Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menkeu AS Ungkap Peluang Kesepakatan Selat Hormuz Tercapai Hari Ini

Menkeu AS Ungkap Peluang Kesepakatan Selat Hormuz Tercapai Hari Ini
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, sedang berbicara di acara konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., pada 28 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
Gini Kak
  • AS dan Iran menjalani negosiasi intensif untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial, dengan peluang kesepakatan pada 4 atau 5 Agustus 2026.
  • Washington menekankan kebebasan navigasi, sementara pembicaraan Oman-Iran membahas mekanisme agar lebih banyak kapal dapat melintas, meski belum mencapai tahap final.
  • Prospek pembukaan selat menekan harga minyak AS hampir 6 persen; negosiasi berlangsung setelah nota Juni gagal, serangan tanker, serangan udara AS, dan blokade laut Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan Iran berpeluang mencapai kesepakatan pada Selasa (4/8/2026) atau Rabu (5/8/2026) waktu setempat, terkait pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial. Negosiasi dilakukan di tengah upaya meredakan konflik yang telah mengganggu jalur perdagangan energi dunia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, kedua negara tengah melakukan pembicaraan intensif untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan kebebasan navigasi kapal-kapal dagang di selat strategis tersebut.

“Kami sedang berdialog dengan Iran. Ada peluang kami mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka selat dan bergerak menuju situasi yang lebih normal dalam konflik ini,” kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC, Selasa (4/8/2026).

1. Kebebasan navigasi jadi fokus

Kapal AS di Selat Hormuz
Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Bessent menegaskan kesepakatan yang sedang dibahas akan menjamin kebebasan bergerak bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Saat ditanya apakah Iran akan diizinkan mengenakan biaya bagi kapal yang melintas, ia menjawab bahwa prinsip utama yang diupayakan adalah kebebasan navigasi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan Washington terlibat dalam pembicaraan antara Oman dan Iran mengenai mekanisme agar lebih banyak kapal dapat melintasi Selat Hormuz dalam jangka pendek.

“Ada kemajuan dalam pembicaraan tersebut, tetapi belum mencapai tahap final. Kami berharap itu bisa segera terwujud,” ujar Rubio.

2. Harga minyak diperkirakan turun

AFP__20260301__99EA3KU__v1__HighRes__UaeIranIsraelUsConflictOpecEnergyOil.jpg
Sebuah kapal tanker minyak terlihat di lepas pantai Dubai pada 1 Maret 2026. Karena konflik baru di Timur Tengah berisiko menyebabkan harga minyak melonjak tajam, Arab Saudi, Rusia, dan enam anggota kunci lainnya dari aliansi OPEC+ diperkirakan akan mengumumkan peningkatan produksi pada 1 Maret, kata para analis. (FADEL SENNA/AFP)

Prospek tercapainya kesepakatan langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah AS turun hampir enam persen hingga diperdagangkan di bawah 76 dolar AS per barel.

Menurut Bessent, harga energi berpotensi turun lebih jauh apabila ratusan kapal yang saat ini tertahan di Teluk Persia dapat kembali berlayar.

“Bukan hanya energi, tetapi juga pupuk, produk olahan minyak, dan berbagai gas industri. Kita bisa melihat reli karena harga-harga komoditas tersebut turun,” katanya.

3. Negosiasi warnai konflik AS-Iran

Peta Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dunia
Peta Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dunia yang kembali menjadi pusat ketegangan akibat konflik Iran-AS. (sumber : https://unsplash.com/id/s/foto/Selat-Hormuz)

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan telah membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran untuk memberi ruang bagi proses negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz.

AS dan Iran diketahui sempat menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni mengenai pembukaan jalur pelayaran tersebut. Namun, kesepakatan itu gagal diterapkan akibat perbedaan pandangan mengenai rute yang dapat digunakan kapal saat melintasi Selat Hormuz.

Setelah itu, Iran menyerang sejumlah kapal tanker yang melintas di bawah perlindungan militer AS di sepanjang perairan Oman dan menginginkan kapal-kapal menggunakan jalur melalui perairan teritorialnya. Sebagai respons, Washington melancarkan serangkaian serangan udara dan kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More