Cegah Harga Anjlok, Pemerintah Jepang Beli Kembali 210 Ribu Ton Beras

- Pemerintah Jepang akan membeli kembali 210 ribu ton beras cadangan yang dilepas ke pasar, menyusul pulihnya pasokan nasional setelah kelangkaan tahun lalu.
- Kebijakan ini ditujukan mencegah harga beras di tingkat petani jatuh akibat surplus pasokan dan potensi tambahan hasil panen musim gugur.
- Setelah melepas 590 ribu ton pada 2025, stok darurat tinggal 320 ribu ton; pembelian panen 2025 dan 2026 ditargetkan menaikkannya menjadi sekitar 740 ribu ton.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang memutuskan untuk membeli kembali 210 ribu ton beras pasokan darurat yang sebelumnya dilepas ke pasar. Langkah ini diambil seiring membaiknya kondisi pasokan beras nasional setelah sempat mengalami kelangkaan pada tahun lalu.
Menteri Pertanian Jepang Norikazu Suzuki mengumumkan kebijakan tersebut pada Selasa (1/9/2026). Dilansir Japan Today, kebijakan ini menjadi langkah perdana pemerintah dalam melakukan pembelian kembali beras cadangan demi menjaga ketahanan pangan dan kestabilan harga di pasaran.
1. Kekhawatiran penurunan harga di tingkat petani

ilustrasi petani (unsplash.com/Samuli Jokinen) Pemerintah Jepang meluncurkan kebijakan intervensi ini guna mencegah harga beras anjlok lebih dalam di tingkat petani akibat melimpahnya pasokan. Berdasarkan laporan The Japan Times, harga beras ukuran 5 kilogram yang sebelumnya berada di kisaran 4.000 yen atau setara Rp443.197 (kurs Rp110,79) mulai turun ke rentang 3.000 hingga 3.500 yen atau setara Rp332.389 hingga Rp387.765 .
Kondisi melimpahnya beras di pasaran memicu kekhawatiran di kalangan petani lokal. Para petani khawatir lonjakan pasokan hasil panen musim gugur mendatang dapat menyebabkan harga beras anjlok secara drastis.
Guna meredam kekhawatiran tersebut, Kementerian Pertanian Jepang memutuskan menyerap kembali beras hasil panen 2025. "Kami telah mengonfirmasi bahwa pasokan akan lebih dari yang dibutuhkan," kata Suzuki dalam konferensi pers.
2. Kondisi cadangan beras darurat yang menipis

ilustrasi beras (pexels.com/MART PRODUCTION) Pada 2025, Pemerintah Jepang merilis sebanyak 590 ribu ton beras dari stok cadangan darurat ke pasaran untuk menekan harga beras yang saat itu melambung tinggi. Kebijakan darurat tersebut berdampak signifikan terhadap penipisan cadangan beras nasional.
Stok cadangan beras darurat pemerintah merosot tajam hingga tersisa 320 ribu ton. Jumlah ini berada jauh di bawah batas ideal yang ditetapkan sebesar 1 juta ton.
Melalui skenario pembelian kembali 210 ribu ton dari panen 2025 serta rencana pembelian 210 ribu ton dari panen tahun ini (2026), stok cadangan beras darurat Jepang diperkirakan akan meningkat dari 320 ribu ton menjadi sekitar 740 ribu ton. Pemerintah Jepang juga memprioritaskan pemulihan stok ini demi mengantisipasi ancaman ketahanan pangan di masa depan.
3. Proses pembelian kembali dan strategi pemerintah

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (内閣広報室|Cabinet Public Affairs Office, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Proses penyerapan beras oleh pemerintah akan dilakukan tanpa melalui mekanisme lelang. Pemerintah menargetkan pembelian beras dari sisa hasil panen tahun lalu karena ketersediaannya dinilai mencukupi.
Selain rencana penyerapan panen 2025 tersebut, pemerintah sudah merencanakan pembelian 210 ribu ton beras tambahan dari hasil panen tahun 2026 ini. Suzuki mengisyaratkan bahwa volume beras yang dibeli kembali masih bisa bertambah sesuai dengan perkembangan pasokan di lapangan.
Langkah menjaga stabilitas harga pangan ini dilakukan di tengah upaya pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi menekan beban biaya hidup masyarakat akibat kenaikan harga barang pokok lainnya. Meski demikian, belum bisa dipastikan seberapa besar dampak pembelian kembali ini terhadap pergerakan harga beras di tingkat konsumen dalam jangka panjang.



















