Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Menteri Pertanian yang sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, memastikan Indonesia telah mencapai swasembada beras. Seiring dengan capaian tersebut, ia memberikan peringatan keras kepada para mafia pangan yang masih sering mempermainkan harga dan melakukan praktik anomali di pasaran.
"Kita sudah swasembada beras. Kemudian kita juga ekspor pupuk, dan harga pupuk dalam negeri turun 20 persen. Kita bahkan sudah swasembada jagung untuk pakan. Saya bekerja keras. Beritahu para mafia, hei kalian sadarlah, sektor pertanian sedang bekerja keras. Saya akan teruskan perjuangan ini. Pokoknya, berantas mafia dan berantas koruptor!" tegas Amran.
Salah satu kasus yang dibongkar Amran adalah skandal beras oplosan yang diperkirakan memicu potensi kerugian masyarakat hingga Rp99 triliun sampai Rp100 triliun per tahun. Berdasarkan pemeriksaan terhadap 268 sampel beras di 13 laboratorium yang tersebar di 10 provinsi, ditemukan 212 merek beras premium dan medium yang tidak memenuhi standar mutu, berat, maupun Harga Eceran Tertinggi (HET).
Selain itu, sekitar 85,56 persen beras premium yang beredar terbukti tidak sesuai standar. Ditemukan pula modus kecurangan berupa pengemasan ulang (repacking) beras SPHP, yang seharusnya dijual sesuai ketentuan harga bersubsidi, namun justru dikemas kembali dan dipasarkan sebagai beras premium dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Oleh karena itu, petunjuk teknis (juknis) program SPHP beras tahun 2026 kini telah diperketat dan dipertajam, seiring dengan intensifikasi pengawasan di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan program beras SPHP dapat diakses oleh masyarakat luas dengan harga yang benar-benar sesuai dengan ketentuan pemerintah.