Jakarta, IDN Times – Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menghitung peralihan dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai (BESS) berpotensi menurunkan biaya listrik secara signifikan di Indonesia, terutama di wilayah terpencil.
Research & Engagement Lead IEEFA, Mutya Yustika menjelaskan, ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan PLTS sebesar 100 gigawatt (GW), yang dimulai dengan mengonversi PLTD menjadi PLTS sebesar 13 GW pada tahap awal, patut didukung. Langkah ini dinilai dapat menekan biaya listrik sekaligus menghasilkan efisiensi anggaran negara hingga 4 miliar dolar AS per tahun.
Menurut Mutya, kombinasi PLTS dan BESS mampu menghasilkan listrik dengan biaya hanya 0,08–0,20 dolar AS per kilowatt hour (kWh). Biaya ini jauh lebih rendah dibanding PLTD, yang saat ini bisa menembus 0,29 dolar AS–0,40 dolar AS/kWh, bahkan melonjak hingga 0,55 dolar AS–0,65 dolar AS /kWh pada 2023.
“Peralihan ke PLTS akan mengubah struktur biaya elektrifikasi di pulau-pulau terpencil. Alih-alih mengimpor bahan bakar dengan logistik yang kompleks, Indonesia bisa memanfaatkan sinar matahari yang melimpah, menyimpannya secara lokal, dan mendistribusikannya secara andal selama lebih dari satu dekade,” ujar Mutya dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).
Ketergantungan pada diesel untuk elektrifikasi wilayah terpencil telah membebani keuangan negara, akibat tingginya biaya impor bahan bakar dan fluktuasi harga minyak global. Lonjakan biaya PLTD misalnya, dari Rp4.746/kWh (0,37 dolar AS) pada 2020 menjadi Rp8.748/kWh (0,57 dolar AS) pada 2023, memperlihatkan hal tersebut.
Konflik di Timur Tengah semakin menyoroti kerentanan Indonesia sebagai pengimpor minyak, menegaskan bahwa ketahanan energi sulit tercapai selama masih bergantung pada pasar bahan bakar global.
