Harga Diesel AS Tembus US$6,50 per Galon, Trump Turun Tangan!

- Harga diesel AS mencapai sekitar US$6,50 per galon akibat gangguan pasokan energi yang terkait konflik dan serangan fasilitas pengolahan minyak, saat kebutuhan tetap tinggi.
- Kenaikan diesel menekan biaya transportasi, logistik, pertanian, konstruksi, dan industri; perusahaan serta petani berpotensi menghadapi biaya lebih besar yang dapat mendorong harga barang.
- Trump memperluas akses dyed diesel dan menunda cukai federal untuk pemakaian di jalan raya hingga akhir 2026; AS juga mendorong pelepasan 100 juta barel diesel oleh G7.
Harga diesel di Amerika Serikat (AS) melonjak hingga sekitar 6,50 dolar AS per galon. Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena diesel digunakan secara luas untuk kendaraan angkutan, mesin pertanian, konstruksi, hingga berbagai aktivitas industri. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya operasional dan memberi tekanan tambahan terhadap harga barang.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kemudian mengambil langkah untuk memperluas akses terhadap dyed diesel yang selama ini digunakan terutama untuk kendaraan dan peralatan yang tidak beroperasi di jalan raya. Pemerintah juga berencana menunda pungutan pajak federal untuk penggunaan bahan bakar tersebut hingga akhir 2026. Lantas, mengapa harga diesel bisa melonjak dan apa dampak kebijakan baru tersebut?
1. Harga diesel melonjak karena pasokan terganggu

ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong) Harga diesel AS ikut terdorong oleh gangguan pasokan energi akibat konflik dan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak. Perang AS dengan Iran serta invasi Rusia ke Ukraina telah memengaruhi aktivitas kilang dan distribusi bahan bakar di sejumlah wilayah. Ketika pasokan terganggu sementara kebutuhan tetap tinggi, harga diesel dapat bergerak lebih mahal.
Kenaikan harga bahan bakar juga menjadi persoalan karena diesel memiliki peran besar dalam aktivitas ekonomi. Truk menggunakan diesel untuk mengangkut berbagai barang, sedangkan sektor pertanian mengandalkannya untuk menjalankan sejumlah mesin produksi. Biaya bahan bakar yang lebih tinggi akhirnya dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan dan pelaku usaha.
2. Diesel yang mahal ikut mendorong harga barang

Ilustrasi penyimpanan bahan bakar (pexels.com/Igor Passchier) Kenaikan harga diesel dapat merambat ke berbagai sektor melalui biaya transportasi dan distribusi. Perusahaan logistik yang harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar berpotensi memasukkan kenaikan tersebut ke dalam biaya pengiriman. Kondisi ini dapat membuat harga barang yang sampai ke konsumen ikut meningkat.
Sektor pertanian juga menghadapi tekanan karena mesin seperti traktor dan peralatan panen banyak menggunakan bahan bakar diesel. Petani yang mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengolah lahan atau memanen hasil produksi dapat menghadapi kenaikan biaya produksi. Jika tekanan tersebut berlangsung lama, dampaknya berpotensi ikut terasa pada harga berbagai produk pangan.
3. Trump perluas akses solar bebas pajak

ilustrasi barel minyak (pexels.com/Александр Лич) Untuk meredakan tekanan tersebut, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperluas akses masyarakat terhadap dyed diesel atau solar yang menggunakan pewarna merah. Bahan bakar ini biasanya digunakan untuk kendaraan dan peralatan yang tidak beroperasi di jalan raya sehingga mendapatkan perlakuan pajak berbeda. Melalui kebijakan baru tersebut, pemerintah AS menghapus sementara pembatasan penggunaan tertentu sehingga lebih banyak pihak dapat membeli bahan bakar tersebut.
Departemen Keuangan AS juga akan menunda penerapan pajak cukai federal untuk penggunaan dyed diesel di jalan raya hingga akhir 2026. Pemerintah kemudian akan mengkaji kemungkinan menghapus kewajiban tersebut secara permanen. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan pilihan bahan bakar yang lebih murah ketika harga diesel reguler sedang tinggi.
4. AS juga berusaha menambah pasokan diesel

ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Oleksiy Yeshtokyn) Selain mengubah aturan penggunaan bahan bakar, Amerika Serikat juga mendorong penambahan pasokan diesel dari pasar global. Negara-negara G7 sebelumnya mengumumkan rencana pelepasan sekitar 100 juta barel diesel setelah mendapat dorongan dari pemerintahan Trump. Langkah tersebut diharapkan dapat menambah pasokan dan membantu meredakan tekanan harga energi.
Namun, tambahan pasokan belum tentu langsung membuat harga diesel kembali ke level sebelumnya. Pasar tetap dipengaruhi kondisi kilang, konflik geopolitik, permintaan energi, serta kemampuan negara-negara produsen menjaga pasokan. Karena itu, kebijakan Trump dapat membantu menekan beban konsumen dalam jangka pendek, tetapi harga diesel tetap bergantung pada kondisi pasar energi global.
Lonjakan harga diesel menunjukkan bahwa perubahan di pasar energi dapat memengaruhi biaya transportasi, pertanian, hingga harga barang yang dibayar konsumen. Kebijakan Trump untuk memperluas akses dyed diesel menjadi salah satu cara pemerintah AS mengurangi tekanan tersebut, sementara tambahan pasokan dari G7 diharapkan membantu pasar dalam skala lebih luas. Perkembangan harga diesel berikutnya akan sangat bergantung pada apakah gangguan pasokan global mulai mereda atau justru kembali meningkat.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















