Eropa Ingin Kurangi Impor China, tapi AC China Malah Laris Manis

- Uni Eropa berupaya mengurangi ketergantungan pada produk China dan menyeimbangkan defisit perdagangan, namun ekspor China ke Eropa terus meningkat sementara pangsa pasar produk Eropa di China menurun.
- Gelombang panas ekstrem di berbagai negara Eropa memicu lonjakan permintaan AC, membuat masyarakat berbondong-bondong membeli produk pendingin udara meski kebijakan impor sedang diperketat.
- Produsen AC asal China seperti Midea sukses memanfaatkan peluang dengan produk yang sesuai regulasi Eropa, memperkuat dominasi merek Asia di pasar dan menantang daya saing industri lokal.
Hubungan dagang antara Uni Eropa dan China kembali menjadi perhatian dunia. Uni Eropa sedang berusaha mengurangi ketergantungannya pada produk-produk asal China karena nilai impornya terus meningkat setiap tahun. Namun di saat yang sama, gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara Eropa justru membuat permintaan AC buatan China melonjak drastis.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat terkadang berjalan berlawanan dengan arah kebijakan pemerintah. Meski ingin mempersempit defisit perdagangan, Eropa masih sangat bergantung pada produk China di sejumlah sektor. Lantas, mengapa situasi ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.
1. Eropa ingin memperbaiki ketimpangan perdagangan dengan China

Uni Eropa dan China baru saja menggelar pertemuan untuk membahas hubungan perdagangan kedua wilayah. Salah satu fokus utamanya adalah mengurangi ketimpangan perdagangan yang selama ini semakin melebar. Kedua pihak juga sepakat membentuk kelompok kerja bilateral yang bertugas memantau arus perdagangan dan membahas berbagai hambatan akses pasar. Targetnya, sejumlah hasil nyata bisa dicapai sebelum Oktober mendatang.
Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, mengatakan bahwa gak semua persoalan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, ia optimistis kedua belah pihak masih memiliki waktu untuk menghasilkan kemajuan yang nyata dalam beberapa bulan ke depan. Ia juga menyoroti bahwa ekspor China ke Uni Eropa terus meningkat, sedangkan pangsa pasar produk Eropa di China justru terus menurun. Menurutnya, kondisi tersebut gak bisa dibiarkan berlangsung dalam jangka panjang karena berpotensi merugikan perekonomian Eropa.
2. Gelombang panas membuat warga Eropa berbondong-bondong membeli AC

Upaya mengurangi impor dari China datang pada waktu yang cukup sulit. Berbagai negara Eropa sedang mengalami gelombang panas yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah kawasan tersebut. Suhu yang sangat tinggi membuat banyak orang mencari cara agar rumah tetap nyaman untuk dihuni. Salah satu solusi yang paling banyak dipilih adalah membeli AC.
Selama ini penggunaan AC di Eropa memang jauh lebih rendah dibandingkan negara seperti Amerika Serikat. Banyak bangunan tua di Eropa juga memiliki aturan yang membatasi pemasangan unit AC karena dianggap mengganggu tampilan bangunan atau berpotensi meningkatkan konsumsi energi. Namun, perubahan iklim membuat musim panas menjadi lebih panjang dan lebih ekstrem. Akibatnya, permintaan terhadap perangkat pendingin udara meningkat jauh lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
3. Produsen China berhasil memanfaatkan peluang besar

Lonjakan permintaan tersebut langsung dimanfaatkan oleh berbagai produsen AC asal China. Salah satunya adalah Midea yang dilaporkan telah menerima lebih dari 200 ribu pesanan untuk produk PortaSplit sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tingginya minat konsumen bahkan membuat stok produk di sejumlah wilayah cepat habis.
Keberhasilan tersebut bukan hanya didorong oleh harga yang kompetitif. Midea juga merancang produknya agar sesuai dengan regulasi yang berlaku di Eropa. PortaSplit dapat dipasang tanpa perlu mengebor dinding bangunan sehingga cocok untuk kota-kota yang memiliki aturan ketat terkait perubahan fasad gedung. Selain itu, kapasitas refrigerannya juga dibuat mengikuti batas yang ditetapkan di Prancis sehingga lebih mudah dipasarkan di berbagai negara Eropa.
4. Industri AC Eropa masih kalah bersaing

Menariknya, gak ada satu pun merek AC terlaris di Eropa yang berasal dari Uni Eropa. Pangsa pasar justru didominasi oleh perusahaan Asia, terutama Haier, Gree, dan Midea dari China. Ketiga perusahaan tersebut menguasai sekitar 32 persen pasar AC Eropa berdasarkan volume penjualan ritel pada 2025. Posisi berikutnya ditempati oleh Beko dari Turki dan Daikin dari Jepang.
Denis Depoux, Global Managing Director Roland Berger, menjelaskan bahwa sekitar separuh impor Uni Eropa dari China kini berasal dari produk teknologi, mulai dari kendaraan listrik hingga mesin berteknologi tinggi. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan perubahan besar dibandingkan beberapa dekade lalu ketika Eropa masih lebih unggul di sektor manufaktur. Ia juga menilai perkembangan tersebut dapat menjadi tantangan serius bagi daya saing industri Eropa apabila ketergantungan terhadap produk teknologi China terus meningkat.
5. Eropa harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan kebutuhan masyarakat

Di satu sisi, Uni Eropa ingin melindungi industri lokal dari persaingan produk murah asal China. Pemerintah Eropa juga terus mengkritik berbagai bentuk subsidi yang diberikan Beijing kepada perusahaan-perusahaannya karena dianggap menciptakan persaingan yang gak sehat. Bahkan, Uni Eropa mulai menerapkan sejumlah kebijakan baru terhadap produk dan perusahaan China di beberapa sektor strategis. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan yang dinilai terlalu besar.
Di sisi lain, masyarakat Eropa tetap membutuhkan berbagai produk China karena harganya lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Kondisi itu terlihat jelas dari meningkatnya permintaan AC selama musim panas ekstrem. Sejumlah analis juga menilai China belum memberikan komitmen yang benar-benar konkret untuk mengurangi surplus perdagangannya dengan Uni Eropa. Karena itu, pemerintah Eropa kini harus mencari keseimbangan antara melindungi industri dalam negeri, menjaga lapangan kerja, dan tetap memenuhi kebutuhan konsumennya.
Kasus melonjaknya penjualan AC buatan China menunjukkan bahwa hubungan dagang global gak sesederhana membatasi impor atau menaikkan aturan perdagangan. Ketika kebutuhan masyarakat meningkat akibat cuaca ekstrem, produk yang paling siap memenuhi permintaan akan tetap menjadi pilihan utama.
Bagi Uni Eropa, tantangan terbesar saat ini adalah memperkuat industri dalam negeri tanpa mengabaikan kebutuhan konsumen. Menarik untuk melihat apakah negosiasi perdagangan yang berlangsung hingga Oktober nanti benar-benar mampu menghasilkan keseimbangan baru dalam hubungan ekonomi antara Eropa dan China.





















