Manufaktur Masih Berat hingga 2026, Industri Padat Karya Paling Rentan

- Sektor manufaktur diprediksi masih menghadapi tekanan hingga 2026, terutama industri padat karya dan berorientasi ekspor akibat lemahnya permintaan global serta meningkatnya biaya produksi.
- Anggawira menilai pemulihan bisa lebih cepat jika pemerintah menjaga stabilitas harga energi, memperkuat permintaan domestik, mempercepat belanja negara, dan memberi insentif tepat sasaran.
- Pemerintah didorong memperluas akses pembiayaan bagi UMKM manufaktur serta memperkuat substitusi impor dan hilirisasi untuk membangun daya saing industri nasional yang lebih kokoh.
Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira memperkirakan sektor manufaktur masih akan menghadapi berbagai tantangan hingga akhir 2026. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, proses pemulihan industri dinilai akan berlangsung lambat dan tidak merata.
Menurut Anggawira, industri yang berorientasi ekspor dan padat karya menjadi sektor yang paling rentan terhadap tekanan ekonomi, baik dari pelemahan permintaan global maupun kenaikan biaya produksi.
"Pelemahan ini juga menunjukkan bahwa daya beli masyarakat memang sedang tertekan. Ketika pesanan baru turun, produksi melambat, dan pelaku industri mulai lebih berhati-hati, artinya konsumsi domestik belum cukup kuat menjadi penopang utama industri," tegasnya, Sabtu (11/7/2026).
1. Perlu intervensi yang tepat untuk bantu industri

Meski demikian, ia menilai peluang pemulihan tetap terbuka apabila pemerintah mampu menjaga stabilitas harga energi, mempercepat realisasi belanja negara, memperkuat permintaan domestik, serta memberikan insentif yang lebih tepat sasaran kepada pelaku industri.
"Kalau tidak ada intervensi yang tepat, pemulihan bisa berjalan lambat dan tidak merata. Industri yang berorientasi ekspor dan padat karya kemungkinan akan paling sensitif. Tapi peluang tetap ada jika pemerintah mampu menjaga stabilitas harga energi, mempercepat belanja pemerintah, memperkuat pasar domestik, dan memberi insentif yang lebih tepat sasaran," ujar Anggawira.
2. Perlu kebijakan progresif untuk membantu industri

Ia menekankan pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang lebih progresif dan terintegrasi untuk memperkuat daya tahan sektor manufaktur. Langkah pertama adalah menjaga daya beli masyarakat agar permintaan domestik tidak semakin melemah.
Selain itu, pemerintah juga perlu menekan biaya produksi melalui kepastian pasokan dan harga energi, termasuk penyediaan gas industri dan tarif listrik yang kompetitif. Di sisi lain, stimulus bagi industri padat karya dan sektor berorientasi ekspor juga perlu dipercepat.
3. Perlu perluas akses pembiayaan bagi UMKM dan rantai pasoknya

Anggawira juga mendorong pemerintah memperluas akses pembiayaan bagi industri, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) manufaktur beserta rantai pasoknya. Menurut dia, penguatan program substitusi impor dan hilirisasi juga menjadi langkah penting untuk membangun basis produksi nasional yang lebih kokoh.
"Jadi kuncinya bukan hanya memberi stimulus jangka pendek, tetapi memperkuat daya saing struktural manufaktur. Kita perlu memastikan industri nasional tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas, lebih produktif, lebih efisien, dan mampu bersaing di tengah tekanan global," tegasnya.




















