penjualan memicu penolakan di parlemen AS karena kekhawatiran teknologi F-35 diakses China, sementara Arab Saudi memperluas kerja sama pertahanan dengan Pakistan dan Turki.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyetujui usulan penjualan 48 unit jet tempur F-35 kepada Arab Saudi dengan nilai mencapai 24,3 miliar dolar AS atau setara Rp431,32 triliun (kurs Rp17.750). Pengumuman penjualan alutsista canggih ini disampaikan oleh Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (17/9/2026) dan saat ini sedang menunggu persetujuan resmi dari Kongres AS.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan pasokan alutsista tersebut ditujukan untuk memperkuat pertahanan Riyadh sebagai sekutu utama non-NATO di kawasan Teluk. Langkah pertahanan ini diumumkan ketika tensi keamanan kawasan Timur Tengah kembali memanas menyusul eskalasi konflik antara pasukan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.

  1. 1. Menjaga kemitraan pertahanan dan keunggulan militer

    jet tempur F-35
    jet tempur F-35 (Todd Cromar, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Pemerintah AS memastikan bahwa kesepakatan penjualan pesawat siluman tersebut tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah. Penegasan ini mengacu pada kebijakan lama Washington yang berkomitmen menjaga keunggulan kualitatif militer Israel atas negara-negara lain di kawasan tersebut. Hingga saat ini, Israel menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang mengoperasikan F-35 dan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait keputusan AS tersebut.

    Departemen Luar Negeri AS menegaskan transaksi persenjataan strategis ini sejalan dengan kepentingan nasional Washington. “Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk,” sebut Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan resminya.

    Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington menyambut baik rencana tersebut dan menilai kerja sama pertahanan kedua negara telah berkontribusi besar terhadap stabilitas kawasan selama berdekade-dekade. Dilansir The National News, kesepakatan pengadaan 48 jet tempur ini menyusul pembicaraan bilateral saat Putra Mahkota Mohammed bin Salman berkunjung ke Washington sepuluh bulan sebelumnya.

  2. 2. Eskalasi serangan dan klaim penembakan jet tempur

    Pasukan Houthi
    Pasukan Houthi (Henry Ridgwell, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Lampu hijau dari Washington muncul di tengah berkecamuknya pertempuran antara pasukan koalisi pimpinan Riyadh dan milisi Houthi asal Yaman. Sebagaimana dilansir Al Jazeera, kelompok Houthi mengklaim telah menembak jatuh jet tempur F-15 milik Arab Saudi di atas wilayah Marib pada Rabu (16/9/2026). Kelompok tersebut menayangkan rekaman video bangkai pesawat yang terbakar serta mengklaim penembakan dilakukan menggunakan rudal darat ke udara buatan lokal.

    Selama konflik berlangsung, militer Arab Saudi sangat bergantung pada keunggulan armada udara untuk melancarkan serangan terhadap kelompok yang disokong Iran tersebut. Selain eskalasi saling serang yang dilaporkan menewaskan sedikitnya lima orang pada Kamis (17/9/2026), milisi Houthi kini telah menguasai seluruh pesisir barat Yaman yang membuka akses ke Laut Merah dan Selat Bab Al Mandeb.

    Riyadh sebelumnya telah berupaya meminta Washington agar mengambil keterlibatan militer yang lebih langsung dalam konflik menghadapi Houthi. Kendati demikian, pemerintah AS menyatakan tidak akan melakukan intervensi militer secara langsung dalam perseteruan bersenjata di Yaman tersebut.

  3. 3. Kekhawatiran spionase dan poros pertahanan baru

    jet tempur F-35
    jet tempur F-35 (U.S. Air Force, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Rencana penjualan jet generasi kelima ini memicu tentangan di parlemen AS terkait risiko keamanan teknologi rahasia militer. Para analis intelijen AS mengkhawatirkan kemungkinan Beijing dapat mengakses teknologi sensitif F-35 melalui hubungan kemitraan bilateral dengan Arab Saudi.

    Anggota Komite Intelijen DPR AS dari Partai Demokrat, Raja Krishnamoorthi, menyuarakan penolakan keras terhadap rencana transaksi pertahanan tersebut. Dia menegaskan kesepakatan tidak boleh dilanjutkan “ketika komunitas intelijen kita sendiri memperingatkan bahwa hal itu dapat menempatkan permata mahkota teknologi militer Amerika dalam jangkauan Partai Komunis China”.

    Di tengah dinamika hubungannya dengan Washington, Arab Saudi pada bulan lalu menandatangani pakta pertahanan bersama bernama Perjanjian Makkah bersama Pakistan dan Turki. Kesepakatan trilateral tersebut memperlihatkan upaya Riyadh untuk memperluas skema pertahanan bersama agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan militer AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More