Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Boom AI Menggila, Bank Sentral Eropa Ingatkan Pasar Saham Bisa Ambruk
ilustrasi stock market, pasar saham (vecteezy.com/Jesper Persson)
  • Ekonom ECB mengingatkan euforia AI menyerupai revolusi teknologi terdahulu, ketika lonjakan valuasi saham dapat diikuti koreksi tajam meski teknologinya berpotensi meningkatkan produktivitas.
  • Saham tetap berisiko turun walau AI sukses meningkatkan laba, karena ketidakpastian dan premi risiko lebih tinggi dapat menekan valuasi; optimisme investor berlebihan juga berpotensi memperparah koreksi.
  • Paparan rumah tangga Eropa terhadap saham teknologi AS diperkirakan mencapai 440 miliar euro; koreksi dapat memicu penjualan dana, mengganggu stabilitas keuangan, sentimen ekonomi, pembiayaan, dan perekrutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan artificial intelligence (AI) memang sedang menggila dan ikut mendorong saham perusahaan teknologi ke level yang sangat tinggi. Investor berbondong-bondong masuk ke saham yang dianggap bakal mendapat keuntungan besar dari perkembangan AI, terutama perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat.

Namun di balik euforia tersebut, ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) justru mengingatkan adanya risiko koreksi tajam di pasar saham. Mereka menilai sejarah sejumlah revolusi teknologi menunjukkan bahwa lonjakan valuasi sering kali diikuti penurunan harga yang cukup besar. Artinya, meski AI memang berpotensi mengubah ekonomi dunia, kamu tetap perlu waspada terhadap risiko di balik booming tersebut.

1. Boom AI dinilai punya pola seperti revolusi teknologi sebelumnya

ilustrasi AI ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli)

Menurut ekonom ECB, perkembangan AI saat ini punya sejumlah kemiripan dengan periode ketika teknologi baru lain mulai mengubah perekonomian. Mereka mencontohkan ledakan industri kereta api pada abad ke-19, perkembangan listrik dan radio pada 1920-an, serta booming internet pada 1990-an. Dalam berbagai periode tersebut, teknologi memang menawarkan perubahan besar, tapi antusiasme investor ikut membuat valuasi perusahaan melonjak sebelum akhirnya mengalami penurunan tajam.

Kalau kamu melihat kondisi pasar sekarang, pola tersebut tentu cukup menarik untuk diperhatikan. ECB menilai harga saham yang tinggi belum tentu berarti pasar sudah salah menilai potensi AI, karena teknologi ini memang bisa meningkatkan produktivitas dan keuntungan perusahaan.

Namun, semakin luas AI digunakan, semakin besar pula ketidakpastian mengenai dampaknya terhadap perekonomian. Menurut penelitian dalam American Economic Review, ketidakpastian seperti ini bisa memengaruhi cara investor menilai perusahaan dan menentukan harga saham. Investor bisa menilai bahwa pasar lebih berisiko dan akhirnya mendorong harga saham turun.

2. Harga saham bisa jatuh meski AI benar-benar sukses

ilustrasi stock market, pasar saham, investasi, risiko (vecteezy.com/Asih Wahyuni)

Hal menarik dari peringatan ECB adalah koreksi pasar gak selalu terjadi karena AI ternyata gagal. Bahkan menurut para ekonom tersebut, harga saham tetap bisa mengalami penurunan meskipun AI benar-benar berhasil mengubah ekonomi dan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Ketika penggunaan AI semakin meluas, risiko dari teknologi tersebut ikut menjadi lebih luas sehingga investor bisa meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko. Kondisi ini pada akhirnya bisa memberikan tekanan terhadap harga saham.

Situasinya memang terdengar agak paradoks kalau kamu baru mulai memahami investasi. Perusahaan bisa saja mencatat pertumbuhan laba yang kuat berkat AI, tapi sahamnya tetap berpotensi terkoreksi karena investor menganggap risikonya semakin besar.

ECB menjelaskan bahwa peningkatan premi risiko secara historis dapat memberikan tekanan terhadap valuasi saham, kecuali pertumbuhan keuntungan cukup kuat untuk mengimbanginya. Jadi, keberhasilan teknologi dan kenaikan harga saham ternyata bukan dua hal yang selalu berjalan lurus.

3. Investor yang terlalu percaya diri bisa memperbesar risiko

ilustrasi investasi (pexels.com/RDNE Stock project)

ECB juga melihat kemungkinan lain, yaitu investor menjadi terlalu percaya diri terhadap prospek AI. Saat optimisme meningkat, investor bisa membeli saham dengan harga jauh di atas nilai fundamental perusahaan karena berharap pertumbuhannya bakal sangat besar.

Ketika rasa percaya diri tersebut mulai menghilang, harga saham bisa jatuh lebih cepat karena ekspektasi sebelumnya ternyata terlalu tinggi. Menurut ekonom ECB, mekanisme inilah yang bisa membuat koreksi berlangsung lebih tajam.

Pola tersebut bukan berarti harga saham perusahaan AI saat ini pasti sudah berada di puncak, lho. ECB justru menegaskan bahwa gak ada cara untuk mengetahui secara pasti kapan sebuah periode boom akan berubah menjadi koreksi.

Bahkan apabila AI ternyata membawa perubahan ekonomi yang jauh lebih besar dari perkiraan, valuasi saham masih bisa naik lebih tinggi setelah melewati sebuah koreksi. Karena itu, kamu sebaiknya melihat peringatan ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan, bukan ramalan bahwa pasar pasti ambruk dalam waktu dekat.

4. Investor Eropa ternyata punya paparan besar terhadap saham AI

ilustrasi London, Inggris, Eropa, pejalan kaki (pexels.com/Daria Agafonova)

Risiko dari booming AI juga bukan hanya dirasakan investor Amerika Serikat. ECB memperkirakan rumah tangga di kawasan Eropa memiliki sekitar 440 miliar euro (setara kurang lebih Rp7.400 triliun atau sekitar Rp7,4 kuadriliun) paparan terhadap saham teknologi Amerika Serikat, termasuk melalui reksa dana dan ETF.

Banyak investor bahkan mungkin gak menyadari seberapa besar konsentrasi tersebut karena mereka berinvestasi melalui indeks global yang memiliki porsi besar pada saham Magnificent Seven. Kelompok tersebut mencakup Alphabet, Amazon, Apple, Tesla, Meta Platforms, Microsoft, dan NVIDIA.

Kondisi ini penting kalau kamu menganggap investasi melalui indeks otomatis membuat portofolio bebas dari risiko konsentrasi. Ketika saham teknologi raksasa mengalami penurunan tajam, dana investasi bisa terdorong menjual aset untuk memenuhi permintaan penarikan investor.

Jika penjualan terus berlanjut, harga aset bisa kembali tertekan dan memicu penarikan dana lebih lanjut. ECB melihat mekanisme tersebut sebagai salah satu jalur yang bisa membuat koreksi saham berubah menjadi persoalan stabilitas keuangan yang lebih luas.

5. Koreksi AI bisa berdampak lebih luas dari pasar saham

ilustrasi AI (magnific.com/DC Studio)

ECB menilai risiko terbesar bukan sekadar harga saham turun, melainkan ketika koreksi tersebut terjadi bersamaan dengan gangguan yang lebih luas di pasar keuangan. Dalam kondisi seperti itu, dampaknya bisa merembet ke sentimen ekonomi, kondisi pembiayaan, bahkan perekrutan tenaga kerja di kawasan euro.

Para ekonom juga mengingatkan bahwa ruang kebijakan untuk meredam dampak tersebut saat ini lebih terbatas dibandingkan periode gelembung dot-com. Artinya, pemerintah dan bank sentral mungkin gak punya fleksibilitas sebesar sebelumnya untuk memberikan bantalan ketika tekanan ekonomi meningkat. Meski begitu, bukan berarti kamu harus langsung panik dan menjauhi semua investasi yang berkaitan dengan AI, ya.

ECB sendiri menilai transformasi AI tetap berjalan dan teknologi tersebut memang memiliki potensi ekonomi yang besar. Persoalannya lebih kepada seberapa tinggi valuasi sudah naik dan seberapa besar risiko yang bersedia ditanggung investor ketika ekspektasi terhadap masa depan terlalu tinggi. Buat kamu sebagai investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa tren teknologi yang menjanjikan sekalipun tetap perlu diimbangi dengan pertimbangan valuasi, diversifikasi, dan risiko.

Boom AI memang membawa peluang besar bagi perusahaan dan investor, tapi sejarah menunjukkan bahwa revolusi teknologi juga bisa menciptakan siklus boom dan koreksi. Peringatan ekonom ECB bukan berarti pasar saham pasti ambruk dalam waktu dekat, karena mereka sendiri mengakui waktu terjadinya koreksi gak bisa diketahui sebelumnya.

Justru karena waktunya sulit diprediksi, kamu perlu memahami bahwa kenaikan harga saham yang sangat cepat selalu datang bersama risiko tertentu. Pada akhirnya, AI bisa saja tetap menjadi teknologi yang sangat sukses, tapi perjalanan investasinya belum tentu selalu naik tanpa hambatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article