Perum Perhutani menanam 24,4 juta pohon di lahan seluas 26 ribu hektare (ha) di Musim Tanam (MT) 2024. (dok. Perhutani)
Saat ini, Perhutani mengelola 3,6 juta hektare (ha) hutan di Indonesia, dengan rincian 2,4 juta di Pulau Jawa dan Madura, serta 1,2 juta ha di luar Pulau Jawa dan Madura yang dikelola melalui anak usahanya, yaitu PT Inhutani.
Perusahaan melakukan pengelolaan dan pemanfaatan hutan dengan komitmen menjaga kelestarian hutan, dan mengikuti peraturan perundang-undangan. Perusahaan mengantongi standar internasional dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Salah satunya dibuktikan dengan capaian skor A (leadership level) dari CDP atau Carbon Disclosure Project.
"Ketika kita bicara pengelolaan hutan, ternyata kita dihadapkan pada tiga fungsi yang harus kita jaga. Yaitu satu, fungsi ekologi. Kedua, fungsi sosial, dan yang ketiga adalah fungsi ekonomi yang tadi disampaikan," ujar Wawan.
Pada 2025, perusahaan membukukan pendapatan senilai Rp4,8 triliun, dengan laba bersih senilai Rp81,8 miliar. Adapun tahun ini, Wawan mengatakan pendapatan dari bisnis getah dan industri GTD akan meningkat, karena kemarau yang berlangsung lama di Indonesia.
"Memang dengan cuaca yang kemarau panjang seperti ini, Alhamdulillah bahwa produksi getah pinus kami cukup baik. Dan biasanya kita ini berkisar paling, kalau kemarau sekitar 10 persen dari target satu tahun, kemungkinan kita bulan ini bisa 12 persen," kata Wawan.