Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BPS: Harga Beras Kompak Naik dari Penggilingan hingga Ecerana
Ilustrasi Bantuan Pangan Beras dari Perum Bulog. (Dok. Bapanas)
  • Harga beras naik di semua level distribusi pada Mei 2026, dari penggilingan hingga eceran, dengan kenaikan tahunan tertinggi mencapai 12,81 persen untuk beras premium.
  • Kenaikan harga beras memberi andil terhadap inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan, bersama komoditas lain seperti cabai merah dan minyak goreng.
  • BPS memproyeksikan produksi beras Januari–Juli 2026 sebesar 21,95 juta ton atau sedikit turun dari tahun lalu, sementara Nilai Tukar Petani naik 1,99 persen karena peningkatan harga komoditas pertanian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras mengalami kenaikan pada seluruh rantai distribusi pada Mei 2026, mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran. Kenaikan tersebut turut memberikan andil terhadap inflasi nasional pada bulan yang sama.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Pudji Ismartini mengatakan, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Mei 2026 mencapai Rp13.765 per kilogram. Angka tersebut naik 0,58 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar Rp13.685 per kilogram, dan meningkat 8,10 persen dibandingkan Mei 2025.

“Rata-rata harga beras di penggilingan pada Mei 2026 secara total naik 0,58 persen secara bulanan dan naik 8,10 persen secara tahunan,” ujar Pudji dalam konferensi pers BPS di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

1. Harga beras premium di tingkat penggilingan dan beras medium naik

Tim Pendampingan Unnes memantau produksi beras organik di lokasi Gapoktan Ngudi Makmur Magelang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Lebih rinci, Pudji menjelaskan, dari segi kualitas, harga beras premium di tingkat penggilingan naik 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 12,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, harga beras medium naik 0,79 persen secara bulanan dan 6,57 persen secara tahunan.

Kenaikan harga juga terjadi di tingkat grosir. Rata-rata harga beras grosir pada Mei 2026 tercatat sebesar Rp14.574 per kilogram, naik 0,68 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar Rp14.476 per kilogram. Secara tahunan, harga beras grosir meningkat 6,11 persen. Di tingkat eceran, rata-rata harga beras mencapai Rp15.358 per kilogram pada Mei 2026, naik 0,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp15.300 per kilogram. Dibandingkan Mei 2025, harga beras eceran meningkat 4,55 persen.

“Harga beras yang kami sampaikan merupakan rata-rata harga beras yang mencakup semua jenis kualitas dan seluruh wilayah di Indonesia,” katanya.

2. Harga beras berikan andil ke inflasi

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Kenaikan harga beras turut memberikan andil terhadap inflasi pada Mei 2026. BPS mencatat, inflasi bulanan sebesar 0,28 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,08 persen. Dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau, komoditas yang paling besar mendorong inflasi adalah cabai merah dengan andil 0,08 persen. Selanjutnya minyak goreng dan bawang merah masing-masing memberikan andil 0,04 persen, diikuti tomat sebesar 0,03 persen dan beras sebesar 0,02 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras,” ujar Pudji.

2. Produksi beras nasional Januari-Juli diproyeksi 21,95 juta ton

Aktivitas menggarap sawah saat padi menguning. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Di sisi lain, BPS memperkirakan produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 21,95 juta ton. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar 22,03 juta ton.

Pudji menjelaskan, proyeksi tersebut didasarkan pada hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) April 2026 yang memotret kondisi pertanaman padi serta potensi panen hingga Juli 2026. Menurut dia, data produksi Januari hingga April 2026 merupakan angka tetap, sedangkan produksi Mei hingga Juli 2026 masih berupa angka potensi yang dapat berubah sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Untuk periode Mei hingga Juli 2026, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mencapai 7,92 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah 0,09 juta ton atau turun 1,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada April 2026, produksi beras tercatat sebesar 4,40 juta ton, turun 16 persen dibandingkan April 2025 yang mencapai 5,23 juta ton.

"Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya luas panen pada bulan yang sama," ujar Pudji.

BPS mencatat, luas panen padi pada April 2026 mencapai 1,40 juta hektare, turun 15,47 persen dibandingkan April 2025 yang sebesar 1,65 juta hektare. Sementara itu, potensi luas panen padi pada Mei hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 2,69 juta hektare atau turun 0,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, secara kumulatif luas panen padi sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 7,20 juta hektare atau naik tipis 0,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

3. Nilai tukar petani naik 1,99 persen

Hamparan padi yang menguning terlihat di Desa Mojoagung Kaliori Rembang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73, naik 1,99 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar 125,24. Kenaikan tersebut terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (IT) meningkat 2,53 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB) sebesar 0,53 persen.

"Nilai Tukar Petani pada Mei 2026 tercatat sebesar 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan April 2026," ujar Pudji.

Secara nasional, kenaikan IT terutama didorong oleh menguatnya harga sejumlah komoditas pertanian, antara lain karet, gabah, kakao atau cokelat biji, serta bawang merah.

Berdasarkan subsektor, NTP hortikultura mencatat kenaikan tertinggi, yakni 7,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan IT sebesar 7,52 persen, sementara IB hanya naik 0,41 persen.

Menurut Pudji, menguatnya NTP hortikultura sejalan dengan kenaikan harga sejumlah komoditas seperti bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan tomat. BPS mencatat produksi cabai merah menurun di sejumlah daerah sentra, seperti Garut, Temanggung, dan Malang, dibandingkan April 2026.

Selain itu, produksi bawang merah di beberapa wilayah juga tertekan akibat cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tanaman, serta kekeringan. Berkurangnya pasokan tersebut mendorong kenaikan harga di pasar dan meningkatkan harga yang diterima petani.

Di sektor perikanan, BPS mencatat perkembangan yang berbeda. Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada Mei 2026 turun 0,47 persen dibandingkan bulan sebelumnya karena kenaikan harga yang diterima nelayan tidak mampu mengimbangi peningkatan biaya yang mereka keluarkan.

Editorial Team

Related Article