Pariwisata Pulih, Harga Tanah di Jepang Naik 5 Tahun Beruntun

- Harga tanah Jepang naik 1,5 persen per Juli 2026, menandai kenaikan lima tahun beruntun, didorong pemulihan pariwisata, pembukaan ritel-hotel, dan permintaan hunian.
- Kenaikan terkonsentrasi di Tokyo, Osaka, dan Nagoya yang tumbuh 4,4 persen, sementara wilayah lain hanya 0,4 persen; mahalnya tanah, material, dan upah menahan transaksi.
- Wisatawan asing mengerek harga di kawasan resor: tanah komersial Hakuba naik 35,6 persen dan residensial Furano 32 persen, seiring meningkatnya investasi asing di Tokyo dan Hokkaido.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang merilis data nilai properti tahunan yang menunjukkan tren positif pada Selasa (15/9/2026). Penguatan harga lahan ini dipicu oleh peningkatan pariwisata serta tingginya permintaan hunian.
Kondisi pasar properti tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi domestik Jepang yang berangsur pulih. Data ini sekaligus menjadi indikator strategis bagi para pembuat kebijakan moneter maupun investor.
1. Kenaikan harga tanah dipicu lonjakan sektor komersial
Rata-rata harga tanah di Jepang tumbuh 1,5 persen secara tahunan per 1 Juli 2026. Pertumbuhan lima tahun berturut-turut ini menyamai laju tertinggi sejak pecahnya gelembung aset pada awal 1990-an.
Peningkatan nilai lahan ditopang oleh segmen komersial yang melonjak 2,9 persen akibat penambahan gerai ritel dan hotel baru. Sementara itu, harga tanah perumahan tumbuh 1,0 persen berkat stabilnya minat beli hunian pribadi.
“Seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut, harga-harga secara umum mempertahankan tren kenaikannya,” kata Pejabat Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang, dilansir Channel News Asia.
2. Ketimpangan pertumbuhan harga di kota metropolitan dan daerah
Data resmi menunjukkan adanya ketimpangan pemulihan properti antara kawasan metropolitan dan daerah regional. Tiga kawasan metropolitan terbesar, yakni Tokyo, Osaka, dan Nagoya, membukukan pertumbuhan 4,4 persen, sedangkan wilayah lainnya cenderung stagnan di angka 0,4 persen.
Laju kenaikan harga di empat kota regional utama, yaitu Sapporo, Sendai, Hiroshima, dan Fukuoka, melambat menjadi 4,1 persen. Perlambatan ini membuat pertumbuhannya berada di bawah tiga kawasan metropolitan utama untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir.
Tingginya harga tanah serta lonjakan biaya material dan upah membuat calon pembeli menahan transaksi.
3. Wisatawan asing dongkrak nilai kawasan resor
Lonjakan jumlah wisatawan mancanegara memberikan dorongan ekonomi yang signifikan bagi destinasi wisata musim dingin. Wilayah Hakuba di Prefektur Nagano mencatatkan kenaikan harga tanah komersial tertinggi sebesar 35,6 persen, sedangkan Furano di Prefektur Hokkaido memimpin kenaikan harga tanah residensial sebesar 32,0 persen.
Tren kenaikan harga ini mencakup 34 prefektur untuk tanah komersial dan 20 prefektur untuk tanah residensial.
“Permintaan investasi dari pihak asing semakin meningkat untuk kondominium di pusat Tokyo dan area resor di Hokkaido,” kata Pejabat Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang.
Gedung Meidi-ya Ginza di Tokyo mempertahankan status lahan termahal selama 21 tahun berturut-turut dengan nilai 52,5 juta yen (Rp5,97 miliar) per meter persegi. Untuk kategori hunian, distrik Akasaka di Tokyo memimpin selama delapan tahun beruntun dengan nilai 7,5 juta yen (Rp853,67 juta) per meter persegi.





















