Upaya Amerika Serikat untuk membuat aturan menyeluruh bagi industri cryptocurrency kembali menghadapi hambatan. Pada Selasa (15/9), Senat AS gagal membawa CLARITY Act ke tahap pembahasan berikutnya setelah voting prosedural hanya memperoleh 49 suara setuju dan 50 suara menolak. Padahal, RUU tersebut membutuhkan sedikitnya 60 suara agar dapat maju.
CLARITY Act Gagal, Apa yang Membuat RUU Kripto Sulit Lolos?

- Senat AS gagal meloloskan tahap prosedural CLARITY Act pada 15 September setelah meraih 49 suara setuju dan 50 menolak, di bawah ambang 60 suara.
- Perdebatan berpusat pada aturan etika terkait keterkaitan keluarga Trump dengan bisnis aset digital serta pembagian kewenangan pengawasan antara SEC dan CFTC.
- Dukungan bipartisan belum cukup, sementara jadwal menjelang pemilu sela 2026 dan penyelarasan versi Senat-DPR mempersempit waktu penyelesaian RUU.
Kegagalan ini menjadi perhatian karena CLARITY Act diharapkan bisa menjelaskan aturan perdagangan aset digital, membagi kewenangan antara regulator, serta memberikan kepastian bagi perusahaan kripto. Namun, proses pembahasannya masih menghadapi perbedaan pandangan dari anggota Partai Demokrat maupun Partai Republik. Lantas, apa yang membuat CLARITY Act atau RUU Kripto sulit lolos?
1. Aturan etika yang berkaitan dengan Trump masih diperdebatkan

Donald Trump (commons.wikimedia.org/Ali Shaker) Salah satu hambatan utama CLARITY Act berkaitan dengan aturan etika bagi pejabat pemerintah. Sejumlah anggota Partai Demokrat menilai regulasi tersebut perlu memberikan perlindungan lebih kuat untuk mencegah pejabat memanfaatkan posisi dan hubungan finansialnya dengan industri kripto. Kekhawatiran ini muncul karena Presiden Donald Trump dan keluarganya memiliki keterkaitan dengan sejumlah usaha aset digital.
Sebelum voting, Trump telah menyetujui beberapa perubahan, termasuk pembatasan terhadap penerbitan token tertentu dan ketentuan mengenai kepemilikan aset digital. Namun, sebagian senator menilai perubahan tersebut belum cukup untuk mengatasi potensi konflik kepentingan. Perbedaan pandangan mengenai aturan etika akhirnya ikut mempersulit upaya mendapatkan dukungan bipartisan.
2. Pembagian wewenang SEC dan CFTC belum selesai

ilustrasi Bitcoin (magnific.com/freepik) CLARITY Act juga berusaha menjawab pertanyaan penting mengenai regulator mana yang harus mengawasi aset digital. Selama ini, kewenangan antara Securities and Exchange Commission atau SEC dan Commodity Futures Trading Commission atau CFTC menjadi salah satu sumber ketidakpastian bagi industri kripto. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memahami aturan dari kedua lembaga ketika menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan aset digital.
Pembagian tersebut penting karena klasifikasi sebuah aset dapat menentukan aturan yang harus dipatuhi perusahaan. Jika suatu aset dianggap sebagai sekuritas, pengawasannya dapat berada di bawah SEC. Namun, aset yang dikategorikan sebagai komoditas dapat lebih banyak berada di bawah CFTC. Perbedaan kepentingan dan pandangan mengenai batas kewenangan kedua lembaga membuat isi RUU masih membutuhkan negosiasi.
3. Dukungan dari kedua partai belum mencapai 60 Suara

ilustrasi hukum dan kebijakan (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA) Kegagalan CLARITY Act tidak hanya disebabkan oleh penolakan dari anggota Partai Demokrat. Sejumlah senator Republik juga tidak mendukung langkah prosedural tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa RUU tersebut belum berhasil memperoleh kesepakatan yang cukup luas di antara anggota kedua partai.
Dalam sistem Senat AS, sebuah RUU penting biasanya membutuhkan 60 suara untuk melewati tahap prosedural tertentu. Pada voting 15 September, jumlah suara setuju masih jauh dari ambang tersebut. Artinya, dukungan dari partai yang menguasai pemerintahan saja belum cukup untuk membawa CLARITY Act maju. Para pendukung RUU masih perlu meyakinkan senator dari berbagai kelompok dengan kepentingan yang berbeda.
4. Waktu pembahasan semakin sempit menjelang pemilu

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio) Faktor lain yang membuat CLARITY Act sulit lolos adalah keterbatasan waktu. Amerika Serikat akan menghadapi pemilu sela atau midterm elections pada November 2026, sehingga perhatian anggota Kongres dapat beralih kepada agenda politik dan kampanye. Situasi ini membuat pembahasan RUU besar menjadi lebih sulit dilakukan dalam waktu singkat.
Selain itu, versi yang dibahas Senat perlu diselaraskan dengan versi yang telah dibahas di DPR sebelum dapat dikirim kepada presiden. Proses tersebut membutuhkan kesepakatan mengenai isi aturan dan mekanisme pelaksanaannya. Karena itu, kegagalan voting pada September tidak berarti CLARITY Act langsung mati, tetapi peluang untuk menyelesaikannya dalam waktu dekat menjadi semakin terbatas.
CLARITY Act atau RUU Kripto sulit lolos karena persoalannya bukan hanya mengenai pengaturan cryptocurrency. RUU tersebut juga menyangkut etika pejabat, pembagian kewenangan regulator, dukungan lintas partai, dan jadwal politik di Kongres. Selama berbagai perbedaan tersebut belum menemukan titik temu, industri kripto masih harus menghadapi ketidakpastian mengenai arah regulasi di Amerika Serikat.




















