Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Minyak Tinggi dan Bunga AS Tekan Rupiah ke Rp17.981
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp17.981 per dolar AS setelah bergerak dalam kisaran Rp17.973 hingga Rp18.036.

  • Pasar mencermati data ekonomi AS, komentar pejabat The Fed, serta dampak kenaikan harga minyak terhadap kebijakan suku bunga.

  • Rupiah diperkirakan masih fluktuatif dan berpeluang melemah pada perdagangan Rabu dalam kisaran Rp17.980 hingga Rp18.030.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
15-16 September lalu

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun terakhir.

Selasa (29/9/2026)

Rupiah ditutup melemah 3 poin atau 0,02 persen di level Rp17.981 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.973 hingga Rp18.036.

Rabu (30/9/2026)

Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dan berpeluang melemah dalam kisaran Rp17.980 hingga Rp18.030 per dolar AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nilai tukar rupiah melemah tipis dan ditutup di level Rp17.981 per dolar AS.
  • Who?
    Rupiah, dolar AS, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, dan The Fed menjadi bagian dari perkembangan ini.
  • Where?
    Perdagangan rupiah berlangsung di pasar valuta asing, dengan acuan data Bloomberg.
  • When?
    Rupiah ditutup pada Selasa (29/9/2026) dan diperkirakan kembali bergerak pada Rabu (30/9/2026).
  • Why?
    Pasar mencermati data ekonomi AS dan memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed akibat harga minyak yang tinggi.
  • How?
    Rupiah melemah 3 poin atau 0,02 persen dari penutupan sebelumnya, setelah sempat tertekan hingga melemah 40 poin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rupiah melemah sedikit saat ditukar dengan dolar AS dan ditutup di Rp17.981. Ibrahim Assuaibi bilang orang-orang di pasar sedang menunggu data ekonomi Amerika dan melihat harga minyak. The Fed juga bisa menaikkan bunga. Untuk Rabu, rupiah diperkirakan masih naik turun dan bisa melemah lagi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pergerakan rupiah tetap tercatat dalam kisaran yang jelas sepanjang perdagangan, sehingga kondisi pasar dapat dipantau melalui data penutupan dan rentang harian. Ketersediaan data ekonomi AS, proyeksi Ibrahim Assuaibi, serta perhatian terhadap kebijakan The Fed juga memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang sedang diperhatikan pelaku pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah tipis terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (29/9/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.981 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.978 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga melemah 40 poin.

Pada awal perdagangan, rupiah dibuka di level Rp18.000 per dolar AS. Nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.973 hingga Rp18.036 per dolar AS sepanjang hari.

1. Pasar menunggu data ekonomi AS

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Salah satunya adalah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Rabu. Data tersebut menjadi salah satu acuan untuk melihat perkembangan harga barang dan jasa yang dibeli masyarakat AS.

Pasar juga akan menunggu data ISM Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Kamis. Data tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi dan aktivitas industri manufaktur AS.

Selain itu, data Nonfarm Payrolls (NFP) yang menunjukkan jumlah penambahan tenaga kerja di luar sektor pertanian akan dirilis pada Jumat.

"Selain itu, komentar dari para pejabat The Fed juga akan dipantau untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya," kata Ibrahim.

2. Harga minyak tinggi buka peluang bunga AS naik lagi

Ibrahim mengatakan kenaikan harga minyak dunia membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi karena biaya energi menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya kembali untuk mengendalikan inflasi.

"Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed," ujarnya.

Hal itu menjadi perhatian pasar setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan 15-16 September lalu. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober mencapai 70 persen.

Ekspektasi tersebut semakin kuat setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan pernyataan yang menunjukkan sikap lebih ketat terhadap kebijakan suku bunga sepanjang pekan lalu.

3. Rupiah diperkirakan kembali melemah pada Rabu

Untuk perdagangan Rabu (30/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif. Menurutnya, rupiah berpeluang kembali melemah dan bergerak dalam kisaran Rp17.980 hingga Rp18.030 per dolar AS.

Sementara itu, secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/ytd), rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 7,80 persen. Dalam setahun terakhir, rupiah bergerak di kisaran Rp16.515 hingga Rp18.209 per dolar AS.

Curated For You

Editorial Team

Related Article