Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inggris Siapkan Pembatasan Ekonomi Permukiman Israel di Tepi Barat
Bendera Inggris (magnific.com/wirestock)
  • Inggris bersiap mengumumkan pembatasan ekonomi terhadap aktivitas permukiman Israel di Tepi Barat, menjadi teguran diplomatik signifikan atas ekspansi teritorial Israel.
  • Paket kebijakan meliputi larangan impor komoditas permukiman, seperti produk pertanian, plastik, dan wine, serta pertimbangan sanksi bagi perusahaan yang terlibat pembangunan.
  • Israel mengecam rencana tersebut dan mempertimbangkan langkah balasan diplomatik, termasuk pembatasan akses perwakilan Inggris di pusat dukungan kemanusiaan Gaza.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Inggris bersiap mengumumkan pembatasan ekonomi terhadap aktivitas permukiman Israel di Tepi Barat pada Selasa (8/9/2026). Kebijakan ini menjadi teguran diplomatik paling signifikan dari London atas kebijakan ekspansi teritorial Israel di wilayah tersebut.

Rencana pembatasan ini mengemuka di tengah tingginya sorotan global terhadap pendudukan wilayah pascakonflik di Jalur Gaza. Langkah tegas pemerintah Inggris ini diperkirakan berpotensi memicu kebijakan serupa dari negara-negara Eropa lainnya.

1. Larangan perdagangan komoditas dan sanksi perusahaan

ilustrasi ekspor (unsplash.com/John Simmons)

Paket kebijakan ekonomi Inggris mencakup larangan perdagangan komoditas yang diproduksi di permukiman Tepi Barat, seperti hasil pertanian, plastik, dan minuman anggur (wine). Selain itu, London juga tengah mempertimbangkan sanksi khusus bagi perusahaan yang terbukti terlibat dalam pembangunan permukiman tersebut.

Meski nilai transaksinya relatif kecil dibandingkan dengan total perdagangan kedua negara, kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memutus rantai pasok ekonomi permukiman ilegal. Pemerintah Inggris menegaskan bahwa langkah ini merupakan wujud komitmen mereka dalam menjaga prinsip-prinsip hukum internasional.

"Kami perlu meninjau ulang hubungan ekonomi dengan wilayah pendudukan dan tidak ingin perusahaan Inggris mendanai permukiman baru," ujar Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband.

2. Pergeseran sanksi dari individu ke ranah sistemik

ilustrasi bendera Inggris (unsplash.com/Michael Starkie

Kebijakan baru ini menandai pergeseran diplomasi luar negeri Inggris, yang kini lebih menyasar struktur ekonomi secara luas ketimbang sekadar menjatuhkan sanksi pada individu. Pengetatan aturan ini dipicu oleh proyek pembangunan 1.234 unit hunian baru oleh Israel di kawasan strategis dekat Yerusalem.

Bersama Prancis, Jerman, dan Italia, Inggris secara resmi mendesak Israel untuk membatalkan ekspansi tersebut karena dianggap memutus konektivitas wilayah di Tepi Barat. Keempat negara Eropa ini juga memperingatkan dunia usaha agar tidak terlibat dalam proyek konstruksi yang melanggar hukum internasional.

"Pemerintah sedang memperluas jangkauan sanksi dari tingkat individu menuju pengawasan terhadap sistem," kata mantan Menteri Negara Urusan Timur Tengah Inggris, Lord Tariq Ahmad, dikutip dari The New York Times.

3. Kemarahan pejabat Israel dan ancaman balasan

ilustrasi bendera Israel (pexels.com/Thắng-Nhật Trần)

Rencana pembatasan dagang oleh Inggris sontak memicu kemarahan para pejabat kabinet Israel, yang langsung mendesak adanya tindakan balasan diplomatik. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, bahkan menyerukan balasan geopolitik dengan mengusulkan agar pemerintahnya mengakui kedaulatan Argentina atas Kepulauan Falkland (Malvinas).

Selain itu, Tel Aviv juga mempertimbangkan opsi untuk menutup akses bagi perwakilan Inggris di pusat dukungan kemanusiaan Gaza. Ketegangan terbuka ini kian memperlihatkan dalamnya isolasi internasional yang tengah dihadapi Israel, sekaligus merenggangnya hubungan negara tersebut dengan para sekutunya.

"Duta besar Inggris harus diusir karena kami tidak akan tinggal diam terhadap pemerintah yang merugikan kami," tegas Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article