Industri Tekstil Tumbuh 5,6 Persen, Ini Tantangan yang Masih Dihadapi

- Industri tekstil dan produk tekstil berkontribusi 0,97 persen terhadap PDB, menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, serta mencatat nilai ekspor sekitar 12 miliar dolar AS.
- Industri tekstil tumbuh 5,6 persen dan barang kulit serta alas kaki 8,25 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional; utilisasi pabrik tekstil masih sekitar 75 persen.
- Pemerintah membahas harmonisasi tarif dan bea masuk antidumping bersama Danantara, sementara sektor hulu-tengah defisit perdagangan dan garmen mencatat surplus.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah menilai industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih menjadi salah satu sektor strategis karena berkontribusi terhadap perekonomian sekaligus menyerap banyak tenaga kerja.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, industri TPT berkontribusi sekitar 0,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja. Sementara itu, nilai ekspor sektor tersebut mencapai sekitar 12 miliar dolar AS.
"Ini menjadi salah satu sektor padat karya yang strategis," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Selasa (22/9/2026).
Menurut Airlangga, industri TPT juga mencatat pertumbuhan di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Industri tekstil tumbuh 5,6 persen, sedangkan industri barang kulit dan alas kaki tumbuh 8,25 persen. Meski mencatat pertumbuhan positif, pemerintah masih melihat sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan, salah satunya terkait harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir.
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan pengenaan bea masuk antidumping yang dikeluhkan sejumlah pelaku industri garmen. Airlangga mengatakan, pemerintah tengah membahas persoalan tersebut bersama Danantara.
Di sisi lain, tingkat utilisasi pabrik tekstil saat ini masih sekitar 75 persen. Menurut Airlangga, kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang bagi industri untuk meningkatkan produksi dan melakukan ekspansi.
Pemerintah juga melihat adanya perbedaan kondisi perdagangan antara industri tekstil dari sektor hulu hingga antara dengan industri pakaian jadi.
Airlangga menyebut, pada tahun lalu, industri tekstil dari sisi bahan baku masih mencatat defisit perdagangan. Nilai impor mencapai sekitar 8,4 miliar dolar AS, sedangkan ekspornya hanya sekitar 3,1 miliar dolar AS.
Sebaliknya, industri pakaian jadi mencatat surplus perdagangan. Nilai ekspornya mencapai sekitar 8,7 miliar dolar AS, sementara impornya sekitar 690 juta dolar AS.
"Jadi ada dua. Dari segi industri hulu sampai tengah kita net importer, tetapi kalau dari segi garmen kita net exporter," kata Airlangga.

















