China Ekspansi Pusat Data AI ke Pedesaan demi Energi Terbarukan

- China memindahkan pembangunan pusat data AI ke pedesaan barat, termasuk Guizhou, melalui strategi Eastern Data Western Computing sejak 2021 untuk memanfaatkan lahan, iklim dingin, dan energi terbarukan.
- Fasilitas yang dibangun Huawei, Tencent, hingga Apple menyerap surplus listrik surya dan angin; China menargetkan 80 persen kebutuhan energi pusat data berasal dari sumber terbarukan pada akhir dekade.
- Pusat data mendorong infrastruktur dan pekerjaan lokal, tetapi dampak pendapatan jangka panjang dinilai terbatas, sementara investasi besar serta insentif fiskal menambah beban utang Guizhou.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah China bersama perusahaan teknologi raksasa seperti Huawei dan Tencent mengalihkan pembangunan kompleks pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence) ke wilayah pedesaan di bagian barat negeri tersebut. Langkah strategis ini diambil demi memanfaatkan kelimpahan pasokan energi terbarukan dan lahan luas yang belum tergarap di wilayah pedesaan. Kebijakan nasional yang gencar dijalankan ini bertujuan untuk menopang kebutuhan komputasi digital yang melonjak drastis akibat pesatnya pengembangan teknologi masa depan.
Pembangunan infrastruktur besar-besaran ini berfokus di kawasan pegunungan seperti Provinsi Guizhou sejak beberapa tahun terakhir. Melalui strategi nasional bernama Eastern Data Western Computing yang diluncurkan sejak 2021, pemerintah mengolah data komputasi dari wilayah pesisir timur yang padat di wilayah barat yang lebih sepi. Upaya tersebut sekaligus menekan risiko defisit energi listrik dan menyerap kelebihan pasokan daya dari pembangkit listrik tenaga surya maupun angin.
1. Memanfaatkan potensi energi terbarukan di pedesaan

ilustrasi panel surya (pexels.com/K) Pengembangan pusat data berkapasitas raksasa membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar untuk mengoperasikan ribuan server secara terus-menerus. Seperti dilansir AFP, kawasan barat China seperti Provinsi Guizhou memiliki iklim yang cenderung lebih dingin serta lahan kosong yang amat luas. Wilayah pedesaan ini menyimpan potensi energi terbarukan melimpah yang berasal dari instalasi panel surya dan turbin angin. Keberadaan ladang energi bersih tersebut menjadi jawaban atas lonjakan konsumsi listrik dari sektor teknologi.
Analis senior dari Rystad Energy, Simeng Deng, menjelaskan bahwa pusat data dapat menjadi sarana efektif untuk menyerap kelebihan produksi energi bersih. Pembuatan infrastruktur komputasi ini dinilai mampu mencegah terbuangnya daya listrik terbarukan yang sering kali mengalami surplus di wilayah barat. Pemerintah China sendiri telah menetapkan target agar delapan puluh persen kebutuhan energi pusat data berasal dari sumber terbarukan pada akhir dekade ini. Kebijakan tersebut mendorong para pengembang teknologi untuk memusatkan operasional fasilitas mereka di daerah pedesaan.
Di Kawasan Baru Guian, Provinsi Guizhou, berdiri berbagai fasilitas server megah di antara perbukitan hijau. Perusahaan internasional seperti Apple hingga raksasa domestik seperti Huawei dan Tencent membangun pusat pemrosesan data utama di wilayah ini.
2. Dampak ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat lokal

ilustrasi perkembangan ekonomi lokal (pexels.com/Content Pixie) Kehadiran fasilitas pusat data canggih di daerah pelosok memberikan dinamika baru bagi perekonomian masyarakat setempat. Sebelum infrastruktur dibangun, kawasan ini hanyalah wilayah pegunungan sepi. Menurut laporan AFP, warga lokal melaporkan bahwa kawasan tersebut kini berkembang pesat dengan hadirnya jalan raya utama baru hingga dua perguruan tinggi baru. Namun, laporan AFP juga menggarisbawahi bahwa minimnya penolakan publik di China juga tak lepas dari kontrol ketat pemerintah terhadap kritik warga. Hal ini berbeda dengan di Amerika Serikat atau Eropa, tempat proyek pusat data sering memicu protes masif akibat lonjakan tarif listrik dan isu lingkungan.
Seorang pemilik toko setempat, Shu Peihua, mengungkapkan pandangannya terkait perubahan positif yang terjadi di wilayah tempat tinggalnya. “Dulu kawasan ini merupakan gunung gersang, tetapi sejak kawasan dikembangkan, transportasi menjadi lebih mudah, perdagangan meningkat, dan peluang bisnis bermunculan,” kata dia. Senada dengan hal itu, warga lokal bernama Li Xixiu juga merasakan manfaat langsung dari kemajuan infrastruktur tersebut. “Semua warga desa di lingkungan kami sekarang mendapatkan pekerjaan di dekat rumah, tidak seperti dulu ketika mereka harus merantau ke tempat lain,” ujar Li.
Meskipun memberikan manfaat langsung bagi beberapa warga, sejumlah peneliti menilai efek pengganda ekonomi dari pusat data masih terbatas. Peneliti dari Singapore Management University, Andrew Stokols, menyebutkan bahwa pemrosesan server tidak otomatis menciptakan ribuan lapangan kerja baru berjangka panjang. “Harapannya, kamu bisa menggunakan pusat data sebagai mesin bagi pembangunan digital yang lebih luas dan menarik industri pendukung,” tutur Stokols. Menurut dia, pemanfaatan dampak ekonomi yang luas dari pembangunan infrastruktur pemrosesan data masih menjadi tantangan di banyak wilayah.
3. Tantangan beban utang dan pertumbuhan pendapatan

ilustrasi grafik statistik ekonomi (pexels.com/Monstera Production) Pembangunan infrastruktur digital dalam jumlah besar membutuhkan suntikan investasi modal yang sangat masif dari pemerintah daerah. Provinsi Guizhou mencatatkan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 7,4 persen per tahun selama dekade terakhir. Namun, pertumbuhan pendapatan dan gaji pekerja di kawasan ini berada pada urutan papan bawah secara nasional. Kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan antara investasi fisik berskala besar dan peningkatan kesejahteraan riil warga.
Peneliti dari Research Institute for Democracy, Society and Emerging Technology (DSET) yang berbasis di Taiwan, Cartus Bo-Xiang You dan Angela Glowacki, memberikan analisis mendalam terkait ketimpangan ekonomi ini. “Kekontrasan ini menunjukkan bahwa meskipun pusat data mendorong investasi besar pada lahan dan peralatan, dampaknya terhadap peningkatan pendapatan per kapita lokal tetap terbatas,” tulis mereka melalui surat elektronik.
Selain itu, investasi masif pada infrastruktur yang disertai berbagai insentif fiskal untuk menarik pengembang pusat data memicu lonjakan beban utang. Laporan DSET mencatat bahwa pada 2024, Provinsi Guizhou menempati peringkat ke-30 untuk rasio utang terhadap pendapatan dan peringkat ke-27 untuk rasio utang terhadap PDB di antara seluruh provinsi di China.
Kendati menghadapi berbagai tantangan fiskal daerah, perlombaan pengembangan teknologi kecerdasan buatan tetap melaju kencang tanpa henti. Pemerintah meyakini bahwa penguasaan kapasitas komputasi berbanding lurus dengan daya saing dan kekuatan strategis suatu negara di panggung global. Berbagai program nasional terus digulirkan untuk memperkuat kedaulatan teknologi dari lini infrastruktur dasar hingga aplikasi terdepan. Dengan strategi komputasi barat ini, China berambisi mempertahankan posisi terdepan dalam persaingan teknologi dunia.





















