Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BRICS makin Besar, Perdagangan Lokal dan Sistem Pembayaran Berubah

6 min read
BRICS makin Besar, Perdagangan Lokal dan Sistem Pembayaran Berubah
ilustrasi bendera berbagai negara (pexels.com/Dmitry Sidorov)
  • BRICS kini memiliki 11 anggota penuh dan 10 negara mitra, memperluas jangkauan ekonomi hingga sekitar 40 persen ekonomi dunia berdasarkan paritas daya beli.
  • Kelompok ini memperkuat perdagangan mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara untuk mengurangi ketergantungan, bukan segera menggantikan dominasi dolar AS.
  • New Development Bank memperbesar pembiayaan infrastruktur dan keberlanjutan, dengan mata uang lokal mencapai sekitar 29 persen portofolio pada akhir 2025.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

BRICS terus berkembang dan mulai membentuk arah baru dalam kerja sama ekonomi antarnegara anggotanya. Perluasan keanggotaan membuat kelompok ini memiliki jangkauan lebih luas, mulai dari Asia Tenggara, Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika Latin. Di saat yang sama, kerja sama perdagangan dan sistem pembayaran juga mulai diarahkan agar negara anggota gak terlalu bergantung pada satu mata uang atau jalur pembayaran internasional.

Perubahan ini bukan berarti BRICS sedang berusaha menghapus dolar AS dalam waktu dekat, lho. Justru, fokusnya lebih banyak pada penggunaan mata uang lokal, konektivitas sistem pembayaran, dan penguatan lembaga keuangan bersama. Lalu, seperti apa perubahan BRICS dalam beberapa tahun ke depan?

  1. 1. Anggota BRICS makin luas

    ilustrasi bendera Thailand
    ilustrasi bendera Thailand (pexels.com/Markus Winkler)

    BRICS kini memiliki 11 anggota penuh, yaitu Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Arab Saudi. Selain itu, terdapat 10 negara mitra, yakni Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam. Negara mitra dapat mengikuti pertemuan tingkat tinggi dan menteri luar negeri, mendukung deklarasi, serta bergabung dalam kelompok kerja tertentu.

    Model negara mitra ini membuat BRICS bisa memperluas pengaruh tanpa harus langsung memberikan status anggota penuh. Negara seperti Nigeria dan Thailand bahkan berpotensi berkembang menjadi anggota penuh apabila memenuhi sejumlah kriteria, termasuk keseimbangan geografis, hubungan baik dengan seluruh anggota, status sebagai anggota PBB, serta dukungan terhadap reformasi multilateral. Perluasan tersebut dapat membuat BRICS semakin kuat dari sisi populasi, energi, sumber daya mineral, dan perdagangan antaranggota.

    Bagi kamu yang melihat BRICS dari sisi ekonomi global, pertambahan anggota ini cukup penting. Basis ekonomi BRICS sudah mencapai sekitar 40 persen ekonomi dunia berdasarkan purchasing power parity atau paritas daya beli. Semakin banyak negara yang terhubung, semakin besar pula potensi perdagangan dan kerja sama ekonomi di dalam kelompok tersebut.

    Namun, jumlah anggota yang semakin besar juga membawa tantangan tersendiri. Perbedaan kepentingan, terutama terkait hubungan China dan India, bisa membuat proses pengambilan keputusan berjalan lebih lambat. BRICS sendiri menggunakan pendekatan berbasis konsensus sehingga kesepakatan antarnegara menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa cepat agenda bersama dapat berjalan.

  2. 2. Perdagangan mata uang lokal mulai diperkuat

    ilustrasi mata uang Dolar AS
    ilustrasi mata uang Dolar AS (unsplash.com/Logan Voss)

    Salah satu perubahan penting dalam BRICS adalah meningkatnya perhatian terhadap penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota. Istilah dedolarisasi memang sering muncul ketika membicarakan BRICS, tapi arah kebijakannya gak sesederhana mengganti dolar AS. Fokus yang lebih realistis adalah mengurangi ketergantungan dan melakukan diversifikasi agar transaksi antarnegara memiliki lebih banyak pilihan.

    Perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal disebut sudah meningkat cukup signifikan. Dalam kasus sejumlah negara anggota, penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal bahkan mendekati 90 persen. Kesepakatan pertukaran mata uang atau bilateral swap, termasuk antara China dan Brasil, juga terus berkembang sehingga dapat membantu perdagangan tanpa harus selalu melalui dolar AS.

    Meski begitu, dominasi dolar dalam sistem keuangan global gak gampang untuk digantikan. Sejumlah transaksi mata uang lokal BRICS melibatkan negara seperti Rusia dan Iran yang menghadapi sanksi dari Amerika Serikat atau negara-negara Barat. China juga menghadapi peningkatan pembatasan perdagangan dan teknologi sehingga kebutuhan terhadap alternatif transaksi menjadi semakin relevan.

    Kamu juga perlu melihat adanya persoalan lain seperti kepercayaan, likuiditas, dan kemampuan menukarkan mata uang. Faktor-faktor tersebut membuat penggunaan mata uang lokal belum tentu bisa menggantikan dolar secara menyeluruh. Dalam beberapa tahun ke depan, perdagangan dan pembiayaan menggunakan mata uang lokal kemungkinan lebih berkembang, termasuk untuk transaksi energi dan komoditas.

  3. 3. Sistem pembayaran lintas negara mulai terhubung

    Perubahan besar lainnya terjadi pada sistem pembayaran. Negara-negara BRICS sedang mengeksplorasi cara menghubungkan sistem pembayaran nasional agar transaksi lintas negara bisa lebih cepat, murah, aman, dan gak terlalu bergantung pada perantara. Pendekatan ini berbeda dari membangun satu sistem baru yang secara langsung menggantikan SWIFT.

    Salah satu fokusnya adalah menghubungkan sistem pembayaran digital yang sudah digunakan masing-masing negara. India, misalnya, memiliki Unified Payments Interface atau UPI, sementara Brasil menggunakan Pix. BRICS juga mengeksplorasi interoperabilitas central bank digital currency atau CBDC agar sistem pembayaran antarnegara dapat semakin terintegrasi.

    Beberapa gagasan yang sedang dikembangkan mencakup BRICS Pay, BRICS Bridge, dan BRICS Clear. BRICS Pay dirancang sebagai sistem pesan dan gateway yang dapat menghubungkan sistem pembayaran nasional. Sementara itu, BRICS Bridge diarahkan sebagai mekanisme penyelesaian transaksi berbasis multi-CBDC, sedangkan BRICS Clear berkaitan dengan infrastruktur settlement dan depositary.

    Perkembangan ini bisa berdampak langsung pada aktivitas perdagangan antarnegara. Semakin mudah pembayaran dilakukan secara lintas negara, semakin kecil ketergantungan terhadap banyak perantara dalam transaksi. Namun, berbagai mekanisme tersebut masih membutuhkan pengembangan dan kesepakatan antarnegara sebelum bisa digunakan secara luas.

  4. 4. Mata uang bersama BRICS belum jadi prioritas

    ilustrasi mata uang asing, dolar AS, dolar Singapura
    ilustrasi mata uang asing, dolar AS, dolar Singapura (unsplash.com/Jason Leung)

    Kamu mungkin sering mendengar wacana mengenai mata uang bersama BRICS. Ide tersebut memang pernah dibicarakan secara terbuka, termasuk gagasan mengenai unit referensi yang melibatkan emas atau gabungan sejumlah mata uang. Namun, berdasarkan arah pembahasan terbaru, pembentukan mata uang bersama bukanlah prioritas dalam waktu dekat.

    Salah satu hambatan utamanya adalah perbedaan kondisi ekonomi antaranggota. Setiap negara memiliki tingkat inflasi, kebijakan moneter, kontrol modal, tingkat keterbukaan mata uang, serta kebijakan fiskal yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat pembentukan mata uang bersama membutuhkan integrasi kelembagaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar kesepakatan politik.

    Hubungan antarnegara anggota juga menjadi faktor penting. India, misalnya, lebih menekankan penggunaan sistem yang saling melengkapi dengan mekanisme pembayaran yang sudah ada dibandingkan menciptakan mata uang bersama seperti euro. Dengan kondisi tersebut, penggunaan mata uang nasional dan peningkatan konektivitas sistem pembayaran menjadi pilihan yang lebih realistis.

    Artinya, kamu gak perlu melihat perkembangan BRICS dengan asumsi bahwa dolar AS akan segera digantikan oleh satu mata uang baru. Skenario yang lebih mungkin adalah munculnya sistem pembayaran yang lebih multipolar. Dolar tetap digunakan, tapi renminbi, rupee, rubel, dan mata uang lokal lainnya semakin banyak digunakan dalam transaksi tertentu.

  5. 5. New Development Bank makin penting

    ilustrasi China
    ilustrasi China (pexels.com/tenny shen)

    Selain perdagangan dan pembayaran, BRICS juga memiliki lembaga keuangan yang semakin berperan, yaitu New Development Bank atau NDB. Hingga pertengahan 2026, persetujuan pembiayaan kumulatif NDB disebut telah mendekati US$44 miliar atau sekitar Rp726 triliun. Pembiayaan tersebut mencakup berbagai proyek infrastruktur dan keberlanjutan. NDB juga meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam pembiayaannya. Pada akhir 2025, pembiayaan dalam mata uang lokal disebut sudah mencapai sekitar 29 persen dari total portofolio NDB.

    Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kerja sama BRICS gak hanya berbicara mengenai politik atau perdagangan. Ada upaya membangun instrumen keuangan yang bisa memberikan manfaat lebih konkret bagi negara anggota dan negara berkembang lainnya. Dalam konteks ini, NDB menjadi salah satu bagian penting dari upaya memperkuat konektivitas ekonomi negara-negara Global South.

    Pada akhirnya, arah BRICS tampaknya lebih banyak bergerak menuju sistem ekonomi yang lebih beragam daripada menciptakan satu tatanan baru secara instan. Perluasan anggota, perdagangan menggunakan mata uang lokal, konektivitas pembayaran, dan pembiayaan NDB menjadi beberapa instrumen yang sedang dibangun secara bertahap.

    Kecepatan perkembangannya tetap bergantung pada kemampuan anggota menyatukan kepentingan yang berbeda. Faktor eksternal, termasuk kebijakan Amerika Serikat, juga akan ikut menentukan bagaimana BRICS berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More