Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Investor masih bersikap hati-hati karena sejumlah pengumuman kesepakatan sebelumnya tak bertahan lama. Sikap itu muncul setelah seorang awak kapal dilaporkan hilang akibat serangan proyektil terhadap kapal niaga di Selat Hormuz, bersamaan dengan tenggelamnya kapal berbendera India di dekat perairan Yaman yang melibatkan keselamatan 14 awak.
Pandangan tersebut juga disampaikan Danni Hewson, kepala analisis keuangan di AJ Bell.
“Investor sangat menyadari berapa kali kita sudah berada di titik ini dalam perang dan betapa rapuhnya proses mengamankan kesepakatan yang bertahan lama,” kata Hewson.
Analis menilai ancaman terhadap kapal tanker di kawasan itu berada pada level tertinggi sejak konflik dimulai. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga bahan bakar, dengan kelompok otomotif RAC mencatat harga bensin di Inggris mencapai 1,60 pound sterling (setara sekitar Rp31,4 ribu) per liter, sedangkan data AAA menunjukkan harga bensin di AS melampaui 4 dolar AS (setara sekitar Rp71,9 ribu) per galon dan solar hampir 5,40 dolar AS (setara sekitar Rp97 ribu) per galon.
Di tengah tingginya laba perusahaan minyak besar seperti BP, Shell, Chevron, dan Exxon Mobil, Hewson menyebut operasi mereka masih dipengaruhi kebijakan Presiden AS Donald Trump. Trump juga memperingatkan Iran bahwa kesempatan mencapai perjanjian pelayaran komersial tinggal sekali lagi, sembari mengonfirmasi telah membatalkan serangan besar-besaran untuk memberi ruang bagi jalur diplomasi.