Kadin: China Jadi Mitra Strategis di Tengah Geopolitik Timur Tengah

- Presiden Prabowo dijadwalkan hadir di APEC Summit 2026 di China yang dipimpin Xi Jinping, menandai pentingnya kemitraan strategis Indonesia-China di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.
- Investasi asing tumbuh tujuh persen pada Semester I 2026, dengan perdagangan Indonesia-China mencapai 101 miliar dolar AS dan surplus 5,8 miliar dolar berkat ekspor bernilai tambah.
- Duta Besar Djauhari menegaskan China sebagai mitra dagang utama, dengan investasi gabungan China-Hong Kong mencapai sekitar 9 miliar dolar AS serta komitmen Indonesia terhadap investasi berkualitas dan transformasi industri.
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Anindya N. Bakrie mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan menghadiri acara APEC Summit yang akan digelar pada pertengahan November 2026 di China. Acara tersebut akan dipimpin langsung Presiden Xi Jinping.
Ia pun berharap sejumlah pemimpin dunia, seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin turut hadir dalam forum itu di bawah kepemimpinan Xi. Ini menggambarkan bahwa di tengah gonjang-ganjing geopolitik di Timur Tengah, China bisa menjadi suatu mitra yang stabil dan juga tetap membawa pertumbuhan bagi Indonesia.
Hal itu disampaikan Anindya Bakrie dalam acara Indonesia-China Partnership Forum di Jakarta, Kamis (23/7/2027), yang dihadiri 115 investor China.
"Saya dengar tentunya dari teman-teman pemerintah bahwa Pak Presiden Prabowo berkenan untuk hadir. Jadi ini mungkin pertama kali pimpinan-pimpinan dunia, termasuk mudah-mudahan Amerika, Rusia hadir di bawah kepemimpinan China," kata Anindya.
1. Investasi asing tumbuh tujuh persen selama semester I 2026

Anindya memaparkan, data investasi asing sepanjang tahun 2026 tumbuh positif sekitar tujuh persen. Sedangkan perdagangan Indonesia-China tercatat mencapai 168 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang 2025 dan 101 miliar dolar Amerika Serikat selama 2026 ini.
"Kali ini kita berhasil mengekspor barang-barang yang mempunyai nilai tambah sehingga surplusnya menjadi 5,8 miliar dolar dalam enam bulan terakhir ini," kata Anindya.
Selain itu, Indonesia-China telah bersepakat mencanangkan Local Currency Transaction (LCT), dengan transaksi antara Yuan dan Rupiah mencapai 300 persen. Ia pun menyambut positif data tersebut.
"Local Currency Transaction dimulai dengan 30 miliar dolar sekarang menuju 60 miliar dolar. Kira-kira sebulan yang lalu juga kami ke Bank Indonesia mengatakan bahwa langsung antara Rupiah dan Yuan transaksinya sudah naik 300 persen. Jadi artinya ini luar biasa," kata dia.
2. Perdagangan Indonesia-China surplus

Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun menegaskan, China merupakan mitra dagang dan investasi utama Indonesia.
Pada Januari-Juni 2026, total perdagangan kedua negara berdasarkan data kepabeanan China telah mencapai 101 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1.818, dengan Indonesia mencatat surplus sekitar 5,6 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp100,8 triliun.
Adapun hingga bulan Juni tahun 2026, jumlah investasi China dan Hong Kong di Indonesia telah mencapai kurang lebih 9 miliar atau Rp162 triliun.
"Angka ini menunjukkan hubungan ekonomi yang kuat, saling melengkapi, dan terus berkembang. Namun tugas ke depan, tugas kita ke depan bukan hanya meningkatkan angka perdagangan tetapi juga investasi," kata dia.
3. Indonesia tegaskan pro investasi berkualitas

Djauhari menambahkan, Indonesia bukan hanya pasar. Ia mengatakan, penduduk usia produktif menjadi kekuatan penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, konsumsi domestik, pengembangan industri, serta inovasi masa depan.
Di hadapan para calon investor China, Djauhari menegaskan, Indonesia merupakan negara yang pro-investasi dan siap menyambut investasi berkualitas, investasi yang membawa teknologi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas SDM, memperkuat industri nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
"Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya strategis, tenaga kerja muda, dan komitmen kuat untuk transformasi industri. Kekuatan ini tentunya saling melengkapi," kata dia.

















