Prabowo: 290 BUMN Ditutup, 750 Perusahaan Ditargetkan Tutup Akhir 2026

- Pemerintah telah menutup 290 BUMN setelah menemukan 1.074 entitas saat membentuk Danantara, termasuk struktur perusahaan dengan anak, cucu, dan cicit usaha.
- Prabowo menargetkan jumlah BUMN maksimal 300 pada 31 Desember 2026, sehingga lebih dari 750 perusahaan akan ditutup atau disederhanakan.
- BUMN produktif yang menciptakan nilai tambah bagi rakyat akan dipertahankan; perampingan dilakukan untuk membenahi tata kelola, menghapus praktik bermasalah, dan meningkatkan efisiensi anggaran.
Jakarta, IDN Times - Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah telah menutup 290 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan negara. Jumlah BUMN ditargetkan terus dipangkas hingga hanya tersisa paling banyak 300 perusahaan pada akhir 2026.
Prabowo mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah pemerintah menemukan 1.074 BUMN saat membentuk Danantara sebagai dana kedaulatan atau Sovereign Wealth Fund.
"Ketika kita bentuk Danantara, yaitu adalah dana kedaulatan kita, Sovereign Wealth Fund, kita menemukan bahwa ada 1.074 BUMN. Dan BUMN-BUMN itu ada yang punya anak perusahaan, dan ada yang punya cucu perusahaan, bahkan ada yang punya cicit perusahaan," kata dia dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Prabowo mengaku semula memperkirakan jumlah BUMN hanya sekitar 300 hingga 400 perusahaan. Menurutnya, jumlah tersebut menjadi terlalu besar karena adanya struktur perusahaan yang memiliki anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Pemerintah kemudian melakukan perampingan terhadap perusahaan negara. Hingga saat ini, sebanyak 290 BUMN disebut telah ditutup.
"Tapi saya dengan bangga hari ini saya mau laporkan kepada majelis yang terhormat, hari ini kita telah menutup 290 BUMN," ujar Prabowo.
Dia menargetkan jumlah BUMN yang tersisa paling banyak 300 perusahaan pada 31 Desember 2026. Artinya, lebih dari 750 BUMN lainnya ditargetkan ditutup atau disederhanakan dalam proses restrukturisasi tersebut.
"Pada Desember 31 2026, kita targetkan hanya akan memiliki paling banyak 300 BUMN. 750 BUMN lebih akan kita tutup," tegasnya.
Prabowo menekankan hanya BUMN yang produktif dan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat yang akan dipertahankan. Sementara perusahaan yang dinilai tidak produktif akan disingkirkan dari struktur BUMN.
"Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah untuk rakyat yang akan kita pertahankan," katanya.
Prabowo menyebut langkah perampingan tersebut sebagai salah satu restrukturisasi korporasi terbesar di dunia. Menurutnya, kebijakan tersebut juga telah memberikan dampak terhadap efisiensi anggaran.
"Ini mungkin adalah restrukturisasi korporasi terbesar di dunia," ujarnya.
Sebelumnya, Prabowo juga menyoroti tata kelola sejumlah BUMN yang dinilai tidak produktif. Dia bahkan menyebut ada perusahaan negara yang terus merugi tetapi laporan keuangannya justru menunjukkan keuntungan.
"Saudara-saudara, terlalu banyak BUMN yang tidak produktif. Rugi terus, laporannya untung. Ngarang aja itu untungnya itu," tutur Prabowo.
Prabowo menilai pembenahan BUMN perlu dilakukan karena sejumlah perusahaan negara juga menjalin kerja sama dengan perusahaan asing. Dia menegaskan berbagai praktik yang dinilai sebagai "permainan" dalam pengelolaan BUMN harus dihilangkan.








