China Catat Rekor Tertinggi Ekspor Logam Tanah Jarang pada 2025

- China rilis data ekspor rare earth atau logam tanah jarang 2025 naik 12,9 persen
- China batasi ekspor elemen rare earth berat melalui pengumuman nomor 18
- China terapkan strategi kontrol ekspor rare earth strategis
Jakarta, IDN Times - China, sebagai produsen rare earth atau logam tanah jarang terbesar di dunia, mencatat volume ekspor elemen tanah jarang mencapai level tertinggi sejak setidaknya 2014, dengan total 62.585 ton metrik sepanjang 2025. Pencapaian ini terjadi meskipun pemerintah mulai membatasi pengiriman beberapa elemen medium hingga berat sejak April 2025 sebagai bagian dari strategi pengendalian sumber daya kritis.
Ekspor yang melonjak ini mencerminkan permintaan global yang kuat terhadap bahan baku penting untuk teknologi tinggi, termasuk baterai kendaraan listrik, turbin angin, dan chip semikonduktor. Meski ada pembatasan ekspor, China tetap mendominasi sekitar 60-70 persen pasokan rare earth dunia.
1. China rilis data ekspor rare earth 2025 naik 12,9 persen
Administrasi Umum Bea Cukai China merilis data pada Rabu (14/1/2025), yang menunjukkan ekspor rare earth sepanjang 2025 meningkat 12,9 persen secara tahunan menjadi 62.585 ton metrik. Elemen tanah jarang ini digunakan secara luas dalam industri elektronik konsumen, otomotif, hingga peralatan pertahanan sebagai bahan baku penting untuk magnet, baterai, dan komponen teknologi tinggi.
Nilai ekspor mencapai 511,4 juta dolar AS (Rp8,6 triliun), naik 4,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun pemerintah menerapkan pembatasan terhadap tujuh elemen medium dan berat serta produk magnet sejak April 2025. Kenaikan volume ini terjadi karena pembeli internasional memesan lebih banyak pada November 2025 untuk persiapan libur Natal, menurut seorang analis yang enggan disebut namanya.
2. China batasi ekspor elemen rare earth berat melalui pengumuman nomor 18
Pada April 2025, Kementerian Perdagangan dan Administrasi Umum Bea Cukai China menerbitkan Pengumuman Nomor 18 yang memberlakukan kontrol ekspor ketat terhadap elemen rare earth berat seperti samarium, gadolinium, terbium, dysprosium, lutetium, scandium, dan yttrium, termasuk oksida, paduan, serta senyawa terkait. Langkah ini merupakan respons terhadap tarif tinggi yang diberlakukan AS, menyebabkan penurunan drastis ekspor magnet pada bulan April dan Mei 2025.
Pengiriman ekspor mulai pulih sejak Juni 2025 setelah serangkaian kesepakatan antara China dengan AS dan Eropa. Pembatasan lebih difokuskan pada elemen berat bernilai tinggi yang krusial untuk teknologi canggih, berbeda dengan rare earth ringan yang mendominasi volume ekspor tahunan.
3. China terapkan strategi kontrol ekspor rare earth strategis
Ekspor rare earth China pada Desember 2025 turun 20 persen dari November 2025 menjadi 4.392 ton akibat melemahnya permintaan setelah pembeli internasional menumpuk stok jelang libur Natal. Meski demikian, volume tersebut masih 32 persen lebih tinggi dibandingkan Desember 2024, mencerminkan tren tahunan yang kuat sepanjang 2025.
Strategi China memisahkan pembatasan ketat pada elemen rare earth strategis bernilai tinggi sambil mempertahankan volume ekspor total untuk menjaga dominasi rantai pasok global. China mendominasi proses pemisahan kimia dan manufaktur magnet, sehingga membuat rantai pasok Barat tetap bergantung pada pasokannya meskipun pembeli asing berupaya membangun stok cadangan sebagai respons terhadap kontrol ekspor.
“Kontrol ekspor bukan bertujuan menghentikan perdagangan, melainkan membentuknya dengan membatasi apa yang benar-benar penting,” ujar seorang analis dari Rare Earth Exchanges.

















