Harga Produk Gak Naik tapi Isi Menyusut? Kenali Trik Shrinkflation

- Shrinkflation adalah praktik mengurangi isi produk tanpa menaikkan harga, terjadi saat inflasi meningkat
- Produk sehari-hari seperti roti, minuman kemasan, dan makanan ringan sering terkena shrinkflation
- Produsen memilih mengurangi isi produk untuk menjaga daya beli konsumen dan mempertahankan margin keuntungan
Pernah merasa makanan favoritmu seakan berubah? Kemasannya tampak sama persis, harganya pun tak bergerak, tapi kok isinya terasa lebih cepat habis? Jika iya, kamu mungkin telah menjadi target dari sebuah strategi bisnis yang dikenal sebagai shrinkflation.
Ini bukan ilusimu belaka, melainkan fenomena nyata yang kerap muncul di tengah tekanan inflasi. Secara sederhana, shrinkflation adalah praktik mengurangi kuantitas atau ukuran produk sementara harga jualnya dipertahankan. Jadi tanpa sadar, kamu membayar jumlah uang yang sama untuk mendapatkan produk yang lebih sedikit.
Artikel ini akan membahas bagaimana trik ini bekerja dan apa yang bisa kamu lakukan sebagai konsumen yang cerdas.
Table of Content
1. Apa itu shrinkflation dan mengapa sering terjadi

Shrinkflation adalah kondisi ketika produsen mengurangi isi atau ukuran produk, sementara harga tetap sama seperti sebelumnya. Dari luar, kemasan terlihat familier sehingga banyak konsumen tidak langsung sadar ada perubahan. Praktik ini biasanya muncul saat tekanan inflasi membuat biaya bahan baku, distribusi, dan tenaga kerja meningkat.
Produsen menilai sebagian konsumen lebih sensitif terhadap kenaikan harga dibanding perubahan jumlah isi. Oleh karena itu, mengurangi isi dianggap lebih “aman” daripada menaikkan harga. Strategi ini membantu perusahaan menjaga daya beli konsumen sekaligus mempertahankan margin keuntungan. Dampaknya, kamu tetap membayar nominal yang sama, tapi mendapatkan produk lebih sedikit.
2. Produk apa saja yang sering terkena shrinkflation?

Shrinkflation paling sering terjadi pada produk kebutuhan sehari-hari yang rutin kamu beli. Contohnya roti, sereal, minuman kemasan, produk perawatan diri, hingga makanan ringan. Produk-produk ini biasanya dibeli berulang sehingga perubahan kecil pada isi sering luput dari perhatian.
Produsen juga cenderung memilih produk dengan kemasan tertutup atau ukuran yang jarang dibandingkan secara detail oleh konsumen. Misalnya, jumlah lembar tisu, berat bersih makanan, atau volume minuman. Dalam jangka panjang, pengurangan kecil ini bisa membuat pengeluaran bulanan kamu terasa lebih besar meski harga satuannya tidak berubah.
3. Cara kerja shrinkflation dari sudut pandang bisnis

Dalam dunia bisnis, keputusan menaikkan harga atau mengurangi isi bergantung pada permintaan dan penawaran. Saat produsen menilai permintaan produknya cukup sensitif terhadap harga, mereka akan menghindari kenaikan harga langsung. Sebagai gantinya, isi produk dikurangi secara bertahap.
Biaya produksi yang meningkat menjadi pemicu utama shrinkflation. Kenaikan harga bahan baku, bahan bakar, sewa, transportasi, dan tenaga kerja membuat biaya operasional melonjak. Dengan mengurangi ukuran produk, perusahaan bisa menekan biaya produksi dan pengemasan. Akhirnya, konsumen tetap menanggung dampak inflasi, hanya saja dalam bentuk yang lebih halus.
4. Dampak shrinkflation bagi konsumen

Dampak paling nyata dari shrinkflation adalah nilai uang kamu yang menurun tanpa terasa. Secara tidak langsung, harga per satuan produk sebenarnya naik. Misalnya, berat produk berkurang 20 persen tapi harga tetap, maka biaya per gram atau per ons otomatis meningkat.
Selain itu, shrinkflation bisa memengaruhi perencanaan keuangan rumah tangga. Produk yang biasanya cukup untuk satu minggu kini mungkin hanya bertahan beberapa hari. Kalau gak disadari, kamu bisa merasa pengeluaran makin boros tanpa tahu penyebab pastinya. Kondisi ini membuat konsumen perlu lebih jeli saat berbelanja.
5. Cara cerdas menyiasati shrinkflation saat belanja

Langkah paling efektif menghadapi shrinkflation adalah membandingkan harga per satuan atau unit price. Perbandingan ini membantu kamu melihat nilai sebenarnya dari sebuah produk. Harga per gram, per ons, atau per liter memberi gambaran lebih akurat dibanding sekadar melihat harga di rak.
Pilihan lain adalah membeli produk dengan kemasan besar atau minim kemasan. Barang curah dan produk segar seperti buah, telur, atau sayuran cenderung lebih jarang terkena shrinkflation dalam jangka pendek. Berbelanja di toko yang menyediakan pembelian dalam jumlah besar juga bisa menjadi strategi untuk menekan biaya per unit.
Shrinkflation menunjukkan harga tidak selalu naik secara terang-terangan saat inflasi terjadi. Isi produk yang menyusut pelan-pelan bisa berdampak besar pada pengeluaran kamu kalau gak disadari.
Dengan memahami cara kerja dan ciri-cirinya, kamu bisa menjadi konsumen yang lebih kritis. Kebiasaan membandingkan harga per satuan dan membaca informasi kemasan akan sangat membantu. Langkah sederhana ini membuatmu tetap bisa berhemat meski kondisi ekonomi sedang menantang.
FAQ seputar shrinkflation
| Apa itu shrinkflation? | Shrinkflation adalah kondisi ketika ukuran, berat, atau isi produk dikurangi, tetapi harga tetap sama (atau bahkan naik). |
| Mengapa perusahaan melakukan shrinkflation? | Beberapa alasan umum: biaya produksi naik, tekanan inflasi, perusahaan ingin menjaga harga terlihat stabil, persaingan ketat |
| Bagaimana cara mengenali shrinkflation? | Bandingkan berat/isi bersih (netto), bukan hanya harga;perhatikan perubahan kemasan baru; hitung harga per gram/ml; bandingkan dengan produk lama atau merek lain |
| Apa dampak shrinkflation bagi konsumen? | Daya beli menurun tanpa terasa, konsumen merasa tertipu, pengeluaran jadi lebih besar dalam jangka panjang |
| Apakah shrinkflation sama dengan inflasi? | Tidak persis. Inflasi adalah harga naik, sedangkan shrinkflation adalah ukuran turun. Keduanya sama-sama menurunkan nilai uang konsumen. |



















