Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Pabrik HPAL Bikin Hilirisasi Nikel Lebih Efisien?

Benarkah Pabrik HPAL Bikin Hilirisasi Nikel Lebih Efisien?
Area produksi PT QMB New Energy Materials. (dok. QMB)
Intinya Sih
  • Teknologi HPAL dari GEM Group memungkinkan ekstraksi nikel dan kobalt dalam satu proses, memanfaatkan bijih laterit kadar rendah dengan tingkat pemulihan logam lebih dari 90 persen.
  • Penerapan HPAL menekan investasi dan biaya produksi nikel secara signifikan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global bahan baku baterai kendaraan listrik.
  • Hilirisasi nikel mencatat ekspor miliaran dolar, ribuan lapangan kerja baru, serta kolaborasi riset GEM dengan ITB untuk mempercepat inovasi teknologi pengolahan nikel di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - GEM Group (GEM Co., Ltd.) melalui anak perusahaannya, PT QMB New Energy Materials menjadi salah satu pelaku industri yang mengembangkan pengolahan nikel berbasis teknologi di Indonesia.

Teknologi yang digunakan ialah High Pressure Acid Leach (HPAL). Teknologi tersebut digadang-gadang membuat proses hilirisasi nikel lebih efisien. Bagaimana faktanya?

1. Ekstraksi logam cuma melalui satu proses

Benarkah Pabrik HPAL Bikin Hilirisasi Nikel Lebih Efisien?
ilustrasi nikel (unsplash.com/Shashank Rana)

Teknologi HPAL memungkinkan ekstraksi logam secara simultan dalam satu proses. Chairman and Founder GEM Group, Xu Kai Hua menyebut teknologi itu memungkinkan pemanfaatan bijih yang sebelumnya tidak digunakan menjadi sumber bahan baku strategis.

“Dulu bijih laterit kadar rendah di Indonesia banyak yang tidak dimanfaatkan. Sekarang kami bisa mengolahnya, sekaligus memulihkan nikel dan kobalt dengan tingkat recovery lebih dari 90 persen,” kata Xu Kai Hua dikutip Rabu, (1/4/2026).

2. Biaya produksi berhasil ditekan drastis

Benarkah Pabrik HPAL Bikin Hilirisasi Nikel Lebih Efisien?
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Dalam situasi tersebut, GEM menyatakan mampu menurunkan investasi per 10 ribu ton nikel hingga di bawah 200 juta dolar Amerika Serikat (AS), serta menekan biaya produksi hingga di bawah 10 ribu dolar AS per ton.

Padahal, menurut data perusahaan, pada 2015–2017, sejumlah perusahaan di Morowali menguji teknologi hidrometalurgi dengan investasi ratusan juta dolar AS, namun belum mencapai hasil ekonomis.

Melihat data itu, maka benar bahwa teknologi HPAL mampu membuat proses hilirisasi nikel lebih efisien.

Pengembangan teknologi itu diiringi pembangunan fasilitas terintegrasi dari pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai, yang menjadi komponen penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Langkah itu memperkuat posisi Indonesia dalam industri hilir nikel dan menandai pergeseran dari pemasok bahan mentah menjadi bagian strategis dalam rantai pasok energi baru global.

3. Perkembangan industri hilirisasi nikel

PHOTO-2026-04-01-12-59-37.jpeg
Pusat kontrol PT QMB New Energy Materials. (dok. QMB)

Dari sisi kinerja industri, pada periode 2024–2025 kawasan tersebut mencatat nilai ekspor sekitar 2,5 miliar dolar AS, kontribusi pajak sebesar 400 juta dolar AS, serta menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja. Angka itu menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berdampak pada struktur industri, tetapi juga pada kontribusi ekonomi secara langsung.

Di sisi lain, pengembangan ekosistem inovasi turut menjadi bagian dari strategi industri. GEM membangun fasilitas riset bersama di Institut Teknologi Bandung dengan nilai investasi sekitar 30 juta dolar AS.

Laboratorium itu dilengkapi lebih dari 300 perangkat dan mencakup berbagai tahapan riset, mulai dari proses metalurgi hingga evaluasi material baterai.

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat keterkaitan antara riset dan industri, sekaligus mempercepat pengembangan teknologi pengolahan nikel di dalam negeri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More