ilustrasi Norwegia (unsplash.com/Tobias Tullius)
Meski sebagian besar negara Eropa menghadapi tekanan fiskal, beberapa negara justru berhasil mencatat surplus anggaran. Norwegia menjadi contoh paling menonjol dengan surplus sebesar 12,5 persen dari PDB. Denmark juga membukukan surplus 3,3 persen, sedangkan Yunani mencatat 3,2 persen. Hasil ini menunjukkan kondisi fiskal setiap negara bisa sangat berbeda meskipun berada di kawasan yang sama.
Keberhasilan Norwegia gak lepas dari besarnya pendapatan yang berasal dari sektor minyak dan gas. Ketika harga energi global meningkat, penerimaan negara dari sektor tersebut ikut melonjak sehingga memperkuat posisi anggaran pemerintah. Swiss, Siprus, dan Irlandia juga mampu mempertahankan kondisi fiskal yang relatif sehat dibanding banyak negara Eropa lainnya. Fakta ini menunjukkan bahwa sumber pendapatan yang kuat dapat membantu negara menghadapi tekanan ekonomi global dengan lebih baik.
Meningkatnya defisit anggaran di Eropa menjadi bukti bahwa kawasan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik. Dampak pandemik, krisis energi, serta lonjakan belanja militer membuat banyak negara kesulitan menjaga defisit tetap berada dalam batas yang ditetapkan Uni Eropa. Polandia menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan pertahanan dapat memberikan tekanan besar terhadap keuangan negara.
Sementara itu, negara seperti Norwegia menunjukkan bahwa sumber daya alam yang melimpah mampu memberikan perlindungan fiskal yang kuat. Ke depan, pemerintah Eropa harus mencari keseimbangan antara menjaga keamanan nasional dan mempertahankan kesehatan anggaran supaya gak terbebani oleh utang yang terus meningkat.