Pengamat: Pengunduran Diri Dirut BEI Keputusan Bagus, Patut Diapresiasi

- Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi mengapresiasi pengunduran diri Dirut BEI Iman Rachman di tengah gejolak pasar modal dan anjloknya IHSG.
- Keputusan tersebut mencerminkan tanggung jawab moral dan kepemimpinan, serta pentingnya menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.
- Pengunduran diri Iman Rachman tidak dapat dilepaskan dari peringatan MSCI terhadap pasar modal Indonesia yang sudah muncul sejak dua bulan lalu.
Jakarta, IDN Times - Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengapresiasi keputusan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman yang mengundurkan diri dari jabatannya, di tengah gejolak pasar modal dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Ibrahim, keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral dan kepemimpinan karena pengunduran diri dilakukan secara sukarela, tanpa tekanan pihak lain.
" (Keputusan) sudah cukup bagus. Artinya apa? Bahwa sebagai pucuk pimpinan, pada saat terjadi satu masalah yang begitu kronis, ya bagi saya itu kronis, ini mempunyai kebijakan yang cukup luar biasa dengan mengundurkan diri. Nah pengunduran diri ini bukan dipaksa, tetapi keinginan dari hati Bapak Iman Rachman sendiri, supaya apa? Supaya pasar ini kembali percaya terhadap regulasi yang ada di Indonesia," tegasnya saat dihubungi IDN Times, Jumat (30/1/2026).
Ia menilai, keputusan tersebut mencerminkan kesadaran para pemimpin di Indonesia akan pentingnya menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.
“Apa yang dilakukan oleh Iman Rachman patut diapresiasi. Ini mengindikasikan bahwa para pemimpin di Indonesia sudah semakin melek dan memahami bahwa ketika terjadi masalah besar, langkah mengundurkan diri bisa menjadi pilihan terbaik sebelum dikeluarkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ibrahim menyebut, pengunduran diri Iman Rachman tidak dapat dilepaskan dari peringatan yang sebelumnya disampaikan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia. Menurut dia, peringatan tersebut sudah muncul sejak sekitar dua bulan lalu.
“Sebenarnya peringatan itu sudah cukup lama, sekitar dua bulan yang lalu. Ada potensi penurunan peringkat karena dinilai perusahaan-perusahaan yang listing di bursa secara laporan terlihat baik, tetapi secara kondisi riil terdapat ketidaksesuaian,” jelas Ibrahim.
Kondisi tersebut kemudian berdampak pada keputusan MSCI untuk mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeksnya, yang berujung pada tekanan besar terhadap IHSG.
Dalam tiga hari perdagangan, IHSG tercatat turun hingga sekitar 8 persen dan bahkan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) sebanyak dua kali.
“Inilah yang akhirnya membuat MSCI mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeksnya. Dampaknya, IHSG selama tiga hari mengalami penurunan signifikan hingga sekitar 8 persen dan sempat terjadi suspensi sementara,” tutur dia.
















