Dukung Program B50, BPDP Kucurkan Dana Insentif Rp240 Triliun

- BPDP menyalurkan insentif Rp240 triliun untuk mendukung 83,8 juta kiloliter biodiesel B50, yang disebut menghemat devisa Rp722,9 triliun melalui penurunan impor solar.
- BPDP menilai B50 memperkuat peran sawit dalam ketahanan energi; campuran minyak sawit dalam solar berpotensi ditingkatkan ke B60, B70, dan seterusnya berdasarkan kajian.
- Sebanyak 41 persen industri sawit nasional dikelola rakyat, menghasilkan 16 juta ton per tahun dan menyerap 16,5 juta tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia.
Kotawaringin Barat, IDN Times - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah menyalurkan dana insentif senilai Rp240 triliun buat program bahan bakar solar B50. Insentif itu mendukung penyaluran 83,8 juta kiloliter biodiesel di Indonesia.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan umum BPDP Zaid Ibrahim mengatakan, upaya ini terbukti memberikan dampak signifikan buat ekonomi nasional. Kucuran dana itu dipercaya jadi modal pemerintah dalam menerapkan program bahan bakar solar B50 berbasis minyak kelapa sawit.
Apalagi, program B50 ini membuat pemerintah bisa menghemat devisa negara sebesar Rp722,9 triliun. Penghematan itu berasal dari penurunan volume impor solar.
1. B50 jadi bukti peran komoditas sawit

Menurut Zaid, program B50 ini menjadi bukti peran komoditas sawit di sektor ketahanan energi. Bukan tak mungkin, persentase minyak sawit yang dicampur dengan solar akan ditambah.
"Artinya, 50 persen dari bahan bakar solar kita bersumber dari sawit. Ke depan, berdasarkan hasil kajian, tingkat campurannya bisa kita tingkatkan lebih tinggi lagi, baik B60, B70, dan seterusnya. Ini komitmen kita untuk terus mendorong program bahan bakar nabati," ujar Zaid di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026).
2. BPDP sebut sawit bisa jadi bahan baku energi terbarukan

Zaid menyebut, sawit merupakan salah satu komoditas yang unggul sebagai bahan baku energi terbarukan. Tanaman sawit, kata dia, memiliki efisiensi yang tinggi.
Zaid menjelaskan, satu hektare tanaman sawit bisa menghasilkan 4 ton minyak. Jumlah ini melebihi produksi komoditas minyak nabati lain yang populer di dunia, seperti kedelai sekitar 0,4 ton per hektare dan bunga matahari sekitar 0,6 ton per hektare.
3. 41 persen industri sawit nasional dikelola rakyat

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan hampir separuh dari industri sawit nasional dikelola oleh masyarakat.
"Data menunjukkan 41 persen dari industri sawit nasional dikelola oleh rakyat. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan aktor utama dalam rantai pasok sawit nasional," kata Zaid.
Zaid mengatakan, perkebunan sawit milik rakyat itu tersebar di Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Total produksi perkebunan itu mencapai 16 juta ton per tahun.
Selain menjadi aktor utama dalam industri sawit nasional, perkebunan rakyat juga membuka lapangan kerja baru. BPDP mencatat, perkebunan itu menyerap 16,5 juta tenaga kerja.
"Karena itu, ketika kita bicara mengenai sawit, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai kesejahteraan jutaan masyarakat Indonesia," kata Zaid.


















