7 Aturan Keuangan 1990-an yang Masih Relevan hingga Sekarang

- Metode tujuh langkah Dave Ramsey menempatkan dana darurat awal sebagai fondasi agar pengeluaran tak terduga tidak langsung memicu penggunaan kartu kredit atau pinjaman.
- Setelah itu, utang konsumen dilunasi dengan debt snowball, lalu dana darurat diperbesar menjadi tiga hingga enam bulan pengeluaran sebelum fokus pada pensiun.
- Tahap lanjutan mencakup dana pendidikan anak, pelunasan KPR, serta pembangunan aset dan kekayaan jangka panjang, dengan penerapan yang disesuaikan kondisi finansial masing-masing.
Mengelola keuangan pribadi sering kali terasa rumit karena kondisi setiap orang berbeda. Namun, ada beberapa prinsip dasar yang sebenarnya tidak banyak berubah meskipun zaman berganti. Memiliki dana darurat, melunasi utang, menyiapkan dana pensiun, dan membangun kekayaan tetap menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Salah satu tokoh yang sejak lama dikenal dengan prinsip-prinsip tersebut adalah Dave Ramsey, penulis, pakar keuangan pribadi, sekaligus pembawa acara The Ramsey Show. Sejak 1992, Ramsey telah memberikan berbagai nasihat mengenai cara keluar dari utang dan membangun kemandirian finansial.
Salah satu pendekatan yang paling dikenal adalah “The 7 Baby Steps”, yaitu tujuh tahapan untuk membantu seseorang memperbaiki kondisi keuangan secara bertahap. Meskipun pertama kali diperkenalkan beberapa dekade lalu, sejumlah prinsip di dalamnya masih dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengatur keuangan saat ini.
Dilansir GOBankingRates, berikut tujuh langkah tersebut.
1. Mulai dengan dana darurat

Ilustrasi dana darurat (freepik.com) Langkah pertama adalah membangun dana darurat awal sebesar US$1.000. Menurut Ramsey, dana ini berfungsi sebagai bantalan ketika muncul pengeluaran tak terduga.
Misalnya, kendaraan tiba-tiba rusak, ada kebutuhan rumah tangga yang mendesak, atau muncul tagihan yang tidak direncanakan. Dengan adanya dana darurat, kamu tidak harus langsung menggunakan kartu kredit, mengambil pinjaman, atau mengorbankan anggaran untuk kebutuhan rutin.
Untuk orang Indonesia, nominal US$1.000 tentu tidak harus diterapkan secara mentah. Prinsip yang lebih penting adalah memiliki sejumlah uang yang sengaja dipisahkan untuk menghadapi keadaan darurat.
Kamu bisa memulainya dari nominal yang realistis, kemudian menambahkannya secara rutin setiap kali menerima gaji.
2. Lunasi utang dengan metode debt snowball

Ilustrasi utang (freepik.com) Setelah memiliki dana darurat awal, Ramsey menyarankan untuk mulai fokus melunasi utang, dengan pengecualian utang rumah atau KPR dalam urutan yang ia gunakan.
Metodenya dikenal sebagai debt snowball.
Caranya adalah membuat daftar utang berdasarkan jumlah saldo, kemudian membayar utang dengan nominal paling kecil terlebih dahulu sambil tetap memenuhi pembayaran minimum untuk utang lainnya.
Setelah utang terkecil lunas, uang yang sebelumnya digunakan untuk membayar utang tersebut dialihkan ke utang berikutnya. Proses ini terus dilakukan hingga seluruh utang berhasil dilunasi.
Strategi ini lebih menekankan aspek psikologis. Melihat satu utang benar-benar hilang dapat memberikan rasa pencapaian yang mendorong seseorang untuk melanjutkan ke utang berikutnya.
3. Perbesar dana darurat hingga 3–6 bulan pengeluaran

Ilustrasi dana darurat (freepik.com) Setelah utang konsumen berhasil dilunasi, langkah berikutnya adalah memperkuat dana darurat.
Ramsey menyarankan dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan pengeluaran. Dana ini ditujukan untuk menghadapi situasi yang lebih besar, seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, atau kondisi tidak terduga lainnya.
Yang perlu diperhatikan, perhitungannya didasarkan pada pengeluaran bulanan, bukan gaji. Sebagai contoh, jika kebutuhan hidupmu mencapai Rp5 juta per bulan, dana darurat enam bulan berarti sekitar Rp30 juta.
Besarnya dana yang ideal tentu dapat berbeda tergantung kondisi pekerjaan, tanggungan keluarga, kestabilan pendapatan, dan kebutuhan masing-masing orang.
4. Mulai menyiapkan dana pensiun

Ilustrasi dana pensiun (freepik.com) Setelah fondasi keuangan mulai lebih kuat, Ramsey menyarankan agar seseorang mulai serius mempersiapkan masa pensiun. Dalam pendekatannya, ia merekomendasikan mengalokasikan sekitar 15% dari pendapatan untuk kebutuhan pensiun.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat kontribusi otomatis sehingga sebagian pendapatan langsung dialokasikan ke instrumen investasi atau rekening pensiun sebelum uang tersebut digunakan untuk kebutuhan lainnya.
Jika perusahaan tempat amu bekerja memberikan kontribusi tambahan untuk program pensiun berdasarkan kontribusi karyawan, fasilitas tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi persiapan pensiun.
Bagi masyarakat Indonesia, bentuknya tentu dapat disesuaikan dengan sistem yang tersedia, seperti BPJS Ketenagakerjaan, dana pensiun dari perusahaan, maupun investasi jangka panjang lainnya.
5. Siapkan dana pendidikan anak

Ilustrasi pendidikan formal (freepik.com) Menariknya, dalam urutan Ramsey, dana pendidikan anak ditempatkan setelah persiapan pensiun. Alasannya adalah pendidikan anak masih memiliki sejumlah alternatif pendanaan, sedangkan masa pensiun merupakan kebutuhan yang hampir pasti akan datang.
Selain itu, seseorang tidak dapat mengandalkan bantuan finansial untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah pensiun. Karena itu, Ramsey menekankan pentingnya memastikan kondisi keuangan orang tua cukup aman sebelum mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk pendidikan anak.
Prinsip sederhananya adalah: pastikan fondasi keuanganmu sendiri cukup kuat sebelum membantu kebutuhan finansial orang lain.
6. Lunasi KPR atau utang rumah

Ilustrasi membeli rumah (freepik.com) Jika sudah berhasil melunasi utang lainnya, memiliki dana darurat yang memadai, serta rutin menyiapkan dana pensiun dan pendidikan anak, langkah berikutnya adalah mempercepat pelunasan KPR. Bagi banyak orang, rumah merupakan salah satu kewajiban finansial terbesar. Karena itu, terbebas dari cicilan rumah dapat memberikan ruang yang jauh lebih besar dalam anggaran bulanan.
Memiliki rumah tanpa beban KPR juga berarti pengeluaran rutin di masa depan dapat berkurang secara signifikan. Namun, keputusan mempercepat pelunasan KPR tetap perlu mempertimbangkan suku bunga, kondisi arus kas, dana darurat, serta alternatif penggunaan uang tersebut.
7. Bangun kekayaan dan berbagi

Ilustrasi memberi uang (freepik.com) Tahap terakhir adalah membangun kekayaan setelah kebutuhan finansial utama mulai terpenuhi.
Pada titik ini, tujuan pengelolaan uang bukan lagi sekadar keluar dari utang atau membayar tagihan. Seseorang mulai memiliki kesempatan untuk mengembangkan aset, membangun kekayaan jangka panjang, dan memberikan dukungan finansial kepada keluarga atau orang lain.
Kekayaan yang dibangun juga dapat menjadi bagian dari generational wealth, yaitu aset yang nantinya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ramsey juga mengaitkan tahap ini dengan kegiatan berbagi dan memberikan manfaat kepada orang lain. Dengan kata lain, tujuan akhir kebebasan finansial bukan hanya memiliki lebih banyak uang, tetapi memiliki cukup sumber daya untuk hidup dengan lebih tenang sekaligus membantu orang lain.
Apa yang bisa dipetik dari 7 baby steps?

Ilustrasi strategi finansial (freepik.com) Tujuh langkah Dave Ramsey pada dasarnya menempatkan fondasi keuangan sebelum pembangunan kekayaan. Mulai dari menyediakan dana darurat, mengendalikan utang, memperkuat tabungan, hingga mempersiapkan masa pensiun dan membangun aset.
Tentu saja, tidak semua angka atau urutan tersebut harus diterapkan secara persis oleh setiap orang. Kondisi finansial, tingkat pendapatan, utang, tanggungan, biaya hidup, dan tujuan keuangan setiap orang berbeda.
Namun, prinsip dasarnya masih cukup relevan: jangan terburu-buru mengejar kekayaan jika fondasi keuangan sendiri belum kuat.
Keuangan yang sehat biasanya dibangun dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Memisahkan uang untuk keadaan darurat, membayar utang secara disiplin, mulai berinvestasi, dan mempersiapkan masa pensiun mungkin tidak memberikan hasil instan. Tetapi dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang memiliki kontrol yang lebih baik terhadap uangnya.
Pada akhirnya, kebebasan finansial bukan hanya soal seberapa besar penghasilan seseorang, tetapi juga tentang bagaimana uang tersebut dikelola, berapa banyak yang disimpan, berapa besar utang yang dimiliki, dan seberapa konsisten seseorang mempersiapkan masa depan. Tujuh langkah Ramsey menawarkan satu kerangka sederhana untuk melihat proses tersebut secara bertahap.




















