CEO DANA: WEF 2026 Dorong Ekonomi dan Teknologi Indonesia

- CEO Dana Indonesia, Vince Iswara, menilai WEF Davos 2026 sebagai momentum penting untuk membaca arah perekonomian global dan perkembangan teknologi.
- Vince menganggap forum ini relevan karena berlangsung di awal tahun dan dapat menjadi indikator tren ekonomi dan teknologi sepanjang 2026.
- Vince menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai peluang besar bagi masyarakat Indonesia meningkatkan daya saing global.
Jaharta, IDN Times - CEO & Co-Founder Dana Indonesia, Vince Iswara, menilai kehadiran pemimpin dunia dan tokoh global di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menjadi momentum penting untuk membaca arah perekonomian global sekaligus perkembangan teknologi pada awal 2026.
Ia menyebut forum tersebut dihadiri banyak peserta berprofil tinggi, mulai dari presiden sejumlah negara hingga pimpinan perusahaan global. Kehadiran para tokoh itu turut membawa delegasi besar dan membuka peluang pertemuan lintas negara.
“Dengan hadirnya high profile attendees dari berbagai negara, kita bisa menangkap bagaimana mood (arah) ekonomi dunia, teknologi, serta isu-isu yang berpotensi berdampak pada masyarakat dan perekonomian global,” ujarnya dalam wawancara bersama Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, Selasa (20/1/2026).
1. Manfaatkan beragam kesempatan dalam WEF

Vince menilai forum ini relevan karena berlangsung di awal tahun, sehingga dapat menjadi indikator tren ekonomi dan teknologi sepanjang 2026.
Ia mengaku telah mendaftar untuk mengikuti sejumlah sesi diskusi guna menggali perspektif global.
Selain agenda resmi, ia juga memanfaatkan kesempatan untuk bertemu delegasi Indonesia dan tokoh internasional, berharap dapat memperluas jejaring serta membuka peluang kolaborasi.
2. Indonesia punya potensi kembangkan AI

Vince juga mengatakan, Indonesia memiliki posisi strategis di tengah pertemuan negara maju dan berkembang. Di satu sisi hadir pemimpin negara maju seperti Amerika Serikat dan Prancis, sementara Indonesia merepresentasikan kepentingan Global South.
“Ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk melakukan showcase potensi nasional dan mendorong minat global terhadap Indonesia,” ujarnya.
Ke depannya, Vince berharap forum ini dapat menghasilkan kerja sama konkret, khususnya dalam pengembangan ekonomi digital, teknologi, serta meningkatkan ketertarikan investor global terhadap Indonesia.
3. AI dianggap bisa medorong daya saing Indonesia

Selain itu, Vince menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai peluang besar bagi masyarakat Indonesia meningkatkan daya saing global.
AI dinilai mampu menciptakan kesetaraan kesempatan antarnegara dalam mengadopsi dan mengembangkan teknologi sesuai kapasitas masing-masing.
“Ini justru menjadi potensi yang sangat baik bagi masyarakat Indonesia. AI tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau riset, tetapi juga untuk pendidikan, pengembangan kebudayaan, pelatihan, hingga penelitian sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” ujarnya.
Menurut Vince, kemajuan AI saat ini bersifat leveling the playing field, karena hampir seluruh negara berada pada tahap sama dalam proses adopsi. Meskipun beberapa negara seperti AS dan China lebih maju, akses terhadap teknologi AI tidak sepenuhnya terbuka, sehingga memberi peluang bagi negara lain untuk berkembang mandiri.
Dengan pemanfaatan AI yang tepat, Vince melihat Indonesia mampu memperkuat posisi di kancah global, sekaligus menciptakan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
4. AI bisa tingkatkan produktivitas

Di internal perusahaan, DANA telah menetapkan komitmen mengembangkan kemampuan AI bagi seluruh karyawan. Perusahaan menegaskan adopsi AI tidak ditujukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan sebagai alat bantu meningkatkan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling).
“Kami berkomitmen untuk tidak menggantikan pekerjaan dengan AI, tetapi menjadikannya asisten dalam meningkatkan kemampuan dan produktivitas,” katanya.
Pemanfaatan AI di DANA telah diterapkan lintas divisi, mulai dari teknologi, produk, legal, keuangan, hingga sumber daya manusia. Implementasi tersebut dinilai mampu mempercepat proses kerja, meningkatkan kualitas produk, serta menghadirkan layanan yang lebih personal bagi pengguna.

















