CEO Meta Bertemu Trump Bahas Ancaman Pajak Digital

- Mark Zuckerberg kunjungi Gedung Putih untuk diskusi pajak digital.
- Trump ancam tarif tambahan pada negara pemberlaku pajak digital.
- Meta khawatir dampak pajak digital terhadap bisnisnya.
Jakarta, IDN Times - CEO Meta Platforms, Mark Zuckerberg, mengadakan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Jumat (22/8/2025), untuk membahas isu pajak layanan digital yang diberlakukan di berbagai negara. Diskusi ini terjadi di tengah ketegangan perdagangan global yang makin meningkat akibat regulasi pajak digital.
Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, pada Senin (26/8/2025), Presiden Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan pada barang impor dari negara-negara yang tidak mencabut undang-undang pajak digital tersebut. Ancaman ini menegaskan sikap pemerintah AS untuk melindungi kepentingan perusahaan teknologi negara mereka.
1. Kunjungan Mark Zuckerberg ke Gedung Putih dan pembahasan pajak digital
Mark Zuckerberg melakukan kunjungan ke Gedung Putih untuk berdiskusi secara pribadi dengan Presiden Donald Trump terkait pajak jasa digital yang diberlakukan oleh beberapa negara, terutama di Eropa. Dalam pertemuan tertutup tersebut, Zuckerberg menyampaikan kecemasan Meta terhadap pajak yang dikenakan pada pendapatan iklan dari layanan seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
Seorang sumber yang mengetahui pertemuan menyatakan bahwa masalah pajak layanan digital ini sangat merugikan perusahaan teknologi Amerika. Meta mendapatkan sebagian besar pendapatannya dari iklan digital yang disasarkan ke pengguna di berbagai negara, sehingga pajak ini berdampak langsung pada bisnis mereka.
"Tindakan ini dirasa diskriminatif terhadap perusahaan teknologi Amerika," ujar seorang sumber yang enggan disebutkan namanya, dilansir Bloomberg.
2. Ancaman tarif tambahan oleh Trump terhadap negara pemberlaku pajak digital
Beberapa hari usai pertemuan dengan Zuckerberg, Presiden Trump mengeluarkan pernyataan tegas yang mengancam akan memberlakukan tarif lanjutan atau tambahan pada barang impor dari negara-negara yang mempertahankan pajak digital. Trump menegaskan bahwa pajak ini merugikan perusahaan-perusahaan teknologi Amerika.
“Kami akan berdiri untuk melindungi perusahaan teknologi luar biasa Amerika dan menuntut negara-negara lain menunjukkan rasa hormat,” ujar Trump.
Ancaman ini secara spesifik diarahkan kepada negara-negara di Eropa yang telah menerapkan pajak semacam ini, seperti Prancis yang memulai kebijakan tersebut sejak 2019. Menurut Trump, tindakan kebijakan pajak dan regulasi digital ini bertujuan untuk menekan dan mendiskriminasi teknologi Amerika. Kebijakan ini juga berpotensi mempengaruhi hubungan perdagangan antara AS dengan negara-negara pemberlaku pajak digital tersebut.
3. Respons perusahaan dan dampak bisnis Meta terhadap pajak digital
Meta mengonfirmasi pada Rabu (27/8/2025), pertemuan antara CEO-nya dan Presiden Trump, menyatakan bahwa mereka membahas investasi infrastruktur domestik dan upaya memperkuat kepemimpinan teknologi AS di kancah global. Perusahaan menyatakan kekhawatiran yang sama dengan pemerintah AS terkait dampak pajak digital yang telah menjadi sumber ketegangan perdagangan selama beberapa tahun terakhir.
Meta baru-baru ini melaporkan pendapatan sebanyak 47,52 miliar dolar AS (Rp778,8 triliun) untuk kuartal yang berakhir Juni 2025, melebihi prediksi analis pasar. Pajak digital yang dikenakan pada pendapatan iklan perusahaan dipandang sebagai ancaman terhadap pertumbuhan bisnis tersebut. Sejumlah perusahaan teknologi lainnya, seperti Alphabet dan Apple, juga mengalami tekanan serupa dari regulasi dan pajak digital yang diterapkan di berbagai negara.