Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bank Jakarta dan BEI Kompak Dorong Transformasi dan Kualitas
Logo Bank Jakarta terbaru. (Dok/Istimewa).
  • Bank Jakarta menegaskan fundamental perbankan nasional masih kuat, namun percepatan transformasi diperlukan menghadapi perubahan lanskap bisnis dan meningkatnya risiko global.
  • Perseroan fokus memperkuat digitalisasi, pembaruan teknologi, serta manajemen risiko untuk menjaga daya saing di tengah tantangan biaya dana dan ancaman keamanan siber.
  • BEI bersama OJK dorong pendalaman pasar modal dengan peningkatan literasi dan kualitas investor domestik agar kepercayaan serta fondasi pasar semakin kokoh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Industri perbankan nasional dinilai masih memiliki fundamental yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski demikian, perubahan lanskap bisnis dan meningkatnya risiko membuat pelaku industri perlu mempercepat transformasi agar tetap mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan kondisi fundamental perbankan nasional masih terjaga. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang masih rendah.

"Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," ujar Agus dalam diskusi Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market pada Investor Day 2026, dikutip Rabu (1/7/2026).

1. Bank Jakarta percepat transformasi di berbagai lini

Ilustrasi JakOne Bank DKI/dok Bank DKI

Menurut Agus, dalam beberapa tahun terakhir industri perbankan menghadapi berbagai tantangan yang sulit diprediksi, mulai dari pandemik COVID-19, konflik geopolitik hingga perubahan kebijakan perdagangan global. Kondisi tersebut membuat bank tidak lagi bisa mengandalkan strategi bisnis seperti sebelumnya.

Di sisi lain, industri juga mulai menghadapi tekanan kenaikan biaya dana (cost of fund). Agus mengungkapkan bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat menyentuh 11,5 persen, yang menjadi sinyal meningkatnya biaya penghimpunan dana.

Menghadapi kondisi tersebut, Bank Jakarta mempercepat transformasi di berbagai lini, mulai dari penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, manajemen risiko, hingga budaya kerja.

Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perseroan juga mengoptimalkan pengembangan bisnis melalui penguatan ekosistem pemerintah daerah. Menurut Agus, perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta menjadi potensi sumber pertumbuhan yang berkelanjutan bagi Bank Jakarta.

2. Perkuat transformasi digital melalui pembaruan trasnformasi teknologi

ilustrasi JakOne Mobile Bank DKI (dok. Bank DKI)

Selain itu, perseroan terus memperkuat transformasi digital melalui pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Agus menambahkan, penguatan manajemen risiko menjadi fokus penting karena risiko yang dihadapi industri perbankan kini semakin kompleks, termasuk ancaman keamanan siber.

"Risiko ke depan akan semakin multidimensi," katanya.

3. Pendalaman pasar modal perlu diiringi peningkatan kualitas investor domestik

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffry Hendrik menilai pendalaman pasar modal perlu diiringi peningkatan kualitas investor domestik. Menurut dia, bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO), BEI terus mendorong peningkatan transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih granular, serta penguatan keterbukaan informasi.

"Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi," ujarnya.

Jeffry mengungkapkan, jumlah investor domestik telah melampaui 28 juta. Namun, peningkatan jumlah investor perlu dibarengi dengan peningkatan literasi dan pemahaman investasi agar mampu menjadi fondasi yang kuat bagi pasar modal.

Ia menekankan investor perlu mampu melakukan analisis sendiri dan memahami profil risikonya, bukan sekadar mengikuti tren pasar.

"Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO," katanya.

Editorial Team

Related Article