ilustrasi bendera Kanada (pexels.com/Jared VanderMeer)
Juru bicara Menteri Hubungan Dagang Kanada-AS Dominic LeBlanc, Gabriel Brunet, menegaskan sikap pemerintah Kanada menghadapi kebijakan proteksionisme tersebut. "Fokus inti kami adalah pada apa yang dapat kami kendalikan: membangun kekuatan di dalam negeri, mendiversifikasi kemitraan kami di luar negeri, dan membangun Kanada yang kuat bagi seluruh warga Kanada," tutur Brunet. Pemerintahan Carney juga menyambut baik prospek Kanada menjadi anggota rekanan pertama di Uni Eropa dan mencatat kemajuan baik dalam perundingan dagang dengan India yang ditargetkan selesai menjelang KTT G20 pertengahan Desember. Langkah ini sejalan dengan target Carney untuk melipatgandakan perdagangan non-AS dalam satu dekade ke depan.
Dilansir Al Jazeera, guru besar School of Business Wayne State University Gary Shields menilai dampak larangan impor ini tergolong minim dibanding total perdagangan bilateral tahunan yang mencapai 880 miliar dolar AS atau setara Rp15.759,92 triliun. "Dampaknya akan kecil, ini hanya 1 miliar dolar AS sementara kita berdagang ratusan miliar dengan Kanada," ucap Shields. Dia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan aksi saling balas yang bersifat personal untuk menunjukkan ketegasan.
Berdasarkan data Statistics Canada, perekonomian Kanada diperkirakan tumbuh 0,2 persen pada Agustus 2026 setelah tidak berubah pada Juli. Namun, ekonom senior Oxford Economics Michael Davenport memproyeksikan kombinasi tarif baru, pengetatan kondisi keuangan, dan penyusutan populasi akan melemahkan pertumbuhan pada akhir 2026 dan awal 2027. Pengacara perdagangan Patrick Childress dari Holland & Knight memperkirakan kebuntuan dagang kedua negara akan berlangsung selama berbulan-bulan.