Bos BEI Mundur, Ini Kriteria yang Dinilai Tepat Pimpin Bursa

- Pimpinan BEI harus mampu bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, OJK, lembaga terkait, dan pihak eksternal.
- Kinerja IHSG terganggu tanpa krisis global karena dinamika kebijakan interim freeze dari MSCI terhadap indeks saham Indonesia.
- Pengunduran diri bos bursa sebagai bentuk tanggung jawab atas kinerja yang terjadi dan kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap dinamika pasar yang berdampak luas.
Jakarta, IDN Times - Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai sosok yang mengisi kursi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ke depan harus mampu memulihkan dan menjaga kepercayaan investor.
Menurut dia, figur yang dibutuhkan adalah pemimpin yang benar-benar kompeten, khususnya di bidang pasar modal.
"Ya, jadi tentunya diharapkan ke depannya bisa memiliki Ketua Bursa yang karena bisa juga mendapatkan kepercayaan investor, direktur yang terutama itu benar-benar kompeten khususnya di bidang pasar modal," kata dia kepada IDN Times, Jumat (30/1/2026).
1. Mampu bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan

Nafan menekankan pentingnya kemampuan pimpinan BEI untuk bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Koordinasi perlu dilakukan tidak hanya dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tetapi juga dengan lembaga terkait serta pihak eksternal.
Menurutnya, kerja sama dengan bursa lain, baik di tingkat regional maupun internasional, juga menjadi aspek yang perlu diperkuat. Sinergi lintas pihak dinilai penting untuk menjaga kredibilitas dan daya saing pasar modal Indonesia di mata investor global.
"Bisa bersinergi ya dengan seluruh stakeholders, mau itu pemerintah, mau itu OJK, mau kelembagaan, serta tentunya ini ya eksternal juga," ujarnya.
2. Kinerja IHSG sempat terganggu tanpa krisis global

Nafan menyoroti kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami tekanan hingga menyebabkan perdagangan saham dihentikan sementara atau trading halt sebanyak dua kali.
Dia menyampaikan, situasi tersebut terjadi bukan karena adanya krisis global besar, melainkan dipicu oleh dinamika kebijakan interim freeze dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap indeks saham Indonesia.
"Ya, padahal kan padahal kan tidak terjadi major global crisis soalnya kan. Hanya murni karena terkait dengan dinamika interim freeze MSCI terhadap indeks saham di Indonesia. Indeks saham Indonesia," tuturnya.
3. Pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab

Nafan memandang pengunduran diri bos bursa sebagai bentuk tanggung jawab atas kinerja yang terjadi. Menurut dia, sikap tersebut mencerminkan adanya kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap dinamika pasar yang berdampak luas.
"Ya jadi harus ada ya harus bertanggung jawab ya. Harus ada rasa tanggung jawab soalnya kan. Mengundurkan diri itu sebagai bentuk tanggung jawab," ujar dia.














