Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BPS: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Turun Jadi 5,05 Persen

BPS: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Turun Jadi 5,05 Persen
pixabay/stevepb
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan perekonomian Indonesia sepanjang 2023 mencapai 5,05 persen (yoy). Namun kinerja ekonomi ini lebih rendah dibandingkan realisasi 2022 sebesar 5,31 persen (yoy).

"Ekonomi Indonesia 2023 mencatatkan pertumbuhan yang solid. Ini ditopang seluruh lapangan usaha tumbuh positif pada 2023," jelas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia A. Widyasanti, saat konferensi pers, Senin (5/2/2024).

Amalia menjelaskan sektor lapangan usaha menunjukkan laju positif yang disumbang industri pengolahan, industri perdagangan, pertanian pertambangan, dan konstruksi.

"Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi secara tahunan adalah sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 13,96 persen, jasa lainnya tumbuh 10,52 persen," ucap dia.

Sedangkan pertumbuhan dari akomodasi, makanan minuman mencapai 10,01 persen. Pertumbuhan ini ditopang berbagai event Indonesia disepanjang tahun lalu.

"Pertumbuhan akomodasi dan makanan minuman ditopang oleh faktor peningkatan mobilitas masyarakat penyelenggaraan event internasional seperti Piala Dunia U-17, pertemuan KTT Asean, Moto GP Mandalika, dan persiapan pemilu," kata Amalia.

Sementara itu, sumber pertumbuhan ekonomi 2023 masih ditopang industri pengolahan.

"Industri pengolahan topang sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 0,95 persen, walaupun angka ini relatif lebih kecil dari 2022. Namun lebih besar dari 2021," ujar Amalia.

Selain itu, Amalia melanjutkan, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2023 juga ditopang lapangan usaha, seperti perdagangan yang memberikan sumber pertumbuhan 0,63 persen.

Kemudian, transportasi dan pergudangan memberikan sumber pertumbuhan 0,58 persen, serta informasi dan komunikasi dengan sumber pertumbuhan 0,49 persen.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Triyan Pangastuti
EditorTriyan Pangastuti

Related Articles

See More

Harga Barang di Eropa: Negara Mana yang Paling Mahal dan Murah?

28 Jun 2026, 06:04 WIBBusiness