Shrinkflation Mengintai: Rupiah Melemah, Produk Konsumen Makin Kecil

- Pelemahan rupiah hingga Rp17.613,5 per dolar AS membuat biaya bahan baku impor naik, mendorong perusahaan menerapkan strategi shrinkflation untuk menjaga margin tanpa menaikkan harga jual.
- Shrinkflation paling banyak terjadi pada produk kertas rumah tangga dan makanan ringan, dengan penyusutan ukuran mencapai 1,8 persen dan 0,5 persen selama periode 2015–2021.
- Fenomena shrinkflation dinilai dapat menurunkan daya beli masyarakat secara terselubung karena konsumen membayar harga sama untuk isi produk yang lebih sedikit di tengah tekanan inflasi global.
Jakarta, IDN Times – Pelemahan rupiah membuat biaya bahan baku impor melambung bagi pengusaha. Meski kenaikan biaya belum sepenuhnya diteruskan ke harga konsumen, industri punya cara lain untuk menekan margin: mengurangi isi dan ukuran produk. Fenomena ini dikenal dengan istilah shrinkflation.
Apabila mengacu pada data Bloomberg, rupiah sudah menyentuh level terendah sepanjang sejarah, yakni Rp17.613,5 per dolar AS pada perdagangan kemarin. Kondisi ini menambah tekanan bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor, sehingga shrinkflation menjadi salah satu strategi untuk menjaga profitabilitas tanpa langsung menaikkan harga jual.
Lantas, apa itu shrinkflation dan apa penyebabnya?
1. Shrinkflation sebagai respons atas naiknya biaya produksi

Dilansir dari situs World Economic Forum, Shrinkflation terjadi ketika perusahaan mengecilkan ukuran atau isi produk tanpa menaikkan harga jual. Praktik ini biasanya menjadi respons terhadap kenaikan biaya produksi, mulai dari bahan baku, energi, hingga biaya tenaga kerja—atau persaingan pasar yang ketat. Dengan cara ini, perusahaan tetap bisa menjaga margin keuntungan sekaligus menghindari kenaikan harga yang terlalu terasa oleh konsumen.
Fenomena shrinkflation paling sering muncul di sektor makanan, minuman, dan produk konsumen cepat habis (FMCG). Meskipun pengurangan ukuran produk sering terlihat kecil, hal ini bisa mempengaruhi persepsi konsumen dan menyulitkan pengukuran inflasi.
2. Praktik penyusutan produk paling banyak terjadi di kategori barang konsumsi

Praktik penyusutan ukuran produk atau shrinkflation semakin marak terjadi di berbagai kategori barang konsumsi selama periode 2015–2021. Berdasarkan grafik penelitian, produk kertas rumah tangga menjadi kategori dengan tingkat penyusutan ukuran tertinggi dibandingkan kategori lainnya.
Dalam grafik dijelaskan, hampir 1,8 persen produk kertas rumah tangga tercatat mengalami pengurangan ukuran kemasan atau isi produk. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kategori lain seperti makanan ringan, teh, kopi, hingga produk roti dan kue.
Selain produk rumah tangga, kategori makanan ringan atau snacks juga mencatat tingkat penyusutan ukuran cukup tinggi, mencapai sekitar 0,5 persen dari total observasi. Sementara produk seperti roti manis, donat, teh, serta popok bayi dan balita turut menunjukkan kecenderungan serupa.
3. Waspadai munculnya fenomena Shrinkflation bica picu pengurangan daya beli

Lebih lanjut, fenomena ini terjadi ketika produsen mengurangi ukuran atau isi produk tanpa menurunkan harga jual, sehingga konsumen membayar harga yang sama untuk jumlah produk yang lebih sedikit. Strategi tersebut umumnya dilakukan untuk menekan kenaikan biaya produksi akibat inflasi, kenaikan harga bahan baku, hingga pelemahan nilai tukar mata uang.
Dengan demikian, danya praktik upsizing atau pembesaran ukuran produk, namun persentasenya cenderung lebih kecil dibandingkan downsizing. Produk kertas rumah tangga kembali menjadi kategori dengan tingkat upsizing tertinggi.
Praktik shrinkflation menjadi perhatian karena dinilai dapat mengurangi daya beli masyarakat secara terselubung. Konsumen sering kali tidak langsung menyadari perubahan ukuran kemasan, terutama jika desain produk tetap dibuat serupa dengan sebelumnya.
Di tengah tekanan inflasi global dan pelemahan mata uang di sejumlah negara, praktik penyusutan ukuran produk diperkirakan masih akan berlanjut pada berbagai barang kebutuhan sehari-hari.



![[QUIZ] Dari Zodiakmu, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu (Part 1)](https://image.idntimes.com/post/20240308/2150354467-0e529929d1bb3576b4087c8f48db7043.jpg)















