Jakarta, IDN Times - Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu oleh gejolak global. Tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini dinilai lebih banyak berasal dari faktor domestik, seperti ketidakpastian kebijakan, meningkatnya persepsi risiko investor, hingga berbaliknya neraca perdagangan ke zona defisit.
Ekonom Core Indonesia Dipo Satria Ramli menjelaskan faktor global seperti konflik geopolitik di Timur Tengah memang sempat memicu gejolak di pasar keuangan. Namun, kontribusinya diperkirakan hanya sekitar 30 persen–40 persen, sedangkan faktor domestik mencapai 60 persen–70 persen.
"Tetapi yang menjadi masalah hari ini adalah si faktor domestik itu. Mungkin faktor global itu mungkin 30-40 persen, domestik mungkin 60-70 persen dari masalah. Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau kita lihat trendnya, itu memang rupiah yang melemah paling dalam di Asia," ungkapnya dalam Core Mid Year Economic Review 2026 di Jakarta pada Rabu (29/7/2026).
