Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang Dagang, AS Resmi Larang Impor Alkohol dan Motor Asal Kanada

5 min read
Perang Dagang, AS Resmi Larang Impor Alkohol dan Motor Asal Kanada
bendera Kanada dan Amerika Serikat (unsplash.com/Walter Martin)
  • AS melarang impor alkohol, produk sampingan susu, molase, serta motor dan moped tertentu dari Kanada sejak 29 September 2026, sebagai respons atas pembalasan tarif Ottawa.
  • Nilai barang terdampak mencapai 967 juta dolar AS pada data 2025, dengan alkohol menyumbang 87 persen; produsen mandiri Kanada dinilai paling terpukul oleh hilangnya akses pasar AS.
  • Trump optimistis kesepakatan tarif tercapai dalam beberapa pekan, tetapi Kanada menyebut kebijakan AS ilegal dan menolak perjanjian yang merugikan kepentingan domestiknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Kanada kian memanas setelah Washington resmi memberlakukan larangan impor terhadap sejumlah produk minuman beralkohol, produk sampingan susu, molase, serta sepeda motor asal Kanada. Kebijakan pembatasan impor tersebut mulai berlaku efektif pada Selasa (29/9/2026) menyusul eskalasi tarif yang terus berlanjut antara kedua negara.

Larangan ini diterapkan AS sebagai respons atas langkah pembalasan tarif oleh Kanada yang sebelumnya membalas pengenaan bea masuk oleh Washington. Kebijakan baru tersebut membuat sejumlah produsen Kanada terputus dari akses pasar AS, meski komoditas minuman beralkohol sendiri mencakup porsi yang relatif kecil dari total keseluruhan nilai perdagangan bilateral kedua negara.

  1. 1. Cakupan komoditas impor yang dilarang capai ratusan juta dolar AS

    ilustrasi bir
    ilustrasi bir (pexels.com/Lewis Ashton)

    Berdasarkan data yang dihimpun Associated Press, analis kebijakan perdagangan dari American Action Forum, Jacob Jensen, menghitung total barang yang terdampak larangan ini bernilai 967 juta dolar AS atau setara Rp17,32 triliun (kurs Rp17.909) berdasarkan data 2025. Dari total tersebut, produk minuman beralkohol mendominasi dengan kontribusi sekitar 87 persen dari nilai impor yang terdampak. Larangan terhadap minuman beralkohol ini mencakup bir, anggur, cider, wiski, vodka, hingga gin dalam kemasan.

    Selain minuman beralkohol, dokumen aturan AS juga menargetkan produk sampingan susu seperti olahan whey, serta tetes tebu atau molase. Aturan pembatasan ini turut menyasar sepeda motor dan moped berbahan bakar bensin dengan kapasitas mesin di atas 800 cc. Produsen asal Quebec, Bombardier Recreational Products, mengonfirmasi produk sepeda motor roda tiga Can-Am Spyder dan Canyon buatannya masuk dalam daftar larangan impor tersebut.

    Pihak Bombardier Recreational Products memastikan para pembeli belum akan merasakan dampak langsung hingga tahun depan karena proses manufaktur dan pengiriman musim ini sudah tuntas. Larangan impor ini dipicu respons balasan Kanada yang sebelumnya mengenakan tarif terhadap barang AS senilai 27,6 miliar dolar AS atau setara Rp494,29 triliun dengan besaran 15 hingga 50 persen. Langkah Ottawa tersebut merupakan balasan setara terhadap tarif Section 338 era Depresi Besar dari AS yang mengenakan tarif 50 persen pada barang Kanada senilai 20 miliar dolar AS atau setara Rp358,18 triliun.

  2. 2. Pukulan larangan impor dinilai paling dirasakan produsen mandiri

    ilustrasi pesawat kargo
    ilustrasi pesawat kargo (unsplash.com/Patrick Campanale)

    Pengacara perdagangan internasional dari KPMG Law, Robert Glasgow, menilai larangan impor ini akan paling merugikan pemilik bisnis perseorangan meski dampak makronya tidak tergolong masif. Larangan impor AS tersebut mengecualikan tong untuk jenis minuman keras tertentu di atas volume tertentu.

    Selain itu, tarif untuk pengiriman curah pada jenis wiski dan likuer tertentu sudah dihapuskan sejak pengetatan langkah perdagangan diumumkan awal bulan ini. Pengecualian tersebut membuat perusahaan multinasional besar yang memiliki fasilitas pengemasan dan pencampuran di kedua sisi perbatasan terhindar dari sebagian dampak larangan ini.

    "Akan ada sejumlah pabrik bir, penyulingan, dan kebun anggur—sebagian besar merupakan unit usaha mandiri yang lebih kecil dan lebih bergantung pada perdagangan serta pasar AS—yang terkena dampak signifikan," ujar Glasgow seperti dilansir CBC News.

    Kekecewaan salah satunya dirasakan pendiri tempat penyulingan Sons of Vancouver di British Columbia, James Lester, yang produk wiski wheated rye buatannya terhenti ke AS.

    "Sejujurnya, ini sedikit menyedihkan," ujar Lester yang biasanya rutin mengirim pasokan ke pasar AS.

    Biro Sensus AS mencatat nilai impor minuman keras AS dari Kanada pada 2025 mencapai 673 juta dolar AS atau setara Rp12,05 triliun, melampaui impor anggur sebesar 62,1 juta dolar AS atau setara Rp1,11 triliun dan bir senilai 19,2 juta dolar AS atau setara Rp343,85 miliar.

    Presiden asosiasi industri Spirits Canada, Cal Bricker mengatakan, sekitar 93 persen ekspor minuman keras Kanada dikirim ke AS sehingga penutupan pasar ini sangat mengkhawatirkan. Ketegangan di sektor minuman beralkohol bermula sejak sebagian besar perdana menteri provinsi di Kanada menarik botol minuman keras buatan AS dari rak toko ritel pemerintah pada Maret 2025 sebagai tanggapan atas tarif AS.

  3. 3. Pejabat AS dan Kanada beda pandangan soal penyelesaian tarif

    Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan dagang dengan pihak Kanada dapat dicapai dalam beberapa pekan ke depan.

    "Saya pikir apa yang akan terjadi adalah dalam tiga hingga empat minggu ke depan mereka akan mendatangi kita dan berkata, 'Kita akan menghapus semua tarif'," kata Trump kepada para jurnalis pada Senin (28/9/2026).

    Di sisi lain, Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menyatakan pada Jumat (25/9/2026) bahwa tidak ada urgensi dari pihak AS untuk segera menyepakati sebuah perjanjian dagang.

    Menteri Perdagangan (Mendag) Kanada Dominic LeBlanc menyebut kebijakan AS sebagai tarif ilegal dan tidak berdasar yang menimbulkan kesulitan bagi perekonomian negaranya. LeBlanc menegaskan pemerintah Kanada akan menolak kesepakatan apa pun yang dipandang tidak menguntungkan bagi kepentingan dalam negeri mereka.

    Juru bicara LeBlanc menambahkan fokus utama Ottawa tetap tertuju pada perlindungan dan dukungan bagi para pekerja, petani, keluarga, serta pelaku bisnis Kanada.

    Pengacara perdagangan di Holland & Knight sekaligus mantan pejabat perdagangan AS, Patrick Childress, memperkirakan sengketa ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Childress memaparkan bahwa pengenaan tarif 50 persen sebelumnya sebenarnya sudah membuat impor banyak barang dari Kanada tidak lagi menguntungkan secara ekonomi. Saling balas tarif ini menegaskan babak baru perselisihan dagang yang kian membebani produsen di kedua sisi perbatasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More