Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bahlil Tegaskan Pembelian BBM-LPG dari AS Tak Tambah Volume Impor

Bahlil Tegaskan Pembelian BBM-LPG dari AS Tak Tambah Volume Impor
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
  • Pemerintah Indonesia akan mengimpor minyak mentah, BBM jadi, dan LPG dari Amerika Serikat senilai 15 miliar dolar AS per tahun sebagai bagian dari perjanjian perdagangan timbal balik.
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pembelian energi dari AS tidak menambah total volume impor, melainkan mengalihkan sebagian impor dari negara Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.
  • Kebijakan ini disebut sebagai langkah bersejarah karena menjadi transaksi impor energi terbesar Indonesia sekaligus upaya menjaga keseimbangan neraca perdagangan dengan Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Indonesia dipastikan akan meningkatkan impor minyak mentah dan gas dari Amerika Serikat (AS). Nilai impor itu mencapai 15 miliar dolar AS per tahun atau setara sekitar Rp253,23 triliun. Kebijakan ini merupakan bagian dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang menetapkan tarif resiprokal 19 persen bagi sejumlah produk Indonesia ke AS.

Menanggapi hal itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pembelian BBM ini tidak menambah volume impor secara keseluruhan. Pemerintah menyiasatinya dengan menggeser sebagian volume impor, khususnya dari negara-negara Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

"15 miliar US dolar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume impor. Namun kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara, di antaranya negara dari Asia Tenggara, middle east, maupun di beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan neraca komoditas pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama, cuma kemudian kita geser," kata dia dalam jumpa pers, Jumat, 20 Februari 2026 malam.

Ia pun menegaskan, perjanjian AS dan Indonesia ini sudah dibuat secara jelas untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan.

"Kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar 15 miliar US dolar. 15 miliar dolar ini terdiri dari membeli BBM jadi, LPG, dan crude," ungkapnya.

Bahlil tak memungkiri kebijakan impor dari AS ini jadi yang paling besar dalam sejarah Indonesia.

"Sudah barang tentu, ini adalah merupakan langkah sejarah baru kita membeli dalam jumlah cukup besar," imbuh dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in Business

See More