Dony Oskaria Datangi KPK, Bahas Restrukturisasi BUMN

- Dony Oskaria mendatangi KPK untuk membahas langkah pencegahan korupsi dalam rencana restrukturisasi BUMN yang digarap Danantara sepanjang tahun 2026.
- Program restrukturisasi difokuskan pada peningkatan kinerja dan efisiensi BUMN besar seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, Telkom, serta sektor konstruksi guna memperkuat persepsi investor.
- Danantara menegaskan setiap injeksi modal dan konsolidasi aset BUMN dilakukan melalui kajian mendalam dengan prinsip akuntabilitas dan meritokrasi demi keberlanjutan ekonomi jangka panjang.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kehadirannya untuk membahas pencegahan korupsi terkait rencana restrukturisasi BUMN.
"Kita meeting dengan Pak Amin (Direktur Pencegahan dan Monitoring KPK), buat pencegahan. Dalam acara restrukturisasi BUMN," ujar Donny saat tiba di Gedung ACLC KPK, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026).
1. Danantara fokus restrukturisasi BUMN pada 2026

Program restrukturisasi sejumlah BUMN yang tengah mengalami hambatan dari kinerja keuangan menjadi fokus yang akan dilanjutkan Danantara sepanjang 2026. Melalui laporan Economic Outlook 2026 yang dirilis tim riset Danantara, restrukturisasi dinilai sebagai skema untuk memperbaiki persepsi investor terhadap perusahaan pelat merah Tanah Air.
Misalnya pada PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), serta BUMN sektor konstruksi atau BUMN karya.
"Pemulihan pada kasus sulit, seperti maskapai, baja, dan konstruksi, adalah tempat di mana kredibilitas dipertaruhkan. Jika restrukturisasi berhasil meningkatkan ritme operasional dan ketangguhan neraca, dampak terhadap persepsi investor bagi BUMN secara luas akan signifikan," begitu laporan Danantara dikutip Senin, (12/1/2026).
1. Danantara fokus restrukturisasi BUMN

Kehadiran Danantara menjadi awal dari konsolidasi aset BUMN, yang kini nilainya melampaui Rp1.000 triliun, bahkan disebut lebih dari setengahnya produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Total aset BUMN secara kolektif mencapai lebih dari setengah PDB nominal Indonesia, yang berarti peningkatan operasional akan memiliki implikasi yang luas bagi prospek pertumbuhan negara," tulis Danantara.
Selain itu, upaya restrukturisasi, salah satunya melalui injeksi modal yang dilakukan Danantara juga diiringi dengan syarat ketat, seperti rasionalisasi aset, peningkatan kinerja operasional, dan akuntabilitas yang kredibel.
Menurut laporan Danantara, restrukturisasi akan meningkatkan kapasitas operasional BUMN, yang pada akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Peningkatan kapasitas operasional di dalam BUMN tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendorong persaingan yang lebih sehat, yang pada akhirnya berfungsi sebagai pelumas untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih luas," tulis Danantara.
2. Buat dongkrak kapasitas BUMN

Kehadiran Danantara menjadi awal dari konsolidasi aset BUMN, yang kini nilainya melampaui Rp1.000 triliun, bahkan disebut lebih dari setengahnya produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Total aset BUMN secara kolektif mencapai lebih dari setengah PDB nominal Indonesia, yang berarti peningkatan operasional akan memiliki implikasi yang luas bagi prospek pertumbuhan negara," tulis Danantara.
Selain itu, upaya restrukturisasi, salah satunya melalui injeksi modal yang dilakukan Danantara juga diiringi dengan syarat ketat, seperti rasionalisasi aset, peningkatan kinerja operasional, dan akuntabilitas yang kredibel.
Menurut laporan Danantara, restrukturisasi akan meningkatkan kapasitas operasional BUMN, yang pada akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Peningkatan kapasitas operasional di dalam BUMN tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendorong persaingan yang lebih sehat, yang pada akhirnya berfungsi sebagai pelumas untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih luas," tulis Danantara.
3. Restrukturisasi diawali kajian

Danantara memastikan, kehadiran negara untuk merestrukturisasi BUMN, termasuk injeksi modal diawali dengan kajian mendalam, yang targetnya untuk perbaikan jangka panjang.
"Dalam konteks pasar, pertanyaannya bukan lagi ‘akankah negara tetap terlibat?’—tentu saja akan. Fokus sekarang bergeser ke apakah keterlibatan tersebut menjadi lebih dapat diprediksi dan berdasarkan meritokrasi, dengan keputusan komersial yang didorong oleh kelangsungan bisnis jangka panjang daripada kepentingan jangka pendek," tulis Danantara.

















