Bukan Cuma Untung, Ini Cara Perusahaan Pastikan Modal Awal Kembali

- Capital recovery adalah proses perusahaan mengembalikan modal awal proyek sebelum dianggap benar-benar untung, dilakukan lewat keuntungan, penjualan aset, atau penagihan piutang.
- Perusahaan menghitung capital recovery dengan analisis nilai beli, nilai jual kembali, dan potensi pendapatan menggunakan metode seperti Discounted Cash Flow untuk menilai kelayakan investasi.
- Berbeda dari titik impas, capital recovery terjadi setelah perusahaan melewati fase impas dan mulai mengembalikan modal awal melalui laba bersih yang diperoleh.
IDN Times, Jakarta - Pernah dengar istilah balik modal dalam bisnis? Dalam dunia profesional, proses ini disebut sebagai capital recovery. Sederhananya, ini adalah cara perusahaan mendapatkan kembali uang yang sudah mereka keluarkan untuk modal awal suatu proyek.
Melansir Investopedia, perusahaan baru bisa dianggap benar-benar untung jika semua modal awalnya sudah kembali 100 persen. Caranya pun beragam, mulai dari mengandalkan keuntungan harian, menjual aset yang sudah tidak terpakai, hingga menagih utang ke pihak lain.
1. Wajib dihitung sebelum belanja besar-besaran

Sebelum manajer perusahaan memutuskan untuk membeli alat mahal, mereka biasanya melakukan analisis capital recovery terlebih dahulu. Mereka akan menghitung berapa harga belinya, berapa harga jualnya nanti kalau sudah bekas (salvage value), dan berapa banyak uang yang bisa dihasilkan alat tersebut.
Perusahaan tidak cuma melihat jumlah uangnya, tapi juga kapan uang itu masuk. Semakin cepat modal kembali, tentu semakin bagus. Strategi ini sangat penting bagi bisnis yang butuh modal jumbo, seperti sektor pertanian.
Bayangkan sebuah perusahaan e-commerce ingin membeli robot gudang seharga 200 ribu dolar AS. Jika robot itu nantinya bisa dijual lagi seharga 50 ribu dolar AS, berarti perusahaan harus "mengejar" sisa modal sebesar 150 ribu dolar AS.
Jika robot tersebut diprediksi bisa menambah pendapatan hingga 400 ribu dolar AS dalam lima tahun, maka investasi ini sangat masuk akal. Selain modal awal balik, perusahaan juga bakal mengantongi keuntungan besar di akhir periode.
2. Kaitannya dengan nilai uang di masa depan

Dalam menghitung balik modal, perusahaan sering menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF). Intinya, metode ini menyadari bahwa uang Rp1 juta hari ini lebih berharga daripada Rp1 juta di masa depan karena adanya potensi pertumbuhan atau inflasi.
DCF membantu perusahaan memastikan apakah hasil di masa depan benar-benar cukup untuk menutup pengeluaran sekarang. Jika hasil hitungannya menunjukkan nilai masa depan lebih kecil dari modal awal, biasanya perusahaan akan membatalkan rencana investasi tersebut.
3. Beda balik modal dengan titik impas

Banyak orang menyamakan capital recovery dengan titik impas (break even point). Padahal, keduanya berbeda. Titik impas adalah kondisi di mana pendapatan cuma cukup buat bayar operasional (gaji karyawan, listrik, dll) sehingga perusahaan tidak rugi, tapi juga belum pegang untung.
Sementara capital recovery baru terjadi setelah perusahaan melewati titik impas dan mulai menyisihkan laba untuk mengganti uang modal awal. Misalnya, perusahaan keluar modal Rp5 miliar. Tahun pertama masih rugi, tahun kedua baru impas (pendapatan = biaya), dan di tahun ketiga barulah modal Rp5 miliar tersebut mulai kembali sedikit demi sedikit dari laba bersih.

















