Harga Sayuran di Jepang Melonjak akibat Hujan Berkepanjangan

- Hujan berkepanjangan di Jepang mengganggu pertumbuhan dan pasokan sayuran, mendorong kenaikan harga mizuna, selada, kubis, serta sawi putih di supermarket.
- Curah hujan akhir September di Shizuoka mencapai sekitar dua kali normal dengan sinar matahari berkurang; harga sayuran berdaun diperkirakan tetap tinggi, sementara sayuran akar stabil.
- Pasokan sayuran hijau dan kualitas produk di Tokyo menurun akibat hujan di prefektur sekitar; ladang ubi Chiba terendam, mengancam penjualan ubi panggang Yaosei.
Jakarta, IDN Times - Harga sayuran melonjak di seluruh supermarket di Jepang setelah hujan berkepanjangan melanda berbagai wilayah negara tersebut. Kondisi itu mengganggu pertumbuhan sayuran di beberapa daerah penghasil sehingga pasokan menjadi sulit diperoleh.
Pada Kamis (1/10/2026), supermarket Tagoju Nishinakahara di Kota Shizuoka menjual mizuna seharga 376 yen (setara Rp42.759), selada dan kubis masing-masing 322 yen (setara Rp36.618) per bonggol. Sementara itu, seperempat bagian sawi putih dibanderol harga 290 yen (setara Rp32.979)
1. Hujan mengganggu pasokan sayuran

potret ladang kubis di Jepang (commons.wikimedia.org/Asturio Cantabrio) Manajer Tagoju Nishinakahara, Katsumi Masuda, mengatakan harga sayuran berdaun masih stabil pada Juli dan Agustus. Namun, toko mulai menaikkan harga sejak sekitar pertengahan September karena hujan terus turun di Shizuoka dan berbagai wilayah Jepang.
"Sayuran adalah sesuatu yang saya konsumsi setiap hari, karena itu jadi masalah ketika harganya mahal," kata seorang perempuan setempat berusia 60-an yang sedang memegang selada seperti dikutip The Mainichi.
Menurut Kantor Meteorologi Lokal Shizuoka, akhir September di Prefektur Shizuoka ditandai hujan yang sering turun akibat front hujan musim gugur dan udara lembap. Beberapa wilayah juga mengalami hujan lebat dengan total curah hujan sekitar dua kali lipat dari kondisi normal, sementara durasi penyinaran matahari hanya sekitar dua pertiga dari normal.
2. Harga sayuran berdaun diperkirakan tetap tinggi

potret rak sayuran di supermarket Jepang (commons.wikimedia.org/Dom Pates) Harga tinggi diperkirakan berlanjut mulai Oktober dan seterusnya. Naun, harga sayuran akar seperti wortel, bawang bombai, dan kentang tidak mengalami kenaikan karena hasil panennya melimpah.
"Harga sayuran akar, sayuran potong, dan sayuran beku stabil, jadi saya harap masyarakat akan memanfaatkannya dengan baik," ujar Masuda.
Sementara di Yaosei, sebuah toko sayur di Distrik Ota, Tokyo, pengiriman sayuran juga mengalami penurunan, terutama sayuran berdaun hijau, karena curah hujan yang terus menerus memengaruhi pertanian di prefektur tetangga.
Sebagian besar produk di toko tersebut berasal dari petani di Chiba, Saitama, dan prefektur terdekat lainnya. Pasokan kubis, komatsuna, mentimun, dan paprika hijau telah menurun, sedangkan kualitas beberapa sayuran turut memburuk.
3. Hujan mengancam penjualan ubi panggang

potret hasil panen ubi jalar (commons.wikimedia.org/EDAWG117.JP) Gangguan pasokan juga berdampak pada ubi jalar panggang yang menjadi salah satu produk musiman andalan Yaosei. Hujan berkepanjangan di Prefektur Chiba menyebabkan ladang ubi jalar terendam sehingga toko kesulitan memperoleh pasokan.
"Kami biasanya selalu menaruh mesin pemanggang di luar toko, tetapi semua ubi jalar terendam akibat hujan berkepanjangan di Chiba. Dalam kondisi terburuk, kami mungkin tidak dapat menjualnya lagi hingga akhir tahun ini," tutur Shingo Koshi dari Yaosei seperti dikutip News On Japan.
Menurut Koshi, lebih dari selusin pelanggan terpaksa ditolak pada hari sebelumnya karena Yaosei tidak memiliki ubi jalar panggang. Ia memperkirakan penjualan dapat turun 30–40 persen jika produk tersebut tetap tidak tersedia.
Selain dampak langsung pada tokonya, Koshi juga menyatakan keprihatinan terhadap para petani yang tanamannya rusak akibat curah hujan yang terus berlanjut.
"Saya rasa para petani yang menanam tanaman ini tidak dapat melihat apa yang akan terjadi pada masa depan, jadi mereka adalah kekhawatiran terbesar saya," ujarnya. "Saya hanya berharap kita segera mendapatkan hari-hari yang cerah."
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Mail vs Tuan Krab, Mana Gaya Pengusaha yang Cocok dengan Kepribadianmu?](https://image.idntimes.com/post/20250802/krab33_0397588c-643d-4f3f-9a0f-b058af64ff91.jpeg)















