HIPMI Dorong Pengusaha Indonesia Naik Kelas Lewat IEU-CEPA

- HIPMI menyambut percepatan ratifikasi IEU-CEPA, yang ditargetkan selesai semester II-2026 dan berlaku awal 2027, untuk memperluas perdagangan, investasi, serta posisi industri Indonesia dalam rantai pasok global.
- Penghapusan tarif lebih dari 98 persen pos tarif membuka peluang ekspor produk seperti kopi, tekstil, alas kaki, perikanan, furnitur, dan elektronik, tetapi standar kualitas, sertifikasi, ketertelusuran, serta keberlanjutan Eropa tetap krusial.
- HIPMI meminta standardisasi, pembiayaan ekspor, akses pembeli, dan kapasitas produksi diperkuat; investasi Eropa juga diharapkan membawa teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta melibatkan UMKM dan pemasok domestik.
Jakarta, IDN Times - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyambut positif percepatan ratifikasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Ketua Umum BPP HIPMI Ade Jona Prasetyo menilai kesepakatan tersebut dapat membuka peluang lebih besar bagi perdagangan dan investasi Indonesia sekaligus memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok global.
Menurut dia, IEU-CEPA tidak boleh hanya dipandang sebagai kesepakatan penurunan tarif. Kesepakatan ini harus menjadi momentum bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperluas ekspor dan meningkatkan daya saing.
“Target kita bukan hanya menjual lebih banyak barang ke Eropa. Kita ingin semakin banyak perusahaan Indonesia yang naik kelas, memiliki standar global, dan membangun jaringan bisnis internasional,” ujar Ade Jona dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2026).
1. Sejumlah produk Indonesia berpeluang dapatkan manfaat dari terbukanya akses pasar Eropa

ilustrasi perdagangan internasional (pixabay.com/Jarosław Bialik) Pemerintah menargetkan ratifikasi IEU-CEPA rampung pada semester II-2026 sehingga implementasinya dapat dimulai pada awal 2027. Kesepakatan tersebut diproyeksikan menghapus tarif lebih dari 98 persen pos tarif.
Sementara itu, nilai perdagangan barang Indonesia dan Uni Eropa tercatat sekitar 27,3 miliar euro pada 2024.
Ade Jona menyebut sejumlah produk Indonesia berpeluang memanfaatkan terbukanya akses pasar Eropa, mulai dari kopi, kakao, karet, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, produk perikanan, furnitur hingga komponen listrik dan elektronik.
Namun, ia mengingatkan terbukanya akses pasar belum otomatis mengerek ekspor Indonesia. Pasar Eropa memiliki standar tinggi terkait kualitas, sertifikasi, ketertelusuran produk, keamanan hingga aspek keberlanjutan.
“Tarif boleh turun, tetapi kalau produk kita belum memenuhi standar, biaya sertifikasinya tinggi atau pengusaha tidak memiliki akses kepada buyer, peluangnya tidak akan maksimal,” katanya.
2. Dunia usaha harus menyiapkan berbagai hal sebelum implementasi IEU-CEPA

Ilustrasi ekspor (ANTARA FOTO/Didik Suhartono) HIPMI menilai ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan pemerintah dan dunia usaha dalam implementasi IEU-CEPA. Di antaranya percepatan standardisasi dan sertifikasi, pembiayaan ekspor yang kompetitif, perluasan akses buyer melalui business matching dan misi dagang, serta peningkatan kapasitas produksi.
“Banyak pengusaha kita punya produk yang bagus. Tantangannya sering berada pada skala produksi, konsistensi kualitas, pembiayaan, sertifikasi dan akses pasar. Kalau hambatan ini bisa kita pecahkan, akan lebih banyak pengusaha Indonesia yang mampu menjadi eksportir,” jelas Ade Jona.
3. HIPMI melihat IEU-CEPA berpotensi mendorong masuknya investasi Eropa ke Indonesia

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay) Selain perdagangan, HIPMI melihat IEU-CEPA berpotensi mendorong masuknya investasi Eropa ke Indonesia. Investasi tersebut diharapkan menyasar sektor manufaktur, teknologi, energi hijau, kendaraan listrik, elektronik hingga farmasi.
Ade Jona berharap investasi Eropa tidak hanya membawa modal, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja serta membangun keterkaitan dengan perusahaan dan pemasok dalam negeri.
“Kita ingin hubungan ekonomi Indonesia-Eropa berjalan dua arah. Produk Indonesia semakin banyak masuk Eropa, sementara investasi dan teknologi Eropa masuk untuk memperkuat kapasitas industri kita,” ujarnya.
HIPMI juga mendorong agar manfaat IEU-CEPA tidak hanya dinikmati perusahaan besar. Pelaku usaha daerah dan UMKM yang memiliki kapasitas perlu dipersiapkan untuk menjadi eksportir langsung maupun masuk ke rantai pasok perusahaan berorientasi ekspor.
Menurut Ade Jona, keberhasilan IEU-CEPA nantinya tidak cukup diukur dari pertumbuhan nilai ekspor. Indikator lainnya adalah bertambahnya eksportir baru, meningkatnya skala UMKM, berkembangnya perusahaan menengah menjadi pemain global serta masuknya investasi yang memperkuat industri domestik.
“IEU-CEPA membuka pintu yang besar. Sekarang tugas kita memastikan pengusaha Indonesia memiliki kapasitas untuk masuk, bersaing, dan tumbuh di pasar global,” tandasnya.



















