Meski sudah bersedia membuka Selat Hormuz, Araghchi tetap memberikan syarat kepada semua kapal yang ingin melintas di perairan tersebut. Araghchi meminta semua kapal untuk masuk ke Selat Hormuz lewat jalur utara yang terletak di dekat Pulau Larak milik Iran. Untuk keluar dari Selat Hormuz, kapal-kapal diminta untuk menggunakan jalur selatan yang ada di dekat pesisir pantai Oman.
Iran Disebut Setuju Buka Lagi Selat Hormuz, Tapi Ada Syaratnya!

- Dua diplomat Iran menyebut Menlu Abbas Araghchi menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan kapal wajib masuk lewat jalur utara dekat Pulau Larak dan keluar melalui jalur selatan dekat Oman.
- Menurut diplomat tersebut, keputusan Iran membuat Presiden AS Donald Trump menahan serangan lanjutan yang sebelumnya dilaporkan menargetkan infrastruktur energi Iran bersama Israel.
- Trump mengklaim Iran meminta penahanan serangan demi kesepakatan Selat Hormuz dan program nuklir, tetapi pejabat militer Iran membantah serta menyatakan siap menghadapi serangan AS.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dikabarkan telah sepakat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kabar tersebut disampaikan oleh dua diplomat Iran yang tidak disebut namanya kepada media Israel, Channel 12, pada Minggu (2/8/2026). Diplomat itu mengatakan, keputusan pembukaan Selat Hormuz ini diambil oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi.
1. Keputusan Iran membuka Selat Hormuz membuat Donald Trump luluh

Dua diplomat tadi melanjutkan, keputusan Iran untuk membuka Selat Hormuz ini telah membuat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, luluh. Sebab, usai keputusan tersebut ditetapkan oleh Menlu Araghchi, Trump langsung memutuskan untuk menahan serangan lanjutan ke Iran.
Sebelumnya, CBS News pada Sabtu (1/8/2026) kemarin melaporkan, AS dan Israel berencana meluncurkan serangan ke infrastruktur energi yang ada di Iran. Infrastruktur energi yang dimaksud diduga merujuk pada pembangkit listrik dan kilang minyak milik Iran. CBS menjelaskan, AS sebelumnya sudah berkoordinasi dengan Israel soal rencana serangan tersebut.
2. Trump mengklaim diminta Iran untuk menahan serangan

Dalam pernyataannya, Trump mengklaim dirinya telah diminta oleh Iran dan negara Timur Tengah lainnya, termasuk Arab Saudi, untuk menahan serangan ke Iran. Setelah melakukan pertimbangan matang, Trump akhirnya memutuskan untuk menahan serangan ke Teheran dan mendesak mereka untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Kesepakatan itu berkaitan dengan pembukaan Selat Hormuz dan penghentian program pengembangan senjata nuklir Iran.
"Kami baru saja diminta oleh Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk menahan diri dari serangan apa pun karena batasan-batasan kesepakatan telah disetujui. Berdasarkan permintaan ini, saya telah setuju, demi kepentingan dunia di masa depan dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan," ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Sabtu (1/8/2026) malam waktu setempat, seperti dilansir Jerusalem Post.
3. Iran membantah klaim Trump soal serangan lanjutan

Namun, klaim Trump tadi langsung dibantah oleh Iran. Seorang pejabat militer Iran anonim kepada Tasnim News Agency mengatakan, negaranya sama sekali tidak pernah meminta Trump untuk menahan serangan. Mereka menyebut klaim itu sebagai fitnah besar.
Pasukan militer Iran menambahkan, pihaknya siap untuk menghadapi serangan lanjutan dari AS kapan pun dan di mana pun. Sebab, demi kedaulatan negara, Iran tidak akan menyerah dan tunduk terhadap serangan dari Negeri Paman Sam.






















