Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Itu Shrinkflation? Ini Dampaknya bagi Konsumen saat Berbelanja
ilustrasi belanja bulanan (pexels.com/Ninthgrid)
  • Shrinkflation terjadi saat produsen mengurangi isi produk tanpa menurunkan harga, membuat konsumen membayar sama untuk jumlah barang yang lebih sedikit.
  • Fenomena ini bikin pengeluaran terasa lebih boros karena konsumen harus membeli produk lebih sering meski daftar belanja tetap sama.
  • Perubahan isi sering tak disadari karena kemasan dibuat mirip, sehingga penting bagi konsumen memeriksa berat bersih agar tidak dirugikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa produk favorit di rumah jadi lebih cepat habis meski harganya tidak berubah? Banyak konsumen menganggap hal itu sekadar perasaan, padahal beberapa produk memang mengalami pengurangan isi tanpa disadari pembeli. Situasi ini dikenal sebagai shrinkflation, yakni strategi ketika ukuran atau jumlah produk dikurangi, tetapi harga jualnya tetap dipertahankan.

Strategi ini kini makin sering ditemukan pada berbagai produk kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan ringan hingga minuman kemasan. Tanpa disadari, shrinkflation bisa membuat konsumen mengeluarkan lebih banyak uang untuk jumlah produk yang lebih sedikit. Lalu, apa sebenarnya shrinkflation dan bagaimana dampaknya bagi konsumen saat berbelanja? Simak penjelasannya sampai habis, ya!

1. Ukuran produk mengecil tanpa banyak disadari konsumen

ilustrasi camilan (pexels.com/Diego Girón)

Pernah merasa isi camilan favorit jadi lebih cepat habis dibanding biasanya? Hal itu bisa terjadi karena beberapa produsen diam-diam mengurangi isi produk tanpa mengubah harga jualnya. Kemasan produk umumnya tetap dibuat mirip agar perubahan ukuran tidak terlalu terlihat oleh konsumen.

Langkah ini sering dipilih perusahaan untuk menjaga harga jual tetap stabil di tengah meningkatnya biaya bahan baku, produksi, dan distribusi. Akibatnya, konsumen tanpa sadar harus membayar nominal yang sama untuk isi produk yang lebih sedikit dibanding sebelumnya. Oleh sebab itu, penting untuk lebih teliti memeriksa berat bersih atau jumlah isi produk agar tidak mudah tertipu tampilan kemasan yang terlihat tetap sama.

2. Shrinkflation membuat pengeluaran belanja terasa lebih boros

ilustrasi mencatat semua pengeluaran (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Tidak sedikit orang mulai merasa pengeluaran bulanan semakin membengkak meski daftar belanja yang dibeli masih sama seperti biasanya. Salah satu penyebabnya adalah shrinkflation, yakni saat ukuran atau jumlah produk dikurangi sehingga konsumen perlu membeli produk lebih sering dari biasanya. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa diam-diam membuat pengeluaran kebutuhan sehari-hari terasa semakin besar.

Produk sehari-hari seperti kopi, susu, mi instan, hingga makanan ringan termasuk yang sering dikaitkan dengan fenomena ini. Konsumen akhirnya mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan jumlah produk yang sama seperti sebelumnya. Supaya lebih hemat, cobalah membandingkan harga berdasarkan berat atau volume asli produk, bukan hanya melihat harga kemasan.

3. Kemasan menarik sering membuat perubahan isi produk luput diperhatikan

ilustrasi camilan yang dibuka (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sekilas, banyak produk masih terlihat sama seperti biasanya meski isi di dalamnya telah berkurang. Produsen biasanya tetap menggunakan tampilan kemasan yang serupa supaya pengurangan isi produk tidak terlalu terlihat oleh konsumen saat berbelanja. Bahkan, beberapa merek sengaja membuat kemasan tampak lebih tinggi atau tebal supaya produk tetap terlihat penuh dan mengesankan isinya tidak berubah.

Strategi visual seperti ini sering membuat pembeli fokus pada tampilan dibanding mengecek detail informasi produk. Akibatnya, konsumen bisa terus membeli produk yang sama tanpa sadar mendapatkan isi lebih sedikit. Agar lebih teliti, biasakan memeriksa keterangan berat bersih atau netto yang tercantum pada kemasan sebelum membeli.

4. Shirkflation tidak hanya terjadi pada makanan ringan

ilustrasi deterjen (pexels.com/Ron Lach)

Shrinkflation ternyata tidak hanya terjadi pada makanan ringan atau minuman kemasan yang sering dibeli sehari-hari. Sejumlah produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun, deterjen, hingga tisu juga mulai mengalami penyusutan ukuran secara perlahan. Dalam beberapa kasus, jumlah isi, volume cairan, atau lembar produk dikurangi tanpa banyak disadari konsumen.

Karena perubahan dilakukan secara bertahap, banyak konsumen tidak langsung menyadari perbedaannya. Kondisi ini membuat masyarakat merasa kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mahal dari biasanya. Oleh sebab itu, membandingkan ukuran produk lama dan baru bisa membantu konsumen lebih bijak saat berbelanja.

5. Shrinkflation bisa memengaruhi kepercayaan konsumen terhadap merek

ilustrasi belanja dengan membawa list barang yang akan dibeli (pexels.com/Kampus Production)

Tidak sedikit konsumen merasa tertipu saat menyadari produk favoritnya kini berisi lebih sedikit tanpa informasi yang jelas. Strategi ini kerap dianggap kurang jujur karena harga tetap dipasang sama meski jumlah produk diam-diam dikurangi. Jika terus terjadi, kondisi tersebut bisa membuat kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek perlahan memudar.

Di media sosial, tidak sedikit pembeli yang mulai membandingkan ukuran produk lama dan baru sebagai bentuk protes. Respons tersebut menunjukkan bahwa konsumen sekarang semakin peka dan lebih memperhatikan perubahan pada produk yang mereka gunakan sehari-hari. Karena itu, perusahaan perlu menjaga komunikasi yang lebih terbuka agar loyalitas pelanggan tetap terjaga.

6. Konsumen perlu lebih cermat agar tidak dirugikan saat berbelanja

ilustrasi wanita sedang membaca label produk susu (freepik.com/gpointstudio)

Shrinkflation sering kali luput dari perhatian karena perubahan pada isi produk dilakukan secara bertahap dan tidak terlalu mencolok. Meski begitu, konsumen tetap bisa meminimalkan dampaknya dengan menjadi pembeli yang lebih cermat dan kritis saat berbelanja. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membandingkan harga berdasarkan berat atau volume produk, bukan hanya melihat tampilan kemasannya.

Selain itu, konsumen juga bisa mencoba produk alternatif yang menawarkan isi lebih banyak dengan harga serupa. Kebiasaan kecil seperti mengecek label netto dapat membantu pengeluaran tetap lebih terkontrol dalam jangka panjang. Dengan memahami shrinkflation, konsumen bisa berbelanja lebih cerdas dan tidak mudah terkecoh oleh tampilan kemasan.

Shrinkflation menjadi fenomena yang makin sering ditemui dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari makanan ringan hingga kebutuhan rumah tangga. Meski terlihat sepele, pengurangan isi produk tanpa perubahan harga bisa membuat pengeluaran belanja terasa lebih besar jika tidak disadari. Karena itu, jangan lupa lebih teliti saat belanja supaya dompet tetap aman dan gak gampang terkecoh kemasan, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article