Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Imbas Perang Iran vs AS, Harga Plastik Naik 50-100 Persen
Ilustrasi kantong plastik (Inin nastain/IDN Times)
  • Harga berbagai jenis plastik di Indonesia melonjak 50–100 persen akibat terganggunya impor bahan baku dari Timur Tengah karena konflik Iran dan Amerika Serikat.
  • IKAPPI menilai kenaikan harga ini menunjukkan ketergantungan tinggi pada impor bahan baku plastik dan mendorong pemerintah mencari pasokan alternatif di luar kawasan Timur Tengah.
  • Kenaikan harga juga dianggap sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik, dengan mendorong penggunaan tas belanja anyaman serta optimalisasi daur ulang limbah plastik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
pekan kedua bulan puasa

Kenaikan harga berbagai jenis plastik mulai terjadi sejak pekan kedua bulan puasa, dengan variasi kenaikan setiap minggu antara 500 hingga 700 perak.

1 April 2026

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui kenaikan harga plastik akibat dampak perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut bahan baku nafta yang diimpor dari Timur Tengah menjadi penyebab utama dan pemerintah sedang mencari alternatif pasokan dari Afrika, India, dan Amerika.

6 April 2026

Sekretaris Jenderal IKAPPI Reynaldi Sarijowan menjelaskan lonjakan harga plastik mencapai 50–100 persen akibat gangguan impor bahan baku. Ia mendesak pemerintah mengganti pasokan dari luar Timur Tengah dan melihat momentum ini sebagai peluang untuk mengurangi penggunaan plastik di dalam negeri.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga berbagai jenis produk plastik di Indonesia naik antara 50 hingga 100 persen akibat terganggunya impor bahan baku dari Timur Tengah.
  • Who?
    Kenaikan harga disampaikan oleh Sekjen IKAPPI Reynaldi Sarijowan dan diakui oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di pasar-pasar tradisional dan industri plastik di Indonesia, dengan pernyataan resmi disampaikan di Jakarta.
  • When?
    Kenaikan mulai terjadi sejak pekan kedua bulan puasa dan dikonfirmasi pada awal April 2026.
  • Why?
    Penyebab utama adalah gangguan pasokan bahan baku plastik akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat yang memengaruhi impor dari Timur Tengah.
  • How?
    Kenaikan harga terjadi bertahap setiap pekan, misalnya plastik kresek naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak, sementara pemerintah mencari alternatif pemasok baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada perang antara Iran dan Amerika, terus bahan buat plastik jadi susah datang ke Indonesia. Kata Pak Reynaldi, harga plastik naik banyak sekali, ada yang jadi dua kali lipat. Plastik kresek juga ikut mahal. Pemerintah lagi cari tempat lain buat beli bahan plastik supaya gak tergantung dari Timur Tengah. Sekarang orang diajak pakai tas anyaman biar gak boros plastik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kenaikan harga plastik yang dipicu gangguan impor akibat konflik internasional justru membuka ruang bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industrinya. Upaya pemerintah mencari sumber bahan baku dari negara lain serta dorongan IKAPPI agar masyarakat mengurangi penggunaan plastik menunjukkan adanya kesadaran kolektif menuju sistem pasokan yang lebih beragam dan konsumsi yang lebih berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Harga berbagai jenis produk plastik tengah mengalami kenaikan imbas impor bahan baku yang terganggu akibat konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengatakan, kenaikan harga plastik sejatinya telah terjadi sejak pekan kedua bulan puasa.

"Setiap pekannya sejak pekan kedua puasa itu bervariasi, ada yang 500 perak, ada yang 700 perak dan melihat situasi hari ini memang hampir seluruh jenis plastik yang PE dan PP ini mengalami lonjakan mencapai 50 persen, bahkan ada yang 100 persen," kata Reynaldi kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).

1. Ketergantungan impor bahan baku

Biji plastik impor (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Reynaldi mengatakan, kenaikan harga plastik kresek terjadi dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak. Lalu, plastik jenis lainnya naik dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak.

Kenaikan terjadi lantaran industri plastik Indonesia masih sangat bergantung dengan bahan baku yang impor dari negara lain.

Oleh karena itu, Reynaldi mendesak pemerintah agar tidak membiarkan kondisi tersebut terjadi secara berkepanjangan. Caranya adalah dengan mulai mengganti pasokan bahan baku dari luar Timur Tengah.

"Perlu mengganti pasokan di luar dari Timur Tengah, pasokan-pasokan importasinya karena kita masih ketergantungan impor bahan baku plastik. Tentu ini akan berpengaruh sekali dan bahkan bisa multiplier effect-nya luar biasa tidak hanya terjadi di komunitas pangan saja, kosmetik, otomotif ini juga akan berpengaruh," kata dia.

2. Momentum pengurangan penggunaan plastik

Ilustrasi kantong plastik (Inin nastain/IDN Times)

Di sisi lain, IKAPPI melihat kenaikan harga plastik ini bisa jadi momentum untuk mengurangi penggunaan plastik di dalam negeri, baik dari sisi pembeli maupun penjual.

"Kalau di pasar tradisional kami sudah lama mengkampanyekan untuk menggunakan tas belanjaan anyaman agar mengurangi penggunaan plastik dan bahkan perusahaan-perusahaan plastik untuk daur ulang limbahnya juga harus dioptimalkan," kata Reynaldi.

3. Kenaikan harga plastik diakui Mendag

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso melakukan peninjauan di Pasar Gambir Kecamatan Tebingtinggi, Kota Tebingtinggi, Jumat (27/2/2026).

Sebelumya, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengatakan, naiknya harga plastik di Indonesia akibat dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Salah satu bahan baku pembuatan plastik berasal dari Timur Tengah.

"Beberapa hari ini kan memang banyak atau keluhan masyarakat harga plastik naik. Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah," ujar Budi di kantor KSP, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Budi menyampaikan, pemerintah sedang mencari alternatif negara produsen nafta sehingga Indonesia tidak hanya impor dari Timur Tengah.

"Apa yang demikian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya Afrika, India dan Amerika," kata dia.

Editorial Team