Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Resmi Cabut Larangan Impor Senjata Suriah

3 min read
AS Resmi Cabut Larangan Impor Senjata Suriah
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Renan Tagliaferro)
  • AS mencabut Suriah dari daftar negara terlarang impor senjata melalui amendemen ITAR, efektif 1 Oktober 2026, sehingga Suriah dapat mengimpor senjata termasuk dari AS.
  • Kementerian Luar Negeri AS juga akan kembali membuka kedutaan besar di Damaskus, sekitar 14 tahun setelah penutupan pada 2012 sebagai protes terhadap pemerintahan Bashar Al-Assad.
  • Langkah tersebut mengikuti normalisasi hubungan sejak Ahmed Al-Sharaa menjadi presiden; AS sebelumnya melonggarkan sanksi dan pada Agustus mencopot Suriah dari daftar sponsor teroris.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mencabut Suriah dari daftar negara yang dilarang untuk mengimpor senjata dari pihaknya. Keputusan yang digagas Presiden Donald Trump tersebut diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS di laman resminya pada Rabu (30/9/2026). 

Dalam pernyataannya, Kemlu AS menjelaskan pencabutan larangan impor senjata Suriah ini mulai berlaku efektif pada Kamis (01/10/2026). Kebijakan ini akan secara otomatis membuat angkatan bersenjata Suriah kini bisa mengimpor senjata dari negara mana pun untuk memperkuat pertahanan dan keamanan nasional, termasuk dari AS.

  1. 1. Kemlu AS mengubah Peraturan Lalu Lintas Senjata Internasional (ITAR)

    Gedung Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat di Washington D.C.
    Gedung Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat di Washington D.C. (flickr.com/Tony Webster via commons.wikimedia.org/Tony Webster)

    Kemlu AS menambahkan, larangan impor senjata Suriah tadi termaktub di dalam Peraturan Lalu Lintas Senjata Internasional (ITAR). Saat ini, Kemlu AS sudah mengamandemen ITAR dengan mencopot Suriah dari daftar negara yang tidak boleh mengimpor produk senjata dan alutsista dari Negeri Paman Sam. 

    Dengan kebijakan ini, hanya ada tujuh negara yang saat ini masih dilarang AS untuk mengimpor senjata dari mereka. Dilansir The New Arab, tujuh negara tersebut terdiri dari Belarus, China, Kuba, Iran, Korea Utara, Myanmar, dan Venezuela. 

  2. 2. AS akan segera membuka kedutaan besar di Damaskus Suriah

    Suasana di Ibu Kota Suriah, Damaskus.
    potret Ibu Kota Suriah, Damaskus (unsplash.com/Mahmoud Sulaiman)

    Selain pencabutan larangan impor senjata, Kemlu AS juga mengumumkan bahwa mereka akan segera membuka kedutaan besar (kedubes) di Suriah. Ini merupakan kali pertama Washington kembali membuka kedubesnya di Damaskus setelah ditutup selama kurang lebih 14 tahun. 

    Pada 2012, AS memutuskan untuk menutup kedubesnya di Suriah sebagai bentuk protes terhadap rezim eks Presiden Suriah, Bashar Al-Assad. Sebab, pada era Al-Assad, Suriah dikenal sebagai negara bengis yang kerap membantai warga negaranya sendiri. Selain itu, Suriah saat itu juga dikenal sebagai “Kandangnya” teroris karena ada banyak organisasi dan kelompok teroris yang bermarkas di sana.

  3. 3. Hubungan AS dan Suriah makin lengket

    Presiden Suriah, Ahmed Al-Sharaa (kiri), sedang bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (kanan), Donald Trump, di Gedung Putih, Washington D.C., pada 10 November 2025.
    Presiden Suriah, Ahmed Al-Sharaa (kiri), sedang bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (kanan), Donald Trump, di Gedung Putih, Washington D.C., pada 10 November 2025. (truthsocial.com/@realDonaldTrump)

    Semua kebijakan ini menunjukkan hubungan AS dan Suriah yang makin harmonis. Ini tentu berbeda dengan era Al-Assad di mana hubungan Washington dan Damaskus diwarnai banyak ketegangan dan konflik. Kedekatan hubungan antara AS dan Suriah ini sebetulnya bermula ketika Ahmed Al-Sharaa naik tahta menjadi presiden untuk menggantikan Al-Assad. Sebab, ia dikudeta dari jabatannya pada akhir 2024 silam. Pada awal 2025, Al-Sharaa lantas resmi menjadi Presiden Suriah. 

    Sejak Al-Sharaa menjabat, banyak negara yang mulai menormalisasi hubungannya dengan Suriah, termasuk AS. Sebab, Trump menganggap Al-Sharaa bisa membawa Suriah menjadi negara yang lebih sejahtera, aman, damai, dan tentram. Inilah yang lantas membuat AS mulai melonggarkan berbagai sanksi yang dahulu diterapkan ke Suriah saat masih di bawah tampuk kepemimpinan Al-Assad. 

    Pada Agustus lalu, AS juga resmi mencopot Suriah dari daftar negara sponsor teroris. Dilansir BBC, kebijakan ini diambil oleh Trump karena dirinya menganggap Al-Sharaa akan membawa Suriah menjadi negara yang aman dari kelompok teroris. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More