Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cek Fakta: Benarkah Bikin Usaha di Desa Susah Berkembang?
ilustrasi UMKM. (dok.123rf.com/ferli)
  • Data UMKM, penyaluran KUR, dan kenaikan Desa Mandiri menunjukkan usaha desa terus berkembang, meski biaya distribusi serta jarak ke pusat pasar masih menjadi tantangan.

  • Internet dan e-commerce memperluas pasar UMKM desa; penjual dari luar kota besar meningkat, sementara contoh usaha Garut dan Sukarara mencatat lonjakan omzet setelah memanfaatkan pemasaran digital.

  • KDMP berperan mengonsolidasikan logistik, rantai pasok, pemasaran digital, pembayaran, dan akses pembeli bagi UMKM desa agar pengembangan bisnis lebih terstruktur.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Data dan contoh UMKM menunjukkan usaha desa dapat berkembang melalui pembiayaan, digitalisasi, serta penguatan rantai pasok, meski biaya distribusi dan jarak pasar masih menjadi tantangan.
  • Who?
    Pelaku UMKM desa, petani, pengrajin lokal, Kementerian UMKM, Kemendes PDTT, Komdigi, platform e-commerce, serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih terlibat dalam pengembangan ekosistem usaha perdesaan.
  • Where?
    Perkembangan usaha berlangsung di wilayah perdesaan Indonesia, dengan contoh di Purbalingga, Garut, Sukarara di Lombok Tengah, Mamuju, dan Ciwidey.
  • When?
    Data Desa Mandiri mencatat kenaikan dari 840 desa pada 2019 menjadi 11.456 desa pada 2023. Realisasi KUR mencapai Rp124,7 triliun pada paruh pertama tahun berjalan.
  • Why?
    Akses internet, e-commerce, pembiayaan KUR, dan pendampingan koperasi membuka pasar lebih luas serta membantu konsolidasi logistik, sementara usaha desa masih menghadapi biaya distribusi dan keterbatasan infrastruktur.
  • How?
    UMKM desa memasarkan produk melalui platform digital, live streaming, dan media sosial. KDMP mengonsolidasikan produk, membantu akses pembayaran digital, e-katalog, logistik, serta menghubungkan usaha dengan pembeli siaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Usaha di desa kerap dianggap lebih sulit berkembang karena akses pasar, modal, dan kebutuhan usaha yang terbatas. Anggapan ini bahkan membuat kota sering dipandang menawarkan peluang ekonomi yang lebih besar.

Padahal, desa punya potensi ekonomi yang bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayahnya. Dengan konektivitas, digitalisasi, serta ekosistem usaha yang semakin terhubung, pelaku usaha di desa punya peluang untuk memperluas akses dan pasarnya.

Lantas, benarkah usaha di desa sulit berkembang? Yuk, cek faktanya!

1. Benarkah usaha di desa sulit berkembang?

ilustrasi UMKM. (dok.123rf.com/ferli)

FAKTA: Data pertumbuhan usaha, penetrasi pembiayaan, hingga lonjakan status desa mandiri membuktikan ekonomi perdesaan bergerak masif.

Anggapan bahwa usaha di desa sulit berkembang karena keterbatasan modal dan pasar ternyata tidak sepenuhnya tepat jika kita mengintip data riil di lapangan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT-UMKM) Kementerian UMKM, jumlah UMKM di Indonesia telah menembus 30,19 juta unit yang tersebar hingga ke wilayah pedesaan dan pelosok Tanah Air.

Menariknya, bisnis di desa kini tidak cuma berkutat pada penjualan hasil tani mentah. Contoh nyatanya bisa dilihat dari kemunculan UMKM olahan pangan lokal seperti Nanas-Qu di Purbalingga yang berhasil merangkul sekitar 900 petani nanas madu, hingga Kainnesia yang memberdayakan lebih dari 200 pengrajin tenun lokal untuk menembus pasar yang lebih luas.

Dukungan pembiayaan untuk usaha di daerah juga makin nyata dan agresif. Realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) tercatat sempat menyentuh angka Rp143 triliun yang didominasi oleh sektor mikro dan produksi perdesaan, serta terus melaju hingga menembus Rp124,7 triliun pada paruh pertama tahun berjalan.

Ekosistem perdesaan pun terbukti makin tangguh. Data Kemendes PDTT mencatat tren lonjakan status kemandirian desa yang amat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, di mana jumlah Desa Mandiri melonjak tajam dari hanya 840 desa pada 2019 menjadi 11.456 desa pada 2023.

Meski begitu, tantangan nyata seperti tingginya biaya distribusi dan jarak ke pusat pasar memang masih dirasakan oleh pelaku usaha desa. Rantai pasok yang terfragmentasi kerap kali menggerus margin keuntungan produk lokal.

Di sinilah kehadiran ekosistem pendukung seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menjadi krusial untuk mengonsolidasikan logistik, menjadi agregator, dan menghubungkan produk desa secara efisien ke pasar nasional.

2. Digitalisasi buka akses ke pasar yang lebih luas

ilustrasi UMKM. (dok.123rf.com/ferli)

FAKTA: Penetrasi internet hingga perdesaan dan platform e-commerce terbukti jadi jembatan utama bagi UMKM desa untuk menembus pasar nasional.

Lokasi geografis kini bukan lagi penghalang utama bagi pelaku usaha di daerah untuk menggaet konsumen dari berbagai penjuru wilayah. Penetrasi internet yang terus meluas ke wilayah perdesaan menjadi fondasi utamanya.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet nasional kini sudah menembus lebih dari 81 persen, di mana penetrasi internet di daerah non-metropolitan dan wilayah perdesaan mencatatkan pertumbuhan signifikan yang mengikis kesenjangan digital antara kota dan desa.

Terbukanya akses internet ini dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku usaha di daerah melalui platform e-commerce. Laporan tahunan platform digital seperti Shopee dan Tokopedia menunjukkan tren kenaikan jumlah penjual (seller) baru yang didominasi dari luar kota-kota besar.

Kampanye serta inovasi seperti live shopping dan integrasi media sosial terbukti mendorong transaksi produk lokal, di mana Tokopedia dan TikTok Shop mencatatkan penjualan hingga 700 juta produk lokal dengan pertumbuhan jumlah pelaku usaha daerah yang bergabung meroket lebih dari 50 persen.

Digitalisasi memberikan dampak nyata pada eskalasi bisnis pelaku usaha desa. Contohnya seperti usaha olahan keripik asal Garut, Jawa Barat, yang awalnya mengandalkan penjualan konvensional dengan omzet berkisar Rp5 juta–Rp10 juta per bulan.

Setelah melakukan digitalisasi dan memanfaatkan pemasaran via live streaming serta platform online, jangkauan pasarnya meluas ke seluruh Indonesia hingga meraup kenaikan omzet hingga Rp50 juta–Rp80 juta per bulan.

Cerita serupa datang dari perajin kain tenun desa di Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang semula hanya mengandalkan wisatawan lokal dengan pendapatan Rp3 juta per bulan, kini sukses membukukan omzet puluhan juta rupiah per bulan berkat etalase digital e-commerce. Digitalisasi terbukti bukan sekadar gaya hidup, melainkan mesin pertumbuhan yang membawa produk desa naik kelas.

3. Membangun ekosistem usaha dari desa

ilustrasi UMKM. (dok.123rf.com/ferli)

FAKTA: Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) hadir sebagai penggerak ekosistem dan penopang rantai pasok usaha perdesaan.

Meskipun potensi pasar dan teknologi digital sudah terbuka lebar, perjuangan pelaku UMKM di perdesaan secara individu tentu tidak mudah. Tantangan infrastruktur di wilayah 3T, tingginya biaya logistik, hingga keterbatasan akses listrik masih menjadi dinding penghalang yang nyata.

Di sinilah peran penting Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dibutuhkan. KDMP tidak hadir sekadar sebagai lembaga simpan-pinjam, melainkan dibentuk untuk menjadi wadah konsolidasi dan agregator bisnis yang menguatkan posisi tawar pelaku usaha desa di pasar nasional.

Kehadiran KDMP di berbagai daerah terbukti mulai memberikan akselerasi nyata bagi UMKM lokal. Sebagai contoh, di Mamuju, Sulawesi Barat, pengurus KDMP mulai memanfaatkan berbagai kanal untuk menguasai pemasaran digital via TikTok, Instagram, hingga WhatsApp Business. Hasilnya, produk olahan pangan dan hasil tani lokal yang sebelumnya hanya menjangkau pasar sekitar kini dapat dipasarkan secara lebih terstruktur ke luar daerah.

Peran KDMP juga diperkuat dengan belajar dari praktik koperasi yang telah lebih dulu berhasil membangun ekosistem usaha. Salah satunya melalui pembelajaran dari Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq di Ciwidey, Jawa Barat, yang memiliki pengalaman dalam mengintegrasikan rantai pasok dan menyerap produk petani lokal.

Praktik tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi KDMP dalam membangun model usaha yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan desa masing-masing. Dengan penguatan rantai pasok, akses pasar, dan pemanfaatan teknologi digital, KDMP diharapkan dapat membantu pelaku usaha desa mengembangkan skala bisnisnya secara lebih terstruktur.

Melalui pendampingan KDMP, masalah klasik UMKM seperti pengiriman barang yang mahal dan pasar yang terbatas bisa diurai secara kolektif. KDMP bertindak sebagai fasilitator yang menggandeng UMKM desa masuk ke e-catalog, mengakses sistem pembayaran digital, hingga terhubung dengan pembeli siaga (offtaker).

Dengan ekosistem penopang yang solid dari KDMP, pelaku usaha dari desa kini tidak lagi berjalan sendirian, melainkan bergerak bersama untuk memperbesar skala bisnis dan naik kelas. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article